SINGARAJA- Diberlakukannya Pergub Bali Nomor 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbunan Sampah Plastik Sekali Pakai berdampak terhadap penggunaan pipet (sedotan) plastik. Rupanya, peluang ini dibaca oleh perajin bernama Gede Suarsa Ariawan. Pengrajin asal Banjar Tengah, Desa Sinabun, Kecamatan Sawan pun menciptakan pipet bamboo bergambar wayang sebagai pengganti pipet plastik.
Ditemui di rumahnya, Minggu (22/12) Suarsa mengaku sudah memulai usaha rumahan ini sejak empat bulan silam. Menariknya, pipet buatannya langsung dipesan sejumlah restoran yang berada di Buleleng dan Karangasem.
Suarsa pun tak menampik jika kerajinan pipet bambu ini ia buat sebagai solusi untuk menekan penggunaan pipet plastik yang penggunaannya sulit dikendalikan. terlebih, pipet plastik ini akan menjadi sampah dan sulit terurai oleh tanah.
Dikatakan Suarsa seperti dilansir BALI EXPRESS, sejatinya sudah bergelut dengan usaha kerajinan sejak tahun 2005 lalu. Hanya saja bahannya berasal dari batok kelapa. Namun, kian sulitanya mendapatkan batok kelapa membuatnya beralih menggunakan bambu sebagai bahan baku.“Biasanya saya membuat pulpen, gantungan kunci. ternyata setelah dibuat pipet bambu rupanya bagus,” ujarnya.
Ia pun tak menampik jika animo masyarakat sangat tinggi. Terlebih lukisan khas wayang ini menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan, masyarakat bisa memesan pipet dengan lukisan wayang tokoh pewayangan seperti Arjuna, Kresna hingga Wisnu. “Astungkara, pesanan selalu ada,” imbuhnya sembari dengan piawai melukis pipet bambu dengan tokoh wayang.
Jelas Suarsa, pipet yang ia buat ada dua macam. Yakni pipet khusus minuman jus dan sejenisnya dengan panjang sekitar 25 centimeter. Sedangkan pipet untuk khusus minuman cocktail dengan panjang 13 centimeter dan diameter 3 milimeter.
Harganya pun bervariasi. Mulai dari Rp1.500 hingga Rp4.000 per buah, tergantung jumlah pesanan dan jenis pipetnya. Hanya butuh waktu paling lama 20 menit untuk mengukir tokoh pewayangan dalam pipet bambu tersebut menggunakan alat khusus. “Kalau pesan biasanya lusinan. kadang ada yang pesan ratusan batang pipet,” jelasnya lagi.
Sejauh ini, dirinya masih menggunakan bambu buluh untuk bahan baku. Bambu itu biasanya dipilih untuk membuat seruling. Bambu itu diperolehnya dari semak-semak di tepi sungai atau dari tegalan. "Karena pesanan meningkat, kini saya mengontrak bambu di sebuah tegalan milik tetangga yang bisa saya ambil sepanjang masa kontrak," katanya.
Menariknya, wayang itu tidak dilukis dengan menggunakan cat atau pewarna, melainkan dilukis dengan besi runcing yang panas oleh listrik. Ujung besi itulah yang diguratkan untuk menciptakan lukisan sesuai bentuk yang diinginkan."Alat ini saya rancang sendiri. Memang ada yang menjual secara daring (online), namun ujung besinya terlalu besar sehingga tak bisa dipakai melukis pada bidang yang kecil," pungkasnya. (dik/aim)
Editor : izak-Indra Zakaria