PROKAL.CO- Di dunia nyata, salah satu kenikmatan menjadi orang dewasa adalah kebebasan dalam memilih teman dan menjauhi orang-orang yang tidak disukai. Namun, aturan main tersebut mendadak gugur ketika sosok yang sangat dibenci justru adalah atasan sendiri di tempat kerja. Tidak hanya sulit dihindari, seorang bawahan bahkan dituntut untuk terus memberikan impresi terbaik demi kelangsungan kariernya.
Menghadapi atasan yang menyebalkan memang menjadi tantangan psikologis yang cukup berat. Meski demikian, ada sejumlah strategi efektif yang dapat diterapkan agar tetap produktif, menjaga kesehatan mental, dan selamat dari potensi konflik fatal.
Menahan Diri dan Memahami Peta Kekuatan
Meskipun komunikasi terbuka sering digadang-gadang sebagai kunci hubungan kerja yang sehat, situasi menjadi berbeda jika berhadapan dengan atasan yang tidak disukai. Mengungkapkan ketidaksetujuan secara blak-blakan sering kali dipersepsikan sebagai bentuk ketidakhormatan.
Di lingkungan kerja, hirarki tetap memegang peranan kunci. Sekalipun perusahaan mengusung konsep struktur organisasi yang datar (flat organization), atasan tetaplah pihak yang memegang kendali atas penugasan proyek penting, Penilaian Kinerja, hingga bonus tahunan. Menyampaikan pendapat pribadi yang berisiko memicu kemarahan atasan hanya akan merugikan masa depan karier sendiri. Prinsip sederhananya adalah: jika tidak bisa menyampaikan hal yang konstruktif atau aman, lebih baik menahan diri.
Saluran Pelampiasan Emosi yang Positif
Menahan emosi dan memendam kekesalan selama delapan jam kerja setiap hari tentu membutuhkan energi yang sangat besar. Jika tidak dikelola dengan baik, emosi terpendam ini berisiko memicu stres fisik seperti ketegangan otot, hingga luapan frustrasi yang salah sasaran kepada rekan kerja lain.
Untuk mencegahnya, diperlukan saluran pelepasan stres (stress release) yang efektif di luar jam kantor. Olahraga berintensitas tinggi seperti kickboxing, berlari, atau latihan fisik yang menguras keringat terbukti ampuh membakar sisa-sisa emosi negatif. Melampiaskan kekesalan pada aktivitas fisik membuat pikiran kembali jernih saat harus kembali berhadapan dengan atasan di keesokan hari.
Menerapkan Sikap Diplomat dalam Berkomunikasi
Ada kalanya konflik atau perbedaan pendapat dengan atasan tidak bisa dihindari. Dalam situasi kritis seperti ini, pendekatan terbaik adalah dengan memposisikan diri layaknya seorang diplomat internasional.
Seorang diplomat dituntut untuk tetap tenang, terukur, dan memilih kata-kata secara sangat hati-hati demi mencapai kesepakatan, tanpa memedulikan preferensi pribadi terhadap lawan bicaranya. Mengubah interaksi yang penuh tekanan menjadi sebuah "permainan diplomasi" membantu mengikis efek emosional dari perlakuan atasan.
Pada akhirnya, bekerja dengan orang yang kurang menyenangkan adalah bagian dari dinamika profesional. Dengan menguasai kontrol diri, memiliki saluran emosi yang sehat, serta mengedepankan diplomasi, seorang karyawan tidak hanya berhasil bertahan hidup di tempat kerja, tetapi juga tetap dikenal sebagai profesional yang matang dan berkelas. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co