Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kondisi Internasional yang Lagi Bergejolak, yang Pijit Kepala Penjual Sayur di Penajam, Kok Bisa

Redaksi • Senin, 27 April 2026 | 09:24 WIB
KENA IMBAS: Kenaikan harga plastik pembungkus menjadi perhatian pedagang di Penajam karena dianggap menggerus pendapatan harian mereka. AHMAD MAKI/KALTIM POST
KENA IMBAS: Kenaikan harga plastik pembungkus menjadi perhatian pedagang di Penajam karena dianggap menggerus pendapatan harian mereka. AHMAD MAKI/KALTIM POST

PROKAL.CO, PENAJAM- Kenaikan harga plastik kemasan menjadi sorotan pedagang di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Meski bukan tergolong bahan pokok penting (Bapokting), kenaikan material ini menggerus pendapatan harian pedagang.

Dari pantauan Kaltim Post, kenaikan harga terjadi untuk berbagai ukuran plastik. Jainal, kasir Al Hasan Sayur di Jalan Propinsi Kilometer 4, Nenang, merincikan kenaikan harga partai plastik mulai dari ukuran kecil (15) yang biasa memuat beban sekitar 1 kilogram, hingga ukuran besar (40) yang mampu menampung beban hingga 25 kilogram.

Baca Juga: Jelang Keberangkatan Jamaah Calon Haji Asal PPU, Diingatkan Banyak Istirahat, Prediksi Suhu di Tanah Suci Bisa Mencapai 42 Derajat

"Naiknya harga plastik terjadi cukup drastis dalam waktu singkat," kata Jainal, Jumat (24/4/2026).

Dirinya mencontohkan, untuk plastik ukuran 15, sebelumnya Rp 13.000 per pak, kini melonjak menjadi Rp 18.000 per pak. Sedangkan plastik ukuran 40 yang sebelumnya dibanderol Rp 25.000 per pak, saat ini sudah menyentuh harga Rp 30.000 per pak.

"Harga juga sangat bergantung pada merek plastik yang dipilih oleh pembeli. Satu ikat plastik biasanya berisi lima hingga 10 pak, bergantung jenis ukurannya," jelasnya.

Kenaikan harga plastik ini tentu menjadi beban tambahan bagi para pedagang sayur, lantaran penggunaannya sangat krusial dalam transaksi harian. Ia mengaku, berada dalam posisi sulit.

Di satu sisi, biaya operasional meningkat akibat mahalnya plastik, di sisi lain, mereka tidak bisa serta-merta menaikkan harga timbangan bapokting kepada konsumen.

Baca Juga: Warga RT 15 Wika Balikpapan Utara Tata Taman Terbuka Hijau, Bangun Gazebo, hingga Benahi Sarana Bermain Anak

"Ya pasti ada pengaruhnya, Mas. Hitungannya menggerus pendapatan karena (plastik) jadi lebih mahal," ujarnya.

Kondisi ini memaksa pedagang untuk bertahan dengan margin keuntungan yang semakin mengecil demi menjaga loyalitas pelanggan. Mereka berharap harga barang-barang penunjang seperti plastik dapat kembali stabil agar beban usaha mereka tidak semakin berat.

Terpisah, kepala BPS Kabupaten PPU, Suko Haryono, melalui staf tim statistik harga BPS PPU, Faliq Ridho, membenarkan kenaikan harga pada  plastik pengemas yang mulai dirasakan sejak periode April 2026.

Meski plastik kemasan tidak masuk dalam daftar 242 komoditas yang disurvei pada survei harga konsumen untuk menghitung angka Indeks Harga Konsumen (IHK) dan inflasi, dampaknya kini mulai menjalar ke berbagai sektor usaha kecil (UMKM).

"Salah satu temuan lapangan menunjukkan kenaikan harga yang terjadi pada plastik kemasan yang sering digunakan pelaku usaha," ungkapnya.

Baca Juga: Persaingan Sengit Papan Atas: Lefundes Minta Borneo FC Jaga Momentum demi Geser Persib

Ia menyebutkan, kenaikan ini disinyalir merupakan dampak dari kondisi geopolitik global yang belum stabil, yang kemudian memengaruhi biaya produksi bahan baku plastik.

Selain kenaikan harga jual produk akhir, BPS juga menyoroti fenomena shrinkflation. Fenomena ini terjadi ketika produsen memilih untuk menjaga harga jual tetap stabil tapi mengurangi volume atau berat isi produk.

"Harganya sama, tapi ukurannya dikurangi. Kami mencatat hal ini terjadi pada beberapa komoditas, seperti tempe mentah, tahu mentah, serta beberapa komoditas bahan makanan lain," jelasnya.

Menurutnya, strategi ini sering diambil pelaku usaha untuk menyiasati lonjakan biaya kemasan tanpa harus kehilangan konsumen akibat kenaikan harga yang terlalu signifikan.

"Fungsi utama kami adalah memotret dan mencatat data harga di lapangan sesuai kondisi yang sebenarnya. Hingga saat ini, BPS terus memantau pergerakan harga komoditas lain yang berpotensi terdampak oleh kenaikan harga bahan pendukung seperti plastik ini," katanya. (ami/far)

Editor : Faroq Zamzami
#plastik kemasan #bps #Penajam Paser Utara (PPU)