Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

BMKG Sebut Gempa Bawean Tidak Lazim, Terjadi di Daerah Low Seismicity

Indra Zakaria • 2024-03-24 09:45:00
Daryono
Daryono

Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar konferensi pers terkait gempa yang terjadi perairan bagian timur Tuban dan juga cukup dekat dengan Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. BMKG mencatat dampak wilayah yang terasa gempa bertambah. Gempa tersebut merupakan gempa tektonik yang merupakan gempa kerak dangkal.

Bukan hanya di kawasan Jawa Timur yakni Surabaya, Gresik, dan sejumlah kawasan pantai utara Jatim, gempa juga dirasakan di dua pulau lainnya yakni Madura dan juga Kalimantan. ”Hingga pukul 20.00 WIB, BMKG mencatat ada 64 kali gempa,” kata Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono dalam konferensi pers secara daring melalui zoom, Jumat (22/3/2024) malam. Daryono menyebutkan, dari analisis BMKG, titik gempa yang terjadi pada gempa pertama dan gempa kedua hanya berjarak 15 kilometer. Untuk gempa kedua lebih dekat dengan Bawean. Sedangkan untuk gempa pertama lebih jauh dari Bawean.

”Mengamati hasil analisis BMKG bahwa dua gempa signifikan itu berbeda epicenternya. Tapi sebenarnya serangkaian gempa. Pertama 5,9 M pukul 11.22 WIB, di laut dengan jarak 37 kilometer arah barat Pulau Bawean. Gempa kedua 15.52 WIB dengan 6,5 M di laut dengan 35 km arah barat Pulau Bawean. Gempa kedua lebih dekat dengan Pulau Bawean,” terang Daryono. Dia mengungkapkan, peningkatan magnitude gempa itu bisa dipengaruhi dari jenis batuan di titik gempa. Daryono memastikan tidak semua gempa memengaruhi sesar-sesar di sekitar epicenter.

Daryono juga menyebut bahwa BMKG semacam mendapat surprise (kejutan) dengan gempa tersebut. “Melihat yang terjadi di Bawean BMKG seperti mendapat surprise dan dalam kutip ini tidak lazim, rentetan dua gempa dengan kekuatan 5,9 dan 6,5 terjadi di kawasan low seismicity dengan tingkat kegempaan rendah, namun ternyata terjadi gempa dengan kekuatan merusak,” lanjutnya. Tak hanya itu pihaknya juga menegaskan bahw BMKG belum bisa memprediksi gempa, bahkan belum ada peralatan dan juga ilmu untuk memprediksi kapan terjadinya gempa secara pasti.

Seperti diketahui bahwa sejumlah daerah terkena dampak getaran gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,5 yang terjadi di Laut Jawa sekitar 114 kilometer timur laut Tuban, Jawa Timur. Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono merinci daerah yang terdampak getaran yakni Pulau Bawean dengan intensitas skala MMI V-VI. Getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk, barang-barang terpelanting, dan terjadi kerusakan ringan.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas sesar aktif di Laut Jawa. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan geser (strike-slip). Daerah Terdampak Gempa Gempa bumi ini berdampak dan dirasakan di Pulau Bawean dengan intensitas V-VI MMI (getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk, barang-barang/pajangan terpelanting, terjadi kerusakan ringan).

Daerah Blora, Madura, Gresik, Surabaya, Kab. Banjar dengan skala intensitas III-IV MMI (bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah), Mojokerto, Banjar Baru, Sampit, Banjarmasin, Martapura, Balikpapan, Tanah Grogot, Malang, Lumajang, Madiun, Nganjuk, Pasuruan, Jepara, Rembang, Demak, Kudus, Semarang dengan skala intensitas II-III MMI (getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu) Yogyakarta, Kulon Progo, Kebumen, Temanggung, Blitar dan Solo dengan skala intensitas II MMI ( Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang ). Berdasarkan laporan dari masyarakat gempabumi ini menimbulkan kerusakan di Pulau Bawean. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini tidak berpotensi tsunami. (*/jpc/sla)

Editor : Indra Zakaria