Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Lobi Tingkat Tinggi di Moskow: AHY Tawarkan Rusia Garap Megaproyek Kereta Api Trans-Kalimantan

Redaksi Prokal • Senin, 8 Juni 2026 | 07:45 WIB
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (kiri), bertemu Menteri Transportasi Federasi Rusia, Andrey Nikitin, di Moskow.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (kiri), bertemu Menteri Transportasi Federasi Rusia, Andrey Nikitin, di Moskow.

MOSKOW – Pemerintah Indonesia bergerak cepat menjemput bola demi merealisasikan megaproyek Kereta Api Trans-Kalimantan sepanjang 2.772 kilometer. Langkah strategis ini diambil dengan membuka pintu lebar-lebar bagi perusahaan raksasa asal Rusia untuk ikut terlibat dalam pengembangannya. Peluang emas tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), saat menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Transportasi Federasi Rusia, Andrey Nikitin, di Moskow.

Dalam pertemuan tingkat tinggi tersebut, Indonesia secara resmi menawarkan partisipasi Rusia dalam pembangunan koridor strategis nasional yang mencakup Trans-Kalimantan, Trans-Sumatera, hingga Trans-Sulawesi. AHY menegaskan bahwa Indonesia sangat membutuhkan pengembangan jaringan kereta api skala besar guna memperkuat konektivitas nasional sekaligus menyokong pertumbuhan ekonomi yang merata di luar Pulau Jawa. “Transportasi adalah urat nadi yang mempersatukan bangsa dan menghubungkan seluruh wilayah Nusantara,” ujar AHY dalam keterangan resminya.

Bagi wilayah Kalimantan Barat, tawaran kerja sama internasional ini membawa angin segar yang dinilai sebagai peluang investasi besar untuk mempercepat hilirisasi industri dan mendongkrak daya saing ekspor daerah. Jalur rel maut ini dirancang khusus untuk langsung terhubung dengan kawasan industri, sentra pertambangan, dan pelabuhan strategis yang selama ini menjadi mesin penggerak ekonomi utama di Kalbar. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalbar, Linda Purnama, mengungkapkan harapan besarnya agar pembangunan jaringan rel dapat dimulai dari wilayahnya demi memperkuat fungsi Pelabuhan Internasional Kijing sebagai pintu ekspor utama provinsi tersebut.

“Kereta api ini nantinya bukan hanya mendukung konektivitas yang lebih ekonomis di Kalimantan, tetapi juga mempercepat mobilitas logistik,” kata Linda menjelaskan. Urgensi kehadiran infrastruktur logistik berkapasitas tinggi ini kian nyata di tengah pesatnya tren hilirisasi mineral lokal. Berdasarkan data terbaru, Kalbar sukses membukukan nilai ekspor fantastis sebesar US161,08jutapadaMaret2026dengansurplusperdaganganmencapaiUS121,52 juta. Sektor pertambangan dan penggalian di daerah ini bahkan tumbuh melesat hingga 34,14 persen pada triwulan I 2026 yang ditopang oleh melonjaknya produksi bauksit dan alumina. Namun, arus barang yang masif tersebut selama ini masih bergantung penuh pada angkutan jalan raya yang memiliki keterbatasan kapasitas beban dan memicu biaya operasional yang tinggi.

Pengamat Transportasi Intermoda Kalbar, Syarif Usmulyani Alqadrie, menilai kehadiran jalur rel akan menjadi tulang punggung baru yang sangat ideal untuk memangkas biaya distribusi komoditas dalam volume besar secara kompetitif. Selain menekan biaya angkut bauksit dan alumina menuju Pelabuhan Kijing, moda transportasi berbasis rel ini diperkirakan bakal mengurangi ketergantungan pada truk bertonase besar yang selama ini kerap berkontribusi terhadap kerusakan jalan dan kemacetan parah di jalur logistik.

Tak hanya sebatas pembangunan jalur rel, paket kerja sama yang ditawarkan AHY ke Rusia juga mencakup sektor manufaktur sarana perkeretaapian, teknologi angkutan berat (heavy-haul rail), pengembangan transportasi rendah karbon, hingga program peningkatan kapasitas sumber daya manusia. AHY menilai bahwa rekam jejak dan pengalaman panjang Rusia dalam membangun sistem transportasi modern yang tangguh sangat cocok menjadi referensi bagi Indonesia guna memicu transfer teknologi di industri perkeretaapian nasional.

Menariknya, tantangan teknis pembangunan rel di atas lahan gambut Kalimantan yang selama ini dikhawatirkan banyak pihak, dinilai bukan lagi menjadi hambatan utama. Akademisi Universitas Lambung Mangkurat, Dr. Eng. Akbar Rahman, memaparkan bahwa berkat perkembangan teknologi konstruksi modern saat ini, kendala geografis tersebut sangat mungkin diatasi dengan aman. Menurutnya, faktor penentu keberhasilan Trans-Kalimantan saat ini justru murni terletak pada kepastian investasi, kejelasan regulasi, dan komitmen pembangunan jangka panjang.

Guna menyiasati total kebutuhan investasi perkeretaapian nasional hingga tahun 2045 yang diperkirakan menembus angka Rp1.200 triliun untuk mengaktifkan 14.000 kilometer jalur, AHY memastikan pemerintah akan mengandalkan skema pembiayaan kreatif. Skema tersebut akan mengombinasikan kolaborasi antara investor domestik, mitra asing, lembaga pembiayaan, serta skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) agar tidak membebani fiskal negara secara berlebihan.

Secara bisnis, strategi memulai pembangunan awal dari wilayah Kalbar dinilai memiliki dasar ekonomi yang sangat kuat, sebagaimana yang sempat diusulkan oleh mantan Gubernur Kalbar, Sutarmidji. Dengan adanya komoditas siap angkut seperti bauksit, alumina, hingga crude palm oil (CPO) yang melimpah, proyek ini dijamin memiliki basis muatan awal (cargo base) yang kuat untuk meminimalkan risiko proyek mangkrak. Ditambah posisinya yang berbatasan langsung dengan Malaysia, jaringan Kereta Api Trans-Kalimantan tidak hanya akan menjadi pemersatu logistik domestik ke arah Ibu Kota Nusantara (IKN), melainkan berpotensi besar berkembang menjadi koridor logistik regional yang disegani di pasar global. (*)

Editor : Indra Zakaria
#kereta api trans Kalimantan