Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Memburu Rupiah dari Fosil Hiu Purba, Gigi Megalodon Sepanjang 17 Sentimeter Pernah Dihargai Rp 40 Juta

Edi Susilo • 2024-02-06 22:31:18
JEJAK HEWAN PURBA: Warga mencari fosil gigi megalodon dengan menggali dan melubangi tanah di perbukitan Surade, Sukabumi (1/2).
JEJAK HEWAN PURBA: Warga mencari fosil gigi megalodon dengan menggali dan melubangi tanah di perbukitan Surade, Sukabumi (1/2).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Urat batu dan fosil kerang jadi pegangan para penggali dalam menentukan apakah pencarian fosil hiu purba di perbukitan Surade, Sukabumi, dilanjut atau tidak. Di masa keemasan, menemukan gigi dengan panjang 10 sentimeter ke atas bukan hal sulit.

 

EDI SUSILO, Sukabumi

---

RERUNTUHAN batu sebesar kepala manusia itu berwarna cokelat kekuningan. Berserakan di bawah galian tanah sedalam 3 meter, di tepian jalan lintas Sukabumi–Cianjur, Jawa Barat.  Di atas reruntuhan batu, selembar terpal biru terbentang, diikat di antara batang pohon, membentuk sebuah tenda. ”Galian ini sepertinya sudah selesai. Ayo kita ke sana, turun ke bawah,” ucap Obot, nama panggilan, yang memandu Jawa Pos mencari para penggali fosil yang masih bekerja Kamis (1/2) pekan lalu di kawasan Surade, sebuah kecamatan di Sukabumi. Dari ibu-ibu yang sedang menanam padi, kami diberi petunjuk menuju sebuah bukit.

 

Baca Juga: Gua Tapak Raja, Penajam Paser Utara, Destinasi Wisata Favorit di IKN Baru

Benar saja, di atas sana, di bawah rindang pohon bambu, tampak empat pekerja sedang mengaso. Sebuah genset diesel, sekop, ember, dan troli dibiarkan tergeletak.

Sambil menyeruput kopi, mereka berbincang mengenai prediksi peruntungan. Bahwa di dalam sana, di lubang yang mereka gali, terserak aneka gigi megalodon. Megalodon (Otodus megalodon) yang berarti ”gigi besar” adalah spesies hiu purba yang sudah punah. Hiu ini diperkirakan hidup 23 hingga 2,6 juta tahun yang lalu pada zaman miosen awal hingga pliosen akhir. Para ilmuwan menduga megalodon terlihat seperti hiu putih yang lebih kekar walaupun hiu ini juga mungkin tampak seperti hiu raksasa (Cetorhinus maximus) atau hiu harimau pasir (Carcharias taurus). 

Baca Juga: Ilmuwan Nyatakan Telah Jadi Misteri Sejak 1960, Plecotus Auritus Ditemukan di Gua Tapak Raja

Daratan Pajampangan yang kini berbukit-bukit di wilayah Surade dulu merupakan lautan atau dikenal sebagai laut purba Jampang pada era miosen yang kaya keanekaragaman biota laut. Salah satunya megalodon. 

Photo
Photo
 
BUTUH KESABARAN: Bekas galian dibawa dengan troli untuk dicek apakah ada fosil gigi megalodon. (IMAM HUSEIN/JAWA POS)

 

Dengan panjang mencapai 16–18 meter dan berat mencapai 70 ribu kilogram, megalodon saat itu duduk sebagai puncak rantai makanan. Meski berkuasa di lautan, berbagai perubahan bumi mengakibatkan meluasnya gletser di wilayah kutub. 

Pengaruh pergerakan lempeng tektonik (subduksi) kala itu juga memicu aktivitas vulkanis. Kondisi bumi yang tak stabil ini diduga menjadi salah satu penyebab si raja lautan itu punah.

Sejak 2019, mencari fosil gigi si hiu purba itu ladang mata pencaharian baru bagi sebagian warga Surade. Mereka berbondong-bondong menggali tanah dan bebatuan. Kadang meraup untung, tapi sering juga buntung. Nasib seperti dipertaruhkan dalam setiap bongkahan batu dan lapisan tanah. ”Baru dapat satu. Kecil sekali,” kata seorang penggali kepada Obot.

Baru tiga hari mereka memulai proyek penggalian di atas bukit di kawasan Surade. Hanya gigi megalodon yang mereka cari. Kalau menemukan kerang-kerangan, akan diabaikan saja.

Tiap bos atau pembeli harus membentuk sekelompok penggali. Di atas bos masih ada pengepul yang berdasar informasi dari Obot berlokasi di Bandung. ”Saya pernah menemukan fosil gigi sepanjang 16 sentimeter. Satu fosil bisa belasan juta,” kenang Warang, lalu tertawa.

Menentukan mahal tidaknya fosil megalodon bukan dengan ditimbang. Namun, dari panjang gigi dan kemulusan ketika ditemukan. Fosil yang berkilat, tanpa cacat, dan berukuran di atas 10 sentimeter bakal dihargai tinggi. Panjang 10 sentimeter di pasar lokal berharga Rp 3–5 juta per fosil. Di atas panjang itu, nilai nominalnya otomatis kian tinggi. Dari belasan juta hingga puluhan juta.

Bahkan, fosil dengan panjang 17 sentimeter pernah dihargai hingga Rp 40 juta. Tapi, itu dulu, di masa ”kejayaan”, kurun 2020–2021. ”Kalau sekarang, susah. Dapat satu saja untung-untungan,” ucap Warang. 

Meski tak gampang, Warang dan kawan-kawannya mengaku tetap tertarik menjadi penggali fosil yang dikerjakan setelah menanam padi dan menunggu hasil panen. Mereka tak mendapat upah harian, hanya dibayar sebungkus rokok dan kopi sehari oleh bos. Uang baru dikantongi ketika menemukan fosil megalodon.

Misal satu fosil dihargai Rp 3 juta, hasilnya dibagi empat orang. Sesuai jumlah orang yang masuk grup penggalian.

Biasanya satu grup terdiri atas empat hingga tujuh penggali. Mereka bekerja setiap hari dari pagi hingga menjelang petang. Para penggali tak punya perhitungan khusus dalam menentukan titik pencarian, hanya mengandalkan insting. Lalu, melakukan penggalian sampai menemukan urat batu.

Urat batu merupakan istilah bagi para penggali fosil untuk menentukan titik penggalian bisa dilanjut atau ditinggal. Urat batu adalah lapisan tanah di kedalaman tertentu yang membentuk garis-garis vertikal.

Selain urat batu, petunjuk lain harus terpenuhi: fosil-fosil kerang yang menempel di bebatuan. ”Kalau sudah menemukan kerang, penggalian bukan diperdalam, tapi diperluas,” ucap lelaki 50 tahun itu. (*/c19/ttg)

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Editor : Indra Zakaria
#fosil #purbakala