PROKAL.CO- Peta energi masa depan Indonesia bersiap memasuki babak baru yang revolusioner. Presiden RI Prabowo Subianto secara khusus menerima kunjungan Direktur Utama (CEO) Rosatom, Alexey Likhachev, di Jakarta untuk menggodok peluang kerja sama raksasa dalam pengembangan teknologi nuklir damai. Langkah strategis ini diambil guna memperkuat ketahanan energi nasional berbasis energi baru terbarukan di tanah air.
Dalam pertemuan tersebut, raksasa nuklir milik negara Rusia itu menyodorkan berbagai solusi mutakhir yang dirancang khusus sesuai lanskap geografis Indonesia. Mulai dari pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) skala besar, reaktor modular kecil (SMR), hingga teknologi PLTN terapung dipaparkan secara komprehensif di hadapan Presiden Prabowo. Pihak Rusia juga memastikan komitmennya untuk mengutamakan keterlibatan industri serta SDM lokal di setiap fase proyek.
"Kami siap menawarkan kepada Indonesia lokalisasi maksimum proses teknologi pada tahap konstruksi PLTN hingga tahap pemeliharaannya," ujar Alexey Likhachev usai melakukan pertemuan penting dengan Presiden Prabowo.
Salah satu poin paling menarik yang menjadi primadona dalam diskusi tersebut adalah opsi pemanfaatan PLTN apung. Mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan ribuan pulau terpencil, teknologi pembangkit di atas platform terapung ini dinilai jauh lebih efisien, fleksibel, dan minim risiko dibanding pembangkit konvensional di darat.
"PLTN apung dapat dibangun dengan mempertimbangkan garis pantai yang panjang dan pulau-pulau di daerah kepulauan Indonesia," jelas Likhachev mengenai relevansi teknologi kapal nuklir tersebut bagi Indonesia.
Moskow menilai Jakarta sebenarnya telah memiliki modal dasar yang sangat kuat untuk mengadopsi energi ini. Di luar keberadaan reaktor penelitian dan kemajuan bidang kedokteran nuklir dalam negeri, Indonesia juga tercatat memiliki banyak talenta muda profesional yang menempuh studi nuklir di Rusia.
Ambisi Indonesia dalam transisi energi memang terbilang raksasa. Pemerintah menargetkan kapasitas PLTN sebesar 500 megawatt pada awal 2030-an, melonjak ke angka 7-8 gigawatt pada 2040-an, dan diproyeksikan menyentuh 35-37 gigawatt pada 2060-an. Guna merealisasikan target masif tersebut, Rosatom meyakinkan bahwa teknologi reaktor monster mereka adalah jawaban yang paling siap.
"Hal itu berarti kita tak bisa melakukannya tanpa bantuan pembangkit besar berdaya 1.000 megawatt dan 1.200 megawatt. Kami tahu cara membangunnya dalam iklim dan sistem regulasi yang berbeda," pungkas Likhachev penuh optimisme atas masa depan nuklir damai di bumi nusantara. (*)
Editor : Indra Zakaria