KEDIRI – Ada pepatah bilang "ada gula ada semut", tapi di pertigaan Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, pepatahnya berubah menjadi: "Ada macan unik, ada bus pariwisata". Bukannya lari ketakutan, orang-orang justru berbondong-bondong datang untuk melihat langsung sebuah patung Macan Putih yang kini menyandang status "tak lazim" di mata warganet.
Patung yang awalnya diniatkan tampil gagah ini justru viral karena wajahnya yang dianggap "blendet" dan menggemaskan. Tak pelak, ledekan pun bertebaran di media sosial; ada yang menyebutnya hasil persilangan macan dengan kuda nil, mirip zebra yang salah kostum, hingga dibilang mirip kapibara si "Masbro".
Dibully Media Sosial, Panen di Dunia Nyata
Kekuatan "bully-an" warganet ternyata membawa berkah yang tidak masuk akal. Olok-olok di media sosial justru menjelma menjadi magnet ekonomi. Desa Balongjeruk yang biasanya hanya menjadi titik penunjuk arah, kini mendadak punya pasar kaget.
Warga sekitar mulai berjualan makanan, minuman, hingga kaus merchandise bergambar sang macan viral. Fenomena ini bahkan menarik rombongan wisatawan luar kota yang datang menggunakan bus hanya demi satu ritual wajib: berswafoto di depan sang macan "ajaib".
Suwari, pematung berusia 70 tahun di balik karya ini, mengaku sempat bingung melihat kerumunan orang di pertigaan desa. "Awalnya saya kira ramai-ramai karena ada kecelakaan," ujarnya polos.
Namun, di balik wajah patung yang dianggap lucu tersebut, Suwari punya cerita haru sekaligus mistis. Ia mengaku menggarap patung itu dalam kondisi fisik yang belum pulih total setelah jatuh sakit akibat menggarap patung Semar dan Gareng selama berbulan-bulan.
Bahkan, ia merasakan pengalaman janggal saat memahat. "Meski sudah mengikuti desain, tangan ini rasanya seperti 'dibelokkan' saat membentuk patung. Seperti bukan yang biasanya," kenang Suwari. Sekretaris Desa Balongjeruk, Ardan, pun menimpali dengan kelakar, "Sebelumnya beliau bikin patung elang bagus sekali. Kok pas macan jadi blendet."
Hampir Diganti, Tapi Terlanjur Jadi Idola
Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, menjelaskan bahwa patung ini dibangun murni menggunakan dana pribadi sebesar Rp 3,5 juta. Awalnya, karena kritik bertubi-tubi, sempat muncul wacana untuk membongkar dan mengganti patung tersebut.
Bahkan, seorang seniman dari Trowulan, Mojokerto, sempat menawar patung itu dengan harga tinggi untuk dibawa ke galerinya karena nilai uniknya. Namun, melihat dampak ekonomi yang luar biasa bagi warga desa, pemerintah desa akhirnya sepakat untuk mempertahankan sang macan putih.
Kini, mau disebut mirip kuda nil, zebra, atau apa pun, Patung Macan Putih Balongjeruk telah membuktikan bahwa dari sebuah "kekeliruan" estetik bisa lahir berkah ekonomi yang nyata. Desa Balongjeruk kini tak lagi dikenal karena pohon beringinnya, tapi karena macan putihnya yang paling nyeleneh se-Indonesia. (*)
Editor : Indra Zakaria