JAKARTA– Staf Khusus Presiden Andi Taufan Garuda Putra melakukan blunder. Awal April lalu dia bersurat kepada para camat untuk mendukung program relawan desa yang dia inisiatori. Belakangan diketahui, penawaran kerja sama itu bermasalah karena diduga bermuatan konflik kepentingan.
Andi menawarkan program Relawan Desa Lawan Covid-19 bersama perusahaan fintech PT Amartha Mikro Fintek. Pada intinya, PT Amartha berkomitmen memberikan sejumlah bantuan. Yakni, edukasi tentang Covid-19 dan pendataan kebutuhan alat pelindung diri (APD) di puskesmas.
Rupanya, PT Amartha adalah perusahaan fintech yang dipimpin Andi. Dari situlah timbul polemik karena Andi selaku pejabat negara dianggap memiliki konflik kepentingan. Apalagi, surat tersebut menggunakan kop bertulisan Sekretariat Kabinet.
Kemarin (14/4) Andi langsung menyampaikan klarifikasi. ”Saya mohon maaf atas hal ini dan menarik kembali surat tersebut,” ujarnya melalui pernyataan yang diterima koran ini.
Dia beralasan hanya bermaksud bergerak cepat membantu pencegahan Covid-19. Melalui dukungan langsung tim lapangan Amartha yang berada di bawah kepemimpinan dia.
Pendanaan juga sepenuhnya menggunakan biaya Amartha dan donasi masyarakat. Andi pun mengapresiasi masukan yang diberikan oleh sejumlah pihak.
”Ini akan menjadi pelajaran penting bagi saya sebagai anak muda yang ingin memberikan kontribusi untuk negeri, agar tetap mengikuti kaidah dan aturan dalam sistem birokrasi,” tambahnya. (byu/c11/ttg)
Editor : izak-Indra Zakaria