PROKAL.CO, PENAJAM-Belasan bocah, berpakaian dominan merah, berpadu kuning, hijau, dan hitam, bergerak lincah di atas panggung.
Masing-masing membawa tampih beras, menggerakkan tubuh selaras, berlarian kecil sana-sini, berpindah-pindah posisi.
Anak-anak usia SD ini menyuguhkan tarian bertema pedalaman. Sebuah aksi panggung yang bercerita tentang keseruan warga Kaltim di pedalaman yang sedang memasuki musim panen.
Tarian anak-anak itu menggambarkan tentang aktivas mereka yang penuh keceriaan membantu orang tua memanen hasil dari bercocok tanam yang disimbolkan membawa tampih, alat tradisional untuk membersihkan beras.
Aksi mereka disaksikan dengan penuh antusias oleh warga yang memadati Alun-Alun Penyembolum, Kompleks Kantor Bupati Penajam Paser Utara (PPU), Sabtu (27/6/2026), malam.
Sajian tari dari belasan penari cilik itu adalah rangakaian dari gelaran Benuo Taka Art Fest (BTAF) 2026 yang digelar oleh Sanggar Seni Borneo Benuo Taka (BBT) PPU.
Para orang tua anak-anak itu memberikan suara-suara dukungan dari bangku penonton di hadapan panggung.
Suasana di bangku penonton jadi semakin meriah dengan kehadiran anak-anak Pramuka PPU yang selalu meneriakkan yel-yel penyemangat tiap penampil usai beraksi.
Sebelum aksi penari cilik dengan tema pedalaman itu, belasan penari cilik lainnya menyuguhkan tari ronggeng. Mereka mengenakan kostum hitam dan kuning.
Gerakan mereka yang lincah memantik reaksi para orangtua yang meneriakkan suara-suara penyemangat.
Selain aksi penari cilik yang membawakan tari ronggeng dan tari pedalaman, sajian seni dan budaya itu juga diisi aksi tarian dari Sanggar Seni Sapati Cabang Samarinda yang menyuguhkan tarian dari Suku Buton, Sulawesi Tenggara (Sulteng). Juga aksi teatrikal dari Sanggar Seni BBT PPU.
Agenda ini dibuka oleh Asisten III, Bidang Administrasi Umum, SekkabPPU, Chairul Rozikin, yang mewakili Bupati PPU, Mudyat Noor.
Hadir juga saat itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) PPU, Safwana.
Ary Febrian Masis, Ketua Panitia BTAF 2026 yang juga Founder Sanggar Seni BBT, mengatakan BTAF 2026 terlaksana atas dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan RI melalui Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan, yang disalurkan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Kalimantan Timur (Kaltim).
Founder BBT itu terpilih sebagai salah satu penerima program tersebut dan menjadi satu-satunya perwakilan di PPU.
Kata dia, Benuo Taka Artfest 2026 bukan sekadar panggung pertunjukan, melainkan ruang temu, ruang tumbuh, dan perayaan kreativitas bagi seluruh lapisan masyarakat.
“BTAF 2026 ini merupakan agenda perdana Sanggar Seni BBT yang kami harapkan akan terus terlaksana pada tahun-tahun selanjutnya,” kata dia.
BTAF 2026 yang digelar dua hari, Jumat (26/6/2026) dan Sabtu (27/6/2026) itu dikemas dengan memadukan empat unsur utama.
Yakni, permainan tradisional, pameran museum budaya mini, pementasan seni dan budaya (kolaborasi seni tari, musik, dan teater), serta gebyar UMKM lokal.
Nostalgia permainan tradisional digelar pada Jumat, 26 Juni 2026, mulai pukul 14.00 hingga 18.00 Wita. Pameran museum budaya mini pada Sabtu, 27 Juni 2026, mulai pukul 18.00.
Malam pentas seni dan budaya, Sabtu, 27 Juni 2026, mulai pukul 18.00. Serta gebyar UMKM lokal pada 26 dan 27 Juni 2026, mulai pukul 16.00. Semua agenda dipusatkan di Alun-Alun Penyembolum.
Event ini melibatkan sedikitnya 100 insan seni (termasuk penari, pemusik, aktor, dan kru produksi) yang sebagian besar merupakan generasi muda kreatif lokal.
“BTAF ini 90 persen panitianya anak-anak usia sekolah. Bahkan panitia aktif ada dua orang masih SD. Ini bukti pemajuan seni dan budaya tak memandang usia,” katanya.
Lestari, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Kaltim, yang hadir dalam malam pementasan itu memberikan apresiasi anak-anak muda PPU yang memiliki ide luar biasa dalam melestarikan seni dan budaya dalam ajang pameran dan pementasan ini.
Yang mengharukan, kata dia, sajian dari anak-anak PPU yang dengan lincah membawakan tarian ronggeng.
Tari ronggeng, kata dia, kini sudah menjadi warisan budaya tak benda, yang artinya kini sudah tak lagi menjadi milik PPU saja, tapi sudah menjadi milik Kaltim.
“Karena tari ronggeng sudah ditetapkan sebagai warisan budaya, jadi kewajiban kita bersama untuk melestarikannya,” kata Lestari.
Dia menambahkan, BTAF 2026 ini masuk dalam agenda yang mendapat kucuran dana dari pihaknya.
Di tengah efisiensi, kata dia, kegiatan pelastarian budaya yang melibatkan masyarakat tidak dipotong, angkanya sama tahun lalu.
Dia berharap, tahun depan anggaran untuk pelestarian budaya ditingkatkan. (*)