JAKARTA — Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, melaporkan perkembangan terkini penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera dan Kalimantan langsung kepada Presiden pada Rabu (23/9/2026). Dalam laporannya, Suharyanto menyampaikan bahwa meski paparan kabut asap masih cukup pekat di sejumlah daerah, roda kehidupan dan aktivitas harian masyarakat dipastikan tetap berjalan normal.
Suharyanto mengonfirmasi bahwa kendala utama pemadaman berada di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat akibat pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang belum bisa berjalan maksimal.
"Karena OMC, terutama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, tidak dapat dilaksanakan secara maksimal, sehingga mengakibatkan asapnya cukup tebal," kata Suharyanto.
Meskipun jarak pandang yang terbatas memicu gangguan pada transportasi penerbangan komersial, patroli udara, hingga operasi pemboman air (water bombing), pihak BNPB memastikan aktivitas perekonomian di tingkat lokal tidak melumpuh.
"Tapi kami pastikan roda kehidupan masyarakat ini berjalan normal. Jadi, lalu lintas, toko-toko, rumah makan, dan lain sebagainya juga biasa. Tidak ada yang terganggu," tegasnya.
Ia menambahkan, dampak ketebalan asap lebih memengaruhi mobilitas keluar-masuk wilayah ketimbang rutinitas domestik warga.
Berdasarkan data penanganan harian, total luas lahan yang terbakar sempat menyentuh angka 1.212,52 hektare, di mana tim satgas darat dan udara berhasil memadamkan 1.002,74 hektare di antaranya. Sisa area terdampak seluas 209,78 hektare kini berada dalam proses pemadaman intensif, dengan konsentrasi lahan terbakar terbesar berada di Kalimantan Selatan seluas 63,16 hektare dan terkecil di Kalimantan Barat seluas 11,74 hektare.
BNPB memproyeksikan ancaman karhutla dan sebaran kabut asap dapat terkendali sepenuhnya seiring masuknya musim hujan, yang diperkirakan berlangsung mulai pertengahan Oktober hingga minggu ketiga November 2026. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co