Fenomena 'Terjebak di Kantor Toxic': Ketika Karyawan Benci Atasan tapi Tak Bisa Mana-Mana

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 07:05 WIB
Ilustrasi kerja kantoran.
Ilustrasi kerja kantoran.
PROKAL.CO- Pergeseran lanskap ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah peta dunia kerja secara drastis. Jika sebelumnya fenomena The Great Resignation membuat gelombang pengunduran diri massal terjadi di mana-mana, kini gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pembekuan rekrutmen (hiring freeze) membuat mobilitas tenaga kerja menjadi stagnan.

Namun, fenomena ini melahirkan masalah baru: jutaan pekerja yang sebenarnya ingin melarikan diri dari lingkungan kerja tidak sehat kini merasa 'terjebak'. Mereka terpaksa bertahan di tengah lingkungan kerja yang merusak kesehatan mental demi menjaga kelangsungan finansial.

Penelitian dari MIT Sloan mengungkapkan bahwa budaya kerja beracun (toxic workplace culture) merupakan pemicu utama kehancuran retensi karyawan—bahkan 10 kali lebih kuat memprediksi pengunduran diri dibandingkan faktor kompensasi atau gaji. Ketika peluang pindah kerja menyempit, budaya toxic yang sama tidak lagi memicu pengunduran diri, melainkan berubah menjadi penurunan keterikatan (disengagement) dan depresi massal di tempat kerja. Data Gallup mencatat stres harian pekerja global berada pada tingkat yang mengkhawatirkan, di mana mayoritas dipicu oleh kepemimpinan buruk.

Tiga Profil Atasan 'Beracun' di Lingkungan Kerja

Peran manajer atau atasan menyumbang hingga 70 persen terhadap tingkat kebahagiaan dan produktivitas tim. Berdasarkan riset psikologi organisasi, terdapat tiga pola atau karakter atasan beracun yang paling sering merusak iklim kerja:

Tipe Hantu (The Ghost)

Atasan jenis ini secara fisik atau emosional selalu absen saat tim membutuhkan arahan dan dukungan. Meskipun gaya pimpinannya terkesan santai dan tidak banyak mencampuri, mereka tidak pernah memikirkan pengembangan karier bawahan maupun menjadi pelindung tim saat situasi krisis. Dalam psikologi, tipe ini merepresentasikan dorongan untuk menarik diri secara pasif.

Tipe Anak-Anak (The Child)

Atasan tipe ini sangat minim kecerdasan emosional dan keterampilan kerja, namun haus akan pujian. Mereka cenderung membuat kubu-kubu (cliques) di kantor, memelihara anak emas, suka mengklaim hasil kerja tim sebagai prestasinya sendiri, dan melarikan diri dari tanggung jawab berat saat target pekerjaan menumpuk.

Tipe Tirani (The Tyrant)

Merupakan tipe paling berbahaya yang mengandalkan intimidasi, micromanagement, hingga perundungan verbal maupun psikologis. Atasan tipe ini menciptakan rasa takut, sering memanfaatkan karyawan yang berkarakter halus, serta memicu trauma dan masalah kesehatan mental yang serius bagi bawahannya.

Mendengar Suara Pekerja dan Memutus Rantai Intimidasi

Banyak kepemimpinan beracun lahir karena seseorang dipromosikan menjadi manajer hanya berdasarkan pencapaian teknis individu, tanpa pernah dibekali pelatihan mengelola manusia (people management). Akibatnya, mereka mengulang pola kepemimpinan salah yang pernah mereka terima sebelumnya.

Untuk menghentikan siklus merusak ini, divisi sumber daya manusia (HR) dan manajemen tingkat atas diimbau tidak hanya berfokus pada target bisnis semata, tetapi juga aktif mengukur kesehatan psikologis tim. Langkah ini dapat dilakukan melalui survei kepuasan berkala secara anonim, pemantauan tingkat perputaran karyawan (turnover) antar unit kerja, hingga wawancara keluar (exit interview).

Ketika atasan bertipe beracun teridentifikasi, perusahaan memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan pelatihan emosional dan konseling. Namun, jika upaya pembinaan tidak membuahkan perubahan sikap, perusahaan harus berani mengambil keputusan tegas demi melindungi kesejahteraan dan keselamatan mental mayoritas pekerja. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kerja