Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Rita Widyasari Kembali Muncul ke Publik, Bangun Narasi Baru atau Panaskan Mesin Politik?

Elmo Satria Nugraha • Rabu, 10 Juni 2026 | 21:06 WIB
Dosen Fisip Universitas Mulawarman, Jumansyah menanggapi kembalinya Rita Widyasari ke publik (Istimewa)
Dosen Fisip Universitas Mulawarman, Jumansyah menanggapi kembalinya Rita Widyasari ke publik (Istimewa)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Hampir satu dekade setelah tersandung kasus korupsi yang menyeretnya ke balik jeruji besi, nama Rita Widyasari kembali menjadi perbincangan publik. Mantan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) periode 2010–2017 itu muncul kembali ke ruang publik melalui media sosial, memantik beragam reaksi, mulai dari dukungan, empati, hingga spekulasi politik.

Kemunculan Rita terjadi melalui akun Instagram pribadinya, @ritawidyasari.official, yang mulai aktif pada Senin (8/6/2026). Dalam waktu tiga hari, akun tersebut telah mengunggah sedikitnya 10 video dan mengumpulkan lebih dari 18 ribu pengikut.

Video pertama berdurasi 1 menit 33 detik menjadi pembuka kembalinya Rita ke hadapan masyarakat. Dalam rekaman itu, ia menyampaikan salam, ucapan terima kasih, sekaligus permintaan maaf kepada masyarakat yang selama ini mengikuti perjalanan hidupnya.

“Assalamualaikum, saya Rita Widyasari. Masih ingat ndik dengan saya? Ini akun pertama saya setelah bebas. Terima kasih kepada semua yang telah mendoakan, terus mendoakan, mendukung, dan menjaga saya dengan doa serta perhatian selama ini,” ujar Rita.

Tak hanya menyampaikan rasa terima kasih, Rita juga menyinggung proses hukum yang pernah menjeratnya. Ia mengaku masih terdapat sejumlah hal yang menurutnya tidak sesuai dengan fakta dan kenyataan selama proses penyidikan berlangsung.

“Hari ini saya datang bukan untuk memperbesar masalah, tetapi untuk memulai langkah baru, menjaga amanah, memperbaiki diri, dan terus berbuat yang terbaik untuk masyarakat Kukar dan Kalimantan pada umumnya,” katanya.

“Sekali lagi saya meminta maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan. Jika memang ada kesalahan, saya mengakuinya. Tetapi saya juga akan menjelaskan bahwa ada prosedur-prosedur yang menurut saya tidak sesuai dengan fakta dan kenyataan.”

Unggahan tersebut segera dibanjiri komentar. Banyak warganet menyampaikan doa, dukungan, hingga nostalgia terhadap masa kepemimpinannya di Kukar.

“Sehat selalu ibu. Mari bu rebut kembali,” tulis salah satu akun.

“Bunda Kaltim 01, sehat selalu dalam lindungan Allah SWT,” tulis akun lainnya.

Ada pula komentar yang mengenang pengalaman bekerja di bawah kepemimpinan Rita.

“Pernah masanya kerja di bawah kepemimpinan beliau. Sangat menghargai. Bukan kami saja yang menghargai beliau sebagai bupati waktu itu, namun beliau juga sangat menghargai kami. Sehat selalu bunda,” tulis seorang pengguna Instagram.

Fenomena kembalinya Rita ke ruang publik kemudian memunculkan berbagai pertanyaan. Apakah kemunculan ini merupakan upaya membangun kembali citra diri setelah menjalani proses hukum? Ataukah menjadi sinyal awal dari dinamika politik yang akan datang?

Fenomena ini mendapat perhatian dari kacamata akademisi. Jumansyah, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Mulawarman menilai penokohan Rita sedari dulu menguatkan basis pendukungnya. Ia meyakini dukungan Rita dari sebagian masyarakat dan kelompok tertentu di Kukar telah mengkristal seiring berjalannya waktu.

“Ketika masyarakat melihat ibu Rita, tentu ada konektivitas tertentu. Saya menduga sebagian besar orang yang memberikan komentar di media sosial memiliki kedekatan atau hubungan secara personal, baik sebagai masyarakat maupun ketika beliau masih menjadi pemimpin. Karena itu muncul kembali empati dari sebagian masyarakat," sebut Jumansