Ini Perbedaan MBG di Indonesia dengan Program Makan Siang di Sekolah di Jepang

Faroq Zamzami • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 09:10 WIB
Pelaksanaan MBG di SDN 018 Tenggarong (Elmo/Prokal.co)
PROGRAM: Pelaksanaan MBG di SDN 018 Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). ILUSTRASI/ELMO/PROKAL.CO

PROKAL.CO-Ini beberapa perbedaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia dengan program makan siang di sekolah di Jepang, yang dikumpulkan media ini dari berbagai sumber.

Awal mula
Indonesia: 6 Januari 2025. Program ini bagian dari realisasi program kampanye Presiden RI, Prabowo Subianto.

Menu yang disajikan tiap hari bervariasi. Salah satu contoh menu, nasi putih, ayam goreng tepung, sayur bening bayam, dan buah pisang.

Jepang: Makan siang di sekolah sudah dikenal sejak 1889. Dimulai di Prefektur Yamagata. Menu awalnya nasi, salmon asin, dan acar. Pada 1927, menunya berubah, nasi putih, makarel, sup miso dengan sayuran. Pada 1945 ada tambahan susu skim (tanpa lemak).

Baca Juga: Sejarah Makan Siang  

Biaya
Indonesia: MBG di sekolah-sekolah gratis, pakai dana APBN melalui Badan Gizi Nasional (BGN).

Jepang: Makan siang di sekolah-sekolah di Jepang, termasuk negeri, berbayar. Ini biaya makan siang di sekolah di Jepang saat media ini menyambangi sebuah sekolah terpadu (SD-SMP) Shibuya di kawasan Honmachi, Tokyo, Rabu (23/5/2018).

- Murid SD kelas bawah dikenakan 237 yen per sekali makan. Atau setara Rp 29.625 dengan kurs 1 yen Rp 125, saat itu.
- Murid SD kelas menengah dikenakan 251 yen per sekali makan siang. 
- Murid SD kelas atas 265 yen per sekali makan. 
- Siswa SMP dikenakan 322 yen per sekali makan.

Sasaran
Indonesia: Menu Program MBG tak hanya untuk pelajar tapi juga untuk kelompok rentan. Yakni, ibu hamil, ibu menyusui, dan bawah lima tahun (balita).

Jepang: Makan siang di sekolah hanya untuk pelajar dan guru masing-masing sekolah.

Yang mengolah menu
Indonesia: Program MBG dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Menu dibuat oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelola oleh mitra pemerintah.

Jepang: Menu makan siang dibuat di masing-masing sekolah. Contoh, di sekolah terpadu di Shibuya itu, tiap hari sekolah menyiapkan 800-an porsi makan siang. Untuk semua kelas di SD dan SMP. Ada dua pramusaji dan 10 koki yang mengolah makanan.

Menu
Indonesia: Merujuk pada Angka Kecukupan Gizi (AKG) dari Kementerian Kesehatan dan prinsip gizi seimbang "Isi Piringku" yang mencakup karbohidrat kompleks, protein hewani dan nabati, sayuran, serta buah.

Jepang: Semua jenis makanan khas dari seluruh daerah di Jepang menjadi santapan secara bergantian.

Tak hanya itu, secara reguler anak-anak juga mendapat jatah makanan khas mancanegara yang sekaligus menjadi momentum edukasi bagi mereka. Tentu dengan sentuhan yang sesuai standar sekolah.

Sumber bahan
Indonesia: Diutamakan pasokan pangan lokal yang memenuhi ketentuan, terutama yang dekat SPPG.

Jepang: Mengutamakan sentuhan lokal. Contoh di sekolah terpadu di Shibuya itu, untuk beras diambil dari koperasi pertanian di Akita, utara Jepang.

Bahan-bahan lainnya bersumber dari vendor yang sudah dipilih oleh masing-masing sekolah.

Baca Juga: Belajar Program Makan Siang Bergizi dari Jepang yang Sudah Dimulai Sejak Ratusan Tahun Lalu  

Susunan/penentuan menu
Indonesia: Menu disusun dan dikurasi secara ketat oleh tenaga ahli gizi resmi yang bekerja sama dengan kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta akuntan.

Jepang: Pihak sekolah dan orangtua ikut dalam memilih dan mengawasi bahan makanan.

Anak-anak yang alergi menu makanan tertentu, sudah diketahui dari awal sehingga, akan dibedakan ketika ada bahan yang membuat alergi.

Guru di tiap sekolah juga memberikan informasi nutrisi kepada anak didik mereka. Apa kandungan nutrisi dan vitamin di dalam makanan yang mereka santap, hingga dari mana bahan-bahannya.

Anak-anak diajarkan untuk cerdas dalam memilih makanan untuk kesehatan tubuh dan pikiran mereka.

Distribusi makanan
Indonesia: Makanan didistribusikan oleh SPPG. Umumnya SPPG menyiapkan menu harian untuk beberapa sekolah yang ada di sekitar lokasi dapur SPPG.

Ada nutrisionis yang mengawasi. Satu SPPG rata-rata mengolah di atas seribu porsi makanan.

Jepang: Makanan yang sudah siap konsumsi akan diantar para koki dari dapur di sekolah ke kelas-kelas. Lengkap dengan peralatan makan. Di tiap kelas ada murid yang piket, yang bertugas membagi jatah makan kepada teman-teman mereka.

Baca Juga: Menunya Berharap Gizi, Santri Tak Pernah Keracunan  

Waktu makan
Indonesia: Jenjang SD/MI, PAUD/TK/RA dijadwalkan pagi hari sekitar pukul 09.00. Jenjang SMP-SMA, makanan diantarkan pukul 11.30 untuk dikonsumsi pukul 12.00.

Jepang: Waktu makan mulai pukul 12.00 hingga 12.30. Saat menyantap menu paling lama 15 menit.

Nutrisionis
Indonesia: Setiap dapur atau SPPG idealnya didampingi oleh dua nutrisionis atau ahli gizi.

Mereka bertanggung jawab menyusun menu harian hingga mengontrol kualitas makanan untuk sekitar 1.000 hingga 3.000 porsi per hari.

Jepang: Nutrisionis sesuai kondisi sekolah. Contoh, di sekolah terpadu di Shibuya itu, ada dua nutrisionis yang mendampingi dalam pengolahan menu di sekolah ini.

Tak semua sekolah di Jepang memiliki dua nutrisionis. Ada yang satu. Ada juga yang beberapa sekolah di bawah koordinasi satu nutrisionis. (far)

Editor : Faroq Zamzami
makan siang di sekolah jepang program mbg SPPG