Daratan Pajampangan yang kini berbukit-bukit di wilayah Surade dulu merupakan lautan atau dikenal sebagai laut purba Jampang pada era miosen yang kaya keanekaragaman biota laut. Salah satunya megalodon.
Dengan panjang mencapai 16–18 meter dan berat mencapai 70 ribu kilogram, megalodon saat itu duduk sebagai puncak rantai makanan. Meski berkuasa di lautan, berbagai perubahan bumi mengakibatkan meluasnya gletser di wilayah kutub.
Pengaruh pergerakan lempeng tektonik (subduksi) kala itu juga memicu aktivitas vulkanis. Kondisi bumi yang tak stabil ini diduga menjadi salah satu penyebab si raja lautan itu punah.
Sejak 2019, mencari fosil gigi si hiu purba itu ladang mata pencaharian baru bagi sebagian warga Surade. Mereka berbondong-bondong menggali tanah dan bebatuan. Kadang meraup untung, tapi sering juga buntung. Nasib seperti dipertaruhkan dalam setiap bongkahan batu dan lapisan tanah. ”Baru dapat satu. Kecil sekali,” kata seorang penggali kepada Obot.
Baru tiga hari mereka memulai proyek penggalian di atas bukit di kawasan Surade. Hanya gigi megalodon yang mereka cari. Kalau menemukan kerang-kerangan, akan diabaikan saja.
Tiap bos atau pembeli harus membentuk sekelompok penggali. Di atas bos masih ada pengepul yang berdasar informasi dari Obot berlokasi di Bandung. ”Saya pernah menemukan fosil gigi sepanjang 16 sentimeter. Satu fosil bisa belasan juta,” kenang Warang, lalu tertawa.
Menentukan mahal tidaknya fosil megalodon bukan dengan ditimbang. Namun, dari panjang gigi dan kemulusan ketika ditemukan. Fosil yang berkilat, tanpa cacat, dan berukuran di atas 10 sentimeter bakal dihargai tinggi. Panjang 10 sentimeter di pasar lokal berharga Rp 3–5 juta per fosil. Di atas panjang itu, nilai nominalnya otomatis kian tinggi. Dari belasan juta hingga puluhan juta.
Bahkan, fosil dengan panjang 17 sentimeter pernah dihargai hingga Rp 40 juta. Tapi, itu dulu, di masa ”kejayaan”, kurun 2020–2021. ”Kalau sekarang, susah. Dapat satu saja untung-untungan,” ucap Warang.
Meski tak gampang, Warang dan kawan-kawannya mengaku tetap tertarik menjadi penggali fosil yang dikerjakan setelah menanam padi dan menunggu hasil panen. Mereka tak mendapat upah harian, hanya dibayar sebungkus rokok dan kopi sehari oleh bos. Uang baru dikantongi ketika menemukan fosil megalodon.
Misal satu fosil dihargai Rp 3 juta, hasilnya dibagi empat orang. Sesuai jumlah orang yang masuk grup penggalian.
Biasanya satu grup terdiri atas empat hingga tujuh penggali. Mereka bekerja setiap hari dari pagi hingga menjelang petang. Para penggali tak punya perhitungan khusus dalam menentukan titik pencarian, hanya mengandalkan insting. Lalu, melakukan penggalian sampai menemukan urat batu.
Urat batu merupakan istilah bagi para penggali fosil untuk menentukan titik penggalian bisa dilanjut atau ditinggal. Urat batu adalah lapisan tanah di kedalaman tertentu yang membentuk garis-garis vertikal.
Selain urat batu, petunjuk lain harus terpenuhi: fosil-fosil kerang yang menempel di bebatuan. ”Kalau sudah menemukan kerang, penggalian bukan diperdalam, tapi diperluas,” ucap lelaki 50 tahun itu. (*/c19/ttg)