PROKAL.CO, KENDARI- Perbedaan pandangan dalam sebuah forum akademik berubah menjadi momen penuh haru saat Menteri Pertanian Republik Indonesia (Mentan RI), Andi Amran Sulaiman, berdialog dengan seorang mahasiswa asal Papua dalam kuliah umum di Universitas Halu Oleo, Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (6/6/2026).
Mahasiswa Fakultas Pertanian, Universitas Halu Oleo, bernama Merius mempertanyakan keterlibatan TNI dan Polri dalam program cetak sawah di Papua.
Menurutnya, program pertanian semestinya lebih banyak dikelola langsung oleh masyarakat dan petani setempat.
Baca Juga: DPRD dan Pemkab Setujui Raperda Pembiayaan Infrastruktur Tahun Jamak
“Kita tahu bahwa hari ini yang menjadi cetakan sawah terbesar adalah di Papua dan di situ kebanyakan keterlibatan itu TNI-Polri. Saya melihat kenapa harus ada TNI-Polri yang terlibat, sedangkan program itu harus dirasakan dan dikelola oleh masyarakat sendiri,” ujar Merius.
Menanggapi hal tersebut, Mentan Amran menjelaskan bahwa keterlibatan TNI dan Polri bersifat sementara untuk membantu percepatan pembangunan pertanian di daerah yang masih kekurangan tenaga pendamping.
“Supaya ini ad-hoc saja sementara. Setelah petaninya sudah pintar dan mandiri, polisinya mundur, tentaranya mundur. Bukan hanya di Papua, tetapi di seluruh Indonesia. Kenapa kami gunakan Babinsa? Karena jumlah penyuluh pertanian kita belum cukup. PPL hanya sekitar 37 ribu orang, sementara kebutuhan mencapai 80 ribu,” jelas Amran.
Dialog berlangsung dinamis sebagaimana lazimnya dalam ruang akademik.
Namun, suasana berubah ketika Mentan Amran menanyakan kondisi keluarga Merius.
“Ibu di mana, Nak? Masih hidup?” tanya Amran.
Dengan suara lirih, Merius menjawab bahwa kedua orang tuanya masih hidup, tapi mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan dan saat ini berada di Papua Pegunungan.
“Ibu dan bapak masih hidup, Pak. Tapi dua-duanya lumpuh karena ketabrak. Mereka ada di Papua Pegunungan,” jawab Merius.
Mendengar jawaban tersebut, Mentan Amran langsung menunjukkan empatinya.
Di hadapan ribuan peserta kuliah umum, ia menawarkan bantuan pribadi untuk membantu pengobatan ibu mahasiswa tersebut.
Baca Juga: Rahasia Kebugaran David Beckham di Usia 51 Tahun: Ubah Total Pola Latihan demi Lawan Penuaan
“Ini saudara kita dari Papua Pegunungan. Tadi saya dengar ibunya sakit. Mau tidak saya bantu seadanya untuk ibu yang kau cintai? Saya kasih dari gaji menteri, nanti saya kasih Rp 10 juta, kirim ke ibu ya,” kata Amran yang disambut tepuk tangan hadirin.
Menurut Amran, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam demokrasi dan dunia pendidikan.
Justru kritik yang konstruktif dibutuhkan untuk memperbaiki kebijakan dan memperkuat pembangunan nasional.
“Artinya ada perbedaan pemahaman, itu wajar. Itulah Indonesia. Jangan kita sensitif. Kalau mau berhasil, kita harus menerima kritik yang konstruktif. Adik kita ini sedang sekolah, sedang berproses,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Amran juga menyampaikan pesan yang menyentuh kepada Merius dan seluruh mahasiswa yang hadir agar tidak melupakan perjuangan orang tua.
“Ingat, kalau nanti berhasil, muliakan ibumu, ibumu, ibumu. Kamu belajar keras di sini siang dan malam. Kamu adalah harapan ibumu dan bapakmu. Kamu tidak boleh kalah dan harus berhasil,” tegasnya.
Pesan tersebut disambut haru oleh peserta kuliah umum.
Momen yang diawali dengan perdebatan mengenai kebijakan pertanian berubah menjadi pelajaran tentang empati, penghormatan terhadap perbedaan pendapat, dan pentingnya berbakti kepada orang tua.
Baca Juga: Belgia Nyaris Dipermalukan Mesir, Rudi Garcia: Laga Perdana Piala Dunia Selalu Sulit!
Bagi Mentan Amran, kritik dan perbedaan pandangan tidak boleh menjadi penghalang untuk saling membantu.
Sebaliknya, dialog yang terbuka harus menjadi jembatan untuk memperkuat persatuan, membangun pemahaman, dan menghadirkan kepedulian kepada sesama anak bangsa dari Sabang sampai Merauke. (*)
Editor : Faroq Zamzami