Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Tergugah dengan Realitas Rakyat Kecil

izak-Indra Zakaria • 2019-11-25 12:50:42

Dunia lukis di Indonesia tak bisa dipisahkan dari sosok Affandi. Apabila masih hidup, maka kini usianya 112 tahun. Sang mestro lukis ini meninggal dunia pada 23 Mei 1990.

Pelukis ekspresionis yang terkenal melalui teknik khas menumpahkan cat dari tube-nya langsung pada kanvas ini, terlahir dengan nama Affandi Koesoema di Cirebon pada 1907. Dia bukan berasal dari keluarga seniman.

Ayah Affandi adalah pegawai pabrik gula. Pendidikan formalnya pun sama sekali tak berhubungan dengan seni. “Awalnya, Papi menggambar untuk kesenangan saja,” ungkap Kartika Affandi, putri Affandi dari istri pertamanya, Maryati.

Radar Jogja berkesempatan berbincang langsung dengan Kartika Affandi. Di Omahe Kartika yang terletak di Pakembinangun, Pakem, Sleman. Selama hampir dua jam, Mami Kartika, begitu dia dipanggil, bercerita tentang sosok Affandi.

Kartika menceritakan, meski tak pernah secara serius mendalami seni rupa, Affandi memiliki teknik bagus. Motivasinya menjadi pelukis profesional tumbuh sejak bersekolah di Algemeene Middelbare School (AMS) Jakarta, atau saat ini setara sekolah menengah atas.

“Gurunya bilang, Affandi kamu lebih baik sekolah seni rupa karena yang terbaik untukmu itu seni rupa. Papi lalu pulang dan meminta restu dari kakaknya untuk bersekolah seni rupa,” tutur Kartika. Namun, jalan untuk menjadi pelukis profesional tak mulus. Affandi tak mendapat restu dari kakaknya untuk menempuh pendidikan seni rupa. Apalagi saat itu sekolah seni rupa hanya ada di Belanda.

Affandi muda semasa sekolah dibiayai oleh kakaknya, lantaran bapaknya sudah meninggal dan ibunya sudah renta. “Tidak akan kamu saya sekolahkan ke Belanda, kecuali sekolah dokter, insinyur, sarjana hukum. Tidak, kalau sekolah seni rupa,” kata Kartika, mengulangi perkataan kakak Affandi kala itu.

Affandi tidak bisa marah. Namun dia tidak juga pasrah. Lantas di tahun terakhir AMS, dia memutuskan untuk bekerja demi menghidupi ibunya. Sembari terus menempa diri di dunia seni rupa.

Perempuan 84 tahun ini menuturkan, dalam satu bulan selama 20 hari dihabiskan untuk bekerja serabutan. Hasilnya, semua diserahkan kepada ibunya. Kemudian waktu 10 hari dihabiskan untuk melukis. “10 hari itu saya jangan diganggu. Saya mau melukis apa yang saya suka,” lanjutnya.

Usai menikah pada 1933, Affandi memutuskan pindah ke Bandung. Di sana dia pernah jadi guru, pembuat papan nama toko, tukang cat, pelukis reklame, hingga portir di bioskop. Seringnya, penghasilan dari kerja serabutan itu tak cukup untuk hidup sebulan.

“Dulu zaman Belanda, Affandi tidak bekerja kepada Belanda. Dia lebih baik bekerja dari rumah ke rumah menenteng cat, menawarkan kepada masyarakat untuk mengecat rumah. Padahal pendidikannya cukup baik,” bebernya.

Mencari uang dengan menjual lukisan sebenarnya bukan hal yang sulit di Bandung. Pelukis-pelukis Bandung umumnya melukis pemandangan dengan gaya Mooi Indie, yakni gaya dan tema lukisan pemandangan yang sedang tren saat itu. Mooi Indie atau Hindia molek menggambarkan negeri Hindia yang penuh keindahan alam, sesuai dengan selera eksotisme dunia timur ala orang Eropa.

Tapi, Affandi tak menyukai Mooi Indie. Yang menggugah Affandi bukanlah keindahan alam. Melainkan realitas kehidupan rakyat kecil dan dia ingin menggambarkan realitas itu sejujur-jujurnya. “Papi banyak sekali melukis potret diri, karena kata Papi yang mengetahui diri saya hanya saya,” ungkapnya.

Kartika masih ingat dulu sewaktu di Bali, Affandi ingin melukis di sebuah tanah lapang. Objek lukisan pun sudah ada. Namun, Tuhan punya kehendak lain. Yakni dengan diturunkannya hujan. Sontak Affandi lantas mengumpat, kecewa, dan marah. Rasa kemarahaannya itulah yang lantas dituangkannya dalam lukisan. Berupa lukisan wajah dirinya yang sedang marah.

Affandi bukanlah seniman yang berasal dari Jogjakarta. Ketika ibu kota berpindah ke Jogjakarta pada Januari 1946, Affandi pun tak ketinggalan untuk hijrah. Setelah pindah ke Jogja, pamor Affandi kian meningkat. Dia juga kian mapan dengan gaya ekspresionis.

Jika di masa-masa awal dia melukis dengan gaya realis dan impresionis, kini Affandi menyelam lebih dalam. Dia menolak penggambaran segala sesuatu secara dangkal dan mulai menggali berbagai problem yang ada di balik objek lukisannya.

