Kenapa Kamu Nggak Akan Pernah Bisa "Menghapus" Perasaan Suka ke Seseorang?

Indra Zakaria • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 07:15 WIB
ilustrasi pria dan wanita.
ilustrasi pria dan wanita.

 
PROKAL.CO-  Pertanyaan "Gimana cara ngilangin perasaan suka atau sayang ke seseorang?" mungkin jadi salah satu keyword paling sering diketik orang-orang yang lagi patah hati. Tapi kalau kamu berharap ada trik ajaib buat bikin perasaan itu hilang dalam semalam, siap-siap kecewa.

Fakta pahitnya secara neuroscience: Nggak bisa.

Otak manusia diciptakan sangat kompleks, tapi sayangnya nggak dilengkapi dengan tombol delete. Sekali sirkuit memori dan emosi terbentuk, informasi itu bakal tetap ada di sana. Lantas, kenapa ada orang yang bisa move on?

Secara psikologi kognitif, perasaan suka nggak benar-benar "dihapus", melainkan luntur atau digantikan melalui dua jalur utama ini:

1. "Ilfil Maksimal" (Cognitive Disruption)

Rasa suka atau sayang yang membandel sering kali bertahan bukan karena sosok aslinya, melainkan karena otak kamu terus menyimpan idealized version—versi sempurna yang sudah diwarnai ekspektasi kamu sendiri. Proses "ilfil" (hilang feeling) terjadi ketika ada disrupsi kognitif. Hal ini bisa dipicu oleh dua hal:

Habituation: Kamu mulai jenuh dan lelah melihat sifat buruknya yang berulang.

Benturan Core Values: Ada nilai mendasar (prinsip hidup, moral, atau komitmen) yang ditabrak secara fatal.

Ketika momen ini terjadi, ilusi sempurna itu runtuh (cognitive dissonance). Hasilnya? Sirkuit dopamin di otak yang tadinya bikin kamu "ketagihan" sama dia bakal langsung drop ke titik nol secara alami.

2. Penerimaan Radikal (Radical Acceptance)

Pernah coba menahan diri buat nggak mikirin sesuatu, tapi justru malah makin kepikiran? Dalam psikologi, ini disebut Rebound Effect. Makin keras kamu berjuang memaksa diri untuk melupakan, otak kamu justru memproses orang itu sebagai "prioritas utama" untuk dipikirkan.

Di sinilah peran Radical Acceptance atau penerimaan radikal. Radical Acceptance artinya berhenti melawan kenyataan. Kamu mengakui bahwa kamu masih sayang atau terluka, tanpa perlu mendramatisasi atau meratapinya.

Saat kamu membiarkan rasa sakit itu ada tanpa dilawan, respons dari Amygdala (pusat pemrosesan emosi di otak) perlahan-lahan akan meluruh. Lama-kelamaan, emosi yang intens itu berubah jadi netral.

Kenapa Banyak Orang Terjebak di "Limboland"?

Masalah utamanya, mayoritas orang terjebak di tengah-tengah. Mau ilfil belum bisa—karena belum sampai titik jenuh atau belum melihat tabiat aslinya—tapi mau acceptance juga menolak, karena diam-diam masih menaruh harapan. Ingat satu prinsip penting: You don't erase the feeling, you just outgrow it. Kamu nggak menghapus perasaan itu, kamu cuma tumbuh melampauinya.

Jika kamu belum bisa ilfil dengan perilakunya, mulailah melatih Radical Acceptance. Biarkan rasa itu lewat seperti angin lalu tanpa perlu kamu lawan. Sebab pada akhirnya, kedamaian datang bukan saat kamu berhasil melupakan sepenuhnya, melainkan saat kamu sudah tidak peduli lagi. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
cinta buta