SEMARANG — Kasus dugaan keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali merebak dan menelan ratusan korban jiwa di berbagai daerah. Kasus terbaru meledak di Blora dan Rembang, Jawa Tengah, sementara di Sidoarjo, Jawa Timur, puluhan santri terpaksa dilarikan kembali ke rumah sakit usai gejala mual dan lemas mereka kambuh.
Di Blora, sebanyak 136 siswa dan seorang guru SMAN 1 Tunjungan mendadak menderita pusing, mual, hingga diare parah pada Selasa (8/9) usai mengonsumsi menu MBG yang dibagikan sehari sebelumnya. Kasus ini tercatat sebagai insiden ketiga yang melibatkan dapur pengolah dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukorejo 2.
"Mulai malam sekitar pukul 02.00 dan 03.00. Pagi sebelum berangkat sekolah dan ketika sudah di sekolah juga sempat ke toilet," tutur salah satu siswa korban keracunan, Rafa Eka Bagos.
Atas rentetan insiden ini, Ketua Satgas SPPG Blora Sri Setyorini menyatakan pihaknya bakal mengusulkan penghentian permanen operasional SPPG Sukorejo 2 ke Badan Gizi Nasional (BGN). Terlebih lagi, sempat ditemukan belatung pada lauk ayam yang dipasok dapur tersebut ke sekolah.
"Kami mau tidak mau harus mengusulkan untuk tutup," tegas Setyorini.
Puluhan Siswa di Rembang dan Puluhan Santri Sidoarjo Turut Bertumbangan
Kondisi serupa menghantam MAN 2 Rembang. Sebanyak 26 siswa dan sembilan guru mendadak jatuh sakit dengan gejala pusing, muntah, dan lemas usai menyantap santapan MBG olahan SPPG Ngemplak. Sebanyak sembilan siswa di antaranya bahkan harus dipasang infus di Puskesmas Lasem. Pihak sekolah kini telah menghentikan sementara pembagian program makanan gratis tersebut.
Sementara itu di Sidoarjo, penderitaan 45 santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam belum usai. Meski sempat dipulangkan usai dirawat akibat keracunan MBG pekan lalu, gejalanya mendadak kambuh hingga mereka kembali dilarikan ke RSUD R.T. Notopuro dan RSI Siti Hajar.
Tim medis menduga kondisi lambung santri yang masih sensitif serta daya tahan tubuh yang belum pulih menjadi pemicu kambuhnya gejala tersebut.
Maraknya kasus keracunan di berbagai wilayah membongkar bobroknya kesiapan fasilitas dapur penyedia. Di Kabupaten Sidoarjo saja, dari 174 SPPG yang beroperasi, terkuak sebanyak 21 unit belum memiliki izin resmi dan 22 lainnya masih dalam tahap pengurusan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Rentetan kasus ini kian menambah daftar panjang korban dampak buruk MBG. Kasus paling memprihatinkan sebelumnya juga menimpa FP (16), siswi berprestasi asal Karo, Sumatera Utara, yang kini harus berjuang memulihkan ingatan akibat penurunan fungsi kognitif hingga 70 persen serta kejang berulang usai diduga terpapar bakteri bahaya dari sajian MBG. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co