PROKAL.CO, PENAJAM- Stok ayam potong dan ayam petelur di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dinilai stabil.
Kepala Dinas Pertanian PPU, Rozihan Asward, melalui Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Ristu Pramula, menyampaikan berdasarkan data terbaru di lapangan, untuk kategori ayam potong, terdapat kurang lebih 320 peternak yang tersebar di seluruh wilayah PPU.
Baca Juga: Target 2028: Pemerintah Bidik 4.100 ASN Berkantor di IKN Nusantara
"Seluruh peternak merupakan peternak mandiri yang tergabung dalam sistem plasma dengan berbagai perusahaan yang berbeda," kata Ristu, Senin (20/4/2026).
Ia menuturkan, meskipun dikelola secara mandiri melalui kemitraan plasma, kapasitas produksi dari masing-masing peternak tergolong cukup besar.
"Angka kapasitas ini bervariasi bergantung pada luas kandang yang dimiliki oleh setiap peternak," ujarnya.
Di antaranya, kapasitas maksimal bisa mencapai 4.000 ekor per peternak. Jika dirata-rata, kapasitas berada di angka sekitar 3.000 ekor per peternak.
Baca Juga: Stok Beras di Samarinda Dipastikan Aman, Bulog Siap Perkuat Stabilisasi Harga Melalui Beras SPHP
"Kami optimistis bahwa kebutuhan masyarakat akan ayam potong akan terpenuhi tanpa adanya risiko kekurangan stok di pasar," jelasnya.
Berbeda dengan sektor ayam potong yang didominasi sistem plasma, sektor ayam petelur di wilayah PPU masih sepenuhnya dijalankan oleh para peternak secara mandiri. Hingga saat ini, tercatat hanya ada 10 peternak yang masih aktif bertahan.
"Jumlah ini mengalami penurunan signifikan dibandingkan laporan sebelumnya yang sempat mencapai sekitar 20 peternak," tuturnya.
Alasan menurun, lanjut Ristu, kendala utama yang dihadapi adalah tidak adanya skema kemitraan (plasma) dengan perusahaan besar.
Sehingga seluruh biaya operasional ditanggung secara pribadi oleh peternak. Meski peternak terbatas, lanjut Ristu, produksi telur lokal di PPU tergolong cukup produktif dengan total mencapai sekitar 73.000 butir per hari dari 10 kandang yang ada.
Namun, para peternak lokal kerap mengeluhkan masuknya pasokan telur dari luar daerah dalam jumlah melimpah.
"Mereka (peternak lokal) sering kewalahan kalau ada telur luar masuk karena harganya jauh lebih murah (karena banting harga)," ungkapnya.
Ristu menyebutkan, meski kalah dari sisi harga, telur lokal diklaim unggul dalam segi kualitas dan kesegaran. Telur lokal mampu bertahan hingga satu bulan dibandingkan telur luar yang lebih cepat mengalami pembusukan.
Disinggung terkait bantuan yang disalurkan, Ristu membeberkan, berdasarkan aturan, bantuan hanya bisa diberikan kepada peternak yang telah membentuk kelompok tani.
"Bantuan bisa diberikan asal peternak membentuk kelompok tani. Bantuan tidak dapat disalurkan kepada mereka yang mandiri," ulasnya.
Baca Juga: Gelar Lagi Tradisi Night Race, Ribuan Penggemar Saksikan Yamaha Cup Race Sidrap
Ristu mengimbau, untuk syarat kelompok, para peternak dapat bergabung minimal terdiri dari 10 orang dalam satu domisili. Namun, kondisi di lapangan, karena lokasi kandang peternak yang tersebar dan berjauhan, menyulitkan pembentukan kelompok yang terintegrasi dalam satu kawasan. (ami/far)
Editor : Faroq Zamzami