Ternyata, Stres dan Diet Tinggi Protein Bisa Picu Bau Mulut

Redaksi • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 15:10 WIB
TREN: Stres dan diet bisa memicu bau mulut. ISTIMEWA
TREN: Stres dan diet bisa memicu bau mulut. ISTIMEWA

PROKAL.CO, JAKARTA-Gaya hidup sibuk kaum urban sering kali memaksa mereka menghadapi stres yang tinggi dan mengubah pola makan, salah satunya dengan maraknya tren diet tinggi protein.

Tanpa disadari, kombinasi kedua hal ini berdampak langsung pada terganggunya kesehatan interaksi sosial mereka.

Michelle, Country Manager usmile Indonesia dan Malaysia, dalam siaran persnya yang dikirim ke media ini mengatakan, stres yang memicu kondisi mulut kering, ditambah sisa makanan dari diet tinggi protein, menjadi kondisi ideal bagi bakteri di dalam mulut untuk berkembang biak. 

Baca Juga: Kebakaran Lahan dan Ancaman Polusi Udara: Unmul Dorong Pemantauan Real Time di Samarinda

Bakteri inilah yang kemudian memproduksi gas Volatile Sulfur Compounds (VSCs) seperti Hidrogen Sulfida (H2S) dan Metil Merkaptan (CH3SH), yang menjadi penyebab utama bau mulut atau halitosis.

Berdasarkan data Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, masalah halitosis ini ditemukan pada 28,6 persen masyarakat.

Tingginya kesadaran untuk mengatasi masalah sosial ini pada akhirnya mendorong pertumbuhan pesat di industri perawatannya.

Mengutip laporan Mordor Intelligence mengenai Global Halitosis Market, nilai pasar global produk penanganan bau mulut tercatat mencapai USD 14,41 miliar pada tahun 2025.

Angka ini mengalami kenaikan sekitar 10,5 persen menjadi USD 15,93 miliar pada tahun 2026. Ini didorong oleh kebutuhan masyarakat akan solusi yang benar-benar efektif.

Tren ini diproyeksikan akan terus melesat dengan pertumbuhan lebih dari 65,5 persen, hingga diprediksi menyentuh angka USD 26,36 miliar pada tahun 2031 mendatang.

Di sisi lain, masalah sensitivitas gigi juga memicu kecemasan yang tak kalah tingginya. Berdasarkan studi dari Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia (UI) dan IQVIA (2024), sebanyak 62 persen responden menyatakan mereka mengalami frekuensi gigi sensitif yang tinggi.

Sebanyak 86 persen penderita merasa cemas akan rasa sakit saat makan, yang pada akhirnya membuat banyak dari mereka terpaksa menghindari acara sosial.

Baca Juga: Impian Kereta Trans Kalimantan Kian Nyata: Presiden Prabowo Buka Pintu Investor, DED Mulai Digarap P

Untuk mengatasi kecemasan sosial akibat masalah oral care ini, menyikat gigi dengan pasta gigi konvensional saja tidak lagi cukup.

Konsumen modern kini mulai beralih pada tren skinification dalam perawatan gigi, yakni penggunaan bahan aktif spesifik layaknya produk perawatan wajah untuk mengatasi masalah mulut secara tepat sasaran.

Michelle mengatakan, merespons pergeseran tren edukatif ini, usmile Indonesia membawa pendekatan inovatif yang mengawinkan teknologi perawatan gigi dengan ingredients kecantikan yang telah teruji klinis.

Masyarakat kini semakin kritis dan memahami bahwa sekadar menutupi bau mulut dengan rasa mint yang pedas atau sekadar menahan rasa ngilu tidak akan menyelesaikan akar masalah.

Oleh karena itu, usmile mengadaptasi bahan-bahan aktif yang bekerja selembut skincare namun efektif secara klinis untuk mengembalikan kebebasan bersosialisasi masyarakat tanpa rasa khawatir.

“Kami percaya bahwa perawatan mulut bukan lagi sekadar rutinitas kebersihan harian, melainkan bagian dari ritual perawatan diri yang berdampak langsung pada kualitas hidup dan kepercayaan diri seseorang. Melalui pendekatan oral beauty, usmile terus berinovasi mendefinisikan ulang perawatan gigi agar masyarakat dapat mengekspresikan senyum terbaiknya tanpa rasa khawatir dalam setiap interaksi sosial,” katanya.

Menyikapi masalah halitosis akibat gaya hidup urban, usmile menghadirkan varian Fresh White yang juga dikenal sebagai Perfume Toothpaste. 

Tak hanya menutupi bau, produk ini diformulasikan dengan Zinc Glycinate, sebuah bahan aktif yang secara klinis mampu mengikat dan menetralisir gas VSCs penyebab bau mulut sejak dari akarnya. 

Pendekatan layaknya eksfoliasi wajah juga diterapkan melalui penggunaan Enzyme Complex alami, yaitu gabungan Papain dari ekstrak pepaya dan Lysozyme. 

Kandungan ini bekerja sangat lembut untuk membersihkan noda gigi tanpa merusak enamel, sekaligus memberikan perlindungan aroma parfum yang elegan agar nafas tetap segar lebih lama.

Sementara itu, untuk menjawab kecemasan penderita gigi sensitif, usmile memperkenalkan varian Repair White.

Formulasi pada varian ini memanfaatkan keunggulan Hydroxyapatite, sebuah mineral mutakhir pengganti Fluoride yang bekerja secara biomimetik untuk memperbaiki enamel dan menutup tubuli dentin yang terbuka, yang mana hal tersebut merupakan sumber utama rasa ngilu.

Baca Juga: Habitat Hancur Dilalap Api, Ular Terpanggang, Orangutan Masuk Permukiman

Konsep skincareification pada produk ini semakin diperkuat dengan kehadiran Sodium Hyaluronate (Hyaluronic Acid) serta Allantoin.

Kedua bahan yang sangat populer di dunia perawatan kulit ini berfungsi secara sinergis untuk menghidrasi, menenangkan, dan mencegah iritasi pada jaringan gusi, sehingga konsumen bisa kembali menikmati hidangan dingin maupun manis dengan nyaman.

Dengan edukasi berkelanjutan dan inovasi produk yang tepat sasaran, perawatan gigi kini bertransformasi menjadi ritual kecantikan atau oral beauty yang tidak hanya merawat fisik, tetapi juga menjaga kenyamanan psikologis penggunanya. (*)

Editor : Faroq Zamzami
usmile bau mulut