Sebelum menjadi seniman yang sukses, Affandi kerap kesulitan untuk mencari media lukis. Akhirnya lukisannya dibuat di atas kertas. Bahkan dulu dia harus mencampur tepung dengan minyak cat karena saking tidak punya uang. “Karena masih melarat,” katanya.

Kebiasaan lain dari Affandi juga masih diingat oleh Mami Kartika. Terutama soal waktu. Affandi selalu mulai melukis saat matahari terbit. “Pukul lima pagi sudah kami bangunkan untuk melukis,” ujarnya.

Dalam melukis, Affandi tidak bisa diganggu. Dia harus mendapatkan ketenangan. Pasalnya, jika fokusnya terganggu, akan berpengaruh terhadap hasil lukisan. Bahkan dalam suatu waktu, Affandi pernah berkata kalau sampai mendengar ada anak kecil menangis karena terjatuh, maka dia akan membatalkan menggambar dan memilih untuk membantu anak yang terjatuh.

“Karena Papi tidak bisa melukis kalau masih ada beban pikiran. Saya diambilnya dari kelas itu karena kalau di rumah saya hanya sendiri, Papi waswas kalau saya kenapa-kenapa,” ungkapnya.

Oleh karenanya dari TK sampai sekolah dasar, Affandi selalu mengatakan kepada guru yang mengajar Kartika agar tidak usah memberikan rapor. Sebab, dia hanya menitipkan Kartika di sekolah. “Tidak usah kasih rapor, karena sewaktu-waktu saya ambil untuk saya ajak melukis,” kenangnya.

Kebiasaan itu berlanjut hingga Kartika punya suami. Saat Kartika bertengkar, dia diajak untuk melukis. Hal itu baginya merupakan salah satu cara terapi. “Daripada berkelahi dengan suami, mending menggambar,” ucapnya seraya terkekeh.

Baginya, sosok Affandi bukan hanya seorang bapak kandung. Tetapi dia juga menempatkan diri seperti kakak. Seperti saat Kartika akan menikah, banyak wejangan yang diberikan oleh Affandi kepadanya. “Ini kan harusnya ibu yang memberi nasihat, tapi ini justru dilakukan seorang bapak. Hal-hal seperti itulah yang membuat saya sangat kehilangan Papi,” katanya.

Satu tahun sebelum Affandi meninggal, ada satu karya yang dikerjakan berdua. Dalam ingatan Kartika, karya itu merupakan potret diri Affandi yang diberi judul Embrio. Itu ketika Affandi kesulitan untuk memencat cat air dari wadahnya. Affandi lantas membuang cat itu ke tanah. Kartika lantas menabahkan ayahnya dan menawarkan bantuan.

“Saya bilang sabar, mari saya bantu. Lalu saya ambil cat itu, tangan Papi memegang tangan saya dan menggerakkannya. Kalau tangan Papi memencet tangan saya, artinya cat itu saya pencet. Kalau tidak saya hanya membuat garis,” kenangnya.

Sekalipun ayahnya telah lama tiada, kenangan selamanya melekat di benak Kartika. Mulai dari pengalaman bermain sampai menggambar bersama. “Dulu belum ada mainan plastik. Papi bikin mainan dari lempung (tanah liat, Red). Papi juga mengajari saya main layangan dan naik sepeda. Dia juga mengajari saya untuk hidup mandiri,” katanya.

Soal kegemarannya melukis, lain lagi ceritanya. Affandi, menurut Kartika, tidak pernah memaksa untuk mengikuti jejak menjadi pelukis dan perupa. Hanya saja sebagai anak tunggal, dia harus bisa melakukan apa yang ayahnya lakukan. “Kalau mau menggambar, ya menggambarlah,” tambah Kartika menirukan ucapan ayahnya.

Kini, siapa pun tahu karya Kartika bak pinang dibelah dua dengan Affandi. Lukisannya mirip, nyaris tidak bisa dibedakan mana karya Affandi atau Kartika. Keduanya sama-sama ekspresif dalam menggambarkan wujud tertentu. Tak beraturan, namun tak rumit. Teknik lukisannya juga sama.

Suatu kali, Kartika dan ayahnya pergi ke pasar hewan untuk menggambar kerbau. Hewannya sama, tarikan garisnya pun tak berbeda, tapi ternyata perspektif bapak dan anak ini bertolak belakang, sesuai karakter pribadi masing-masing.

“Papi bikin lukisan si kerbau seperti mau berontak ketika diikat. Ini menggambarkan laki-laki yang tidak mau terikat. Sementara saya menggambar kerbau yang mengeluarkan air liur, seperti perempuan yang selalu minta dikasihani,” kata Kartika.

Meski begitu, diakui perempuan kelahiran 27 November 1934 ini, ada hal yang membedakan antara lukisannya dengan lukisan Affandi. “Teknik itu siapa pun bisa meniru. Tapi nyawa dalam lukisan itu yang tidak bisa disamakan,” tegasnya.

Kartika tentu saja senang sang ayah meleluasakan dirinya berkreasi dan berkembang dengan cara sendiri. Lagi pula pemikiran atau perspektif perempuan dan laki-laki berbeda. “Saya tidak ingin menjadi papi (Affandi) kedua. Be like just Kartika,” ucapnya. (har/laz)

Editor : izak-Indra Zakaria