PROKAL.CO- Bayang-bayang ketakutan belum juga beranjak dari warga Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Teror serangan monyet liar makin menjadi-jadi setelah jumlah korban gigitan terus melonjak tajam hingga menyentuh angka 15 orang.
Korban paling baru adalah seorang anak yang harus dilarikan ke RSUD Puri Husada Tembilahan akibat luka gigitan serius di bagian leher. Tak lama sebelum insiden traumatis itu, seorang pria dewasa di kawasan Lorong Kubur juga tumbang dihantam gigitan monyet di bagian punggung hingga memerlukan penanganan medis darurat.
Keresahan warga makin membumbung tinggi lantaran satwa liar ini bergerak bak hantu, berpindah-pindah lokasi pemukiman dengan cepat dalam beberapa pekan terakhir. Kemunculannya dilaporkan menyebar di berbagai titik rawan, mulai dari Lorong Bintan, Lorong Sepakat Karya, Jalan Malagas, Jalan Setia Budi, Lorong Sederhana, Lorong Brata, Lorong Kubur, Gang Kubur, hingga kawasan Parit 15 Hilir di Kelurahan Tembilahan Hilir.
Sebagian besar korban menderita luka robek di tangan, kaki, serta anggota tubuh lainnya dan kini tengah menjalani perawatan intensif, termasuk mendapatkan suntikan vaksin antirabies untuk mencegah komplikasi fatal.
Di tengah situasi krisis ini, sebuah kejadian tak terduga muncul di Parit 15 Hilir. Seekor monyet yang diduga kuat sebagai dalang dari serangkaian serangan ditemukan tewas akibat luka tembak.
Petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Inhil, Wardanus, membenarkan temuan bangkai primata tersebut. Menurut penjelasannya, sebelum meregang nyawa, monyet itu sempat mengamuk, menerobos masuk ke sebuah bengkel, dan mengejar anak-anak yang tengah bermain di sekitar lokasi. Hingga saat ini, belum diketahui siapa sosok misterius yang melepaskan tembakan tersebut.
Meski satu ancaman telah tewas, Tim Pemda Inhil beserta aparat gabungan menegaskan bahwa perburuan dan pemantauan belum dihentikan. Belum ada jaminan pasti apakah monyet yang tertembak itu adalah pelaku tunggal atau bagian dari kawanannya.
Warga mengimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan ekstra, membatasi aktivitas anak-anak di luar rumah pada titik-titik rawan, dan segera menghubungi petugas penanganan satwa jika kembali melihat pergerakan mencurigakan dari primata liar. (*2/ali)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co