Transportasi Sungai Nyaris Lumpuh, BBM untuk Warga Long Pahangai Mulai Dibatasi

Jodi Kristianto • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 21:00 WIB
IMBAS KEMARAU: Kondisi sungai Mahakam di Kampung Long Pahangai, Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahulu, yang semakin surut. ISTIMEWA
IMBAS KEMARAU: Kondisi sungai Mahakam di Kampung Long Pahangai, Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahulu, yang semakin surut. ISTIMEWA

PROKAL.CO, UJOH BILANG – Kemarau panjang semakin menyulitkan aktivitas masyarakat di Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

Kondisi air Sungai Mahakam yang membuat transportasi air yang selama ini menjadi urat nadi mobilitas warga nyaris lumpuh.

Camat Long Pahangai, Thomas Ding, mengatakan kondisi muka air Sungai Mahakam saat ini sudah sangat rendah. Perahu longboat yang biasanya menjadi moda transportasi utama masyarakat bahkan sudah tidak bisa beroperasi.

“Kalau transportasi sungai untuk wilayah Kecamatan Long Pahangai, longboat sudah tidak bisa turun lagi,” kata Thomas.

Baca Juga: Sudah 81 Tahun Merdeka, Belum Ada Jalan Darat ke Long Apari, Harga Kebutuhan Pokok Melambung Tinggi

Menurut dia, saat ini hanya speedboat yang masih dapat digunakan. Namun, penggunaannya pun sangat terbatas karena kondisi sungai yang semakin dangkal. “Itupun (speedboat) dengan susah payah. Sekarang hanya bisa membawa orang,” ujarnya.

Kondisi tersebut turut berdampak terhadap aktivitas masyarakat, terutama distribusi bahan bakar minyak (BBM). Thomas menyebutkan, berdasarkan laporan pengelola APMS kepadanya, stok BBM masih tersedia. Namun, penyalurannya kini harus dibatasi agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat selama kemarau berlangsung.

Saat ini, jatah BBM untuk masyarakat dibatasi sekitar lima liter per kepala keluarga. Khusus aktivitas tertentu di dalam kampung, ketersediaan tersebut diperkirakan masih mampu bertahan hingga 10–15 hari ke depan jika sistem pembagian tetap dilakukan secara ketat.

“Kalau laporan teman-teman APMS, cukup untuk 10 sampai 15 hari ke depan dengan sistem pembagian. Kemarin sekitar 238 drum kalau tidak salah,” jelasnya.

Stok yang saat ini digunakan, lanjut Thomas, terakhir masuk sekitar satu pekan lalu. Persoalannya, meski pasokan BBM sudah tersedia dari luar wilayah, distribusi menuju Long Pahangai masih terkendala rendahnya muka air sungai.

“Kalau muka air Mahakam tidak naik, kemungkinan tidak ada penambahan baru untuk minyak ini. Minyaknya sebenarnya sudah sampai, tetapi belum sampai Long Pahangai,” katanya.

Karena itu, pemerintah kecamatan bersama pengelola APMS menerapkan pola pembatasan sesuai tingkat kebutuhan. BBM diprioritaskan untuk transportasi dan aktivitas masyarakat yang dianggap penting.

Baca Juga: Masalah Harga Bahan Pokok yang Sangat Tinggi di Mahulu, Jalan Darat Jadi Solusi Jangka Panjang

Thomas mengakui, kebijakan pembatasan tersebut sempat mendapat keluhan dari masyarakat. Namun, menurutnya, langkah itu terpaksa dilakukan agar BBM tidak cepat habis.

“Memang ada yang mengeluh dengan pengelola APMS. Saya bilang paling dibatasi, kasih 10 liter kalau memang untuk aktivitas tertentu, supaya aktivitas masyarakat tetap bisa berjalan,” tuturnya.

Jika hujan tidak kunjung turun dalam sepekan ke depan, kondisi diperkirakan akan semakin sulit. Alternatif pengangkutan melalui jalur darat pun menjadi pilihan, meski kondisi jalan juga tidak sepenuhnya mulus.

Pasokan Sembako Mulai Menipis

Dampak kemarau tidak hanya dirasakan pada sektor transportasi dan BBM. Stok sejumlah kebutuhan pokok di Long Pahangai juga mulai menipis.

Thomas menyebut, harga bahan pokok sejauh ini masih relatif standar. Namun, stok di toko-toko mulai berkurang karena pedagang kesulitan mendatangkan barang.

“Kalau harga bahan pokok masih standar. Tetapi toko-toko juga mulai enggan menyetok karena sudah susah mengambil barang,” katanya.

Masyarakat, lanjut dia, masih memiliki alternatif dengan menitipkan pembelian kebutuhan kepada kerabat atau pihak lain yang berbelanja ke pusat kabupaten melalui jalur darat.

Kecamatan Long Pahangai masih bisa ditembus melalui akses darat menuju dengan kendaraan tertentu dari ibu kota kabupaten. Sementara untuk menuju Long Apari, ke hulu sungai lagi, hanya bisa ditempuh melalui jalur sungai, belum ada jalan darat. 

Pada kesempatan itu, Thomas mengingatkan stok di tingkat pedagang harus menjadi perhatian serius pemerintah. Terutama beras, LPG, dan kebutuhan pokok lainnya yang digunakan masyarakat sehari-hari.

“Pemerintah juga harus memperhatikan. Pertama beras, LPG, dan kebutuhan sembilan bahan pokok yang biasa digunakan sehari-hari. Itu memang sudah mulai menipis,” tegasnya.

Untuk akses darat menuju Long Pahangai, Thomas mengatakan masih dapat dilalui kendaraan roda empat jenis double cabin atau kendaraan dengan kemampuan medan berat. Meski terdapat sejumlah titik jalan yang rusak dan sulit dilalui.

Baca Juga: Warga Long Apari Harapkan Kehadiran Negara, Musim Kemarau, Harga Beras Rp 1 Juta Per Karung

“Kalau menuju Long Pahangai memang ada beberapa titik yang sulit dan agak rusak. Tapi masih bisa kalau kendaraan double cabin. Jadi distribusi sembako untuk kebutuhan sehari-hari sebenarnya masih bisa berjalan,” jelasnya.

Thomas berharap hujan segera turun dan menaikkan kembali debit Sungai Mahakam. Sebab, tanpa kenaikan muka air, distribusi BBM maupun kebutuhan pokok melalui jalur sungai akan semakin sulit.

“Kalau satu minggu ini tidak ada hujan, memang akan semakin sulit. Itu hitungannya,” katanya. (sya/far)

Editor : Faroq Zamzami
Sumber : Kaltim Post
long pahangai Long Apari musim kemarau mahulu