DITINGGAL dengan alasan jelas mungkin bisa diterima, dibanding ditinggal dengan alasan yang tak jelas. Bertahun-tahun pacaran sangatlah mesra. Saat menikah, baru setahun, tiba-tiba hilang rasa, bahkan untuk sekadar tinggal bersama.
Apa jadinya jika pasangan tiba-tiba tak ingin lagi melihat kehadiran kita. Yang dulunya cinta, yang dulunya sayang, yang selalu ingin bersama, kini tak ada lagi. Karin–bukan nama sebenarnya–tak mengetahui secara pasti alasan Bedu–juga bukan nama sebenarnya–yang tak ingin lagi bersamanya.
Kejadian tersebut berlangsung enam tahun silam. Bedu-Karin menjalin hubungan asmara selama dua tahun. Mereka mantap melanjutkan hubungan yang lebih serius, yakni menikah. Kisah rumah tangga mereka adem ayem layaknya rumah tangga pada umumnya.
Namun, ketika Karin dinyatakan hamil, sikap Bedu berubah. Bedu yang sebelumnya perhatian, kini cuek. Dia bahkan terang-terangan mengatakan tak ada lagi rasa untuk Karin. “Saya enggak tahu alasannya kenapa. Dia cuma bilang enggak mau lagi sama saya. Kalau saya sudah tak diinginkan, untuk apa masih serumah? Akhirnya saya yang pergi meninggalkan rumah dalam keadaan hamil,” beber Karin.
Di ruang tunggu sidang, dia terlihat tegar. Karin bahkan masih berkomunikasi baik dengan keluarga Bedu. Dia ditemani kakak iparnya atau kakak kandung Bedu dalam proses sidang cerai. “Saya sama keluarganya baik-baik saja. Enggak tahu, dia (Bedu)-nya saja yang keras kepala,” imbuhnya.
Anak yang dulu di kandungnya pun, kini berusia lima tahun. Karin-Bedu, keduanya memiliki profesi yang sama yakni tenaga pendidik. “Tiga tahun lalu, saya sempat ke sini (Pengadilan Agama/PA Bontang), ditanya sama petugasnya mau cerai kah? Saya jawab iya. Dia (petugas PA) bilang kamu masih muda, pulang saja lagi. Ya pulang lah saya,” ujarnya sembari tertawa.
Tak ada perubahan, barulah setelah enam tahun pisah ranjang, Karin mantap menggugat cerai Bedu. Setelah mendapat giliran sidang, dia diminta membawa dua saksi karena gugatannya diterima majelis hakim. “Mungkin ini sudah jalannya,” kata Karin sambil menitikkan air mata.
Mendengar ucapan itu, kakak ipar Karin, Mawar–bukan nama sebenarnya, tak kuasa menahan air mata. “Dia ini ikhlas dengan takdirnya. Makanya semua dipermudah. Padahal suaminya adik saya. Tetapi saya lebih simpati sama dia (Karin),” ucap Mawar. (mga/rom/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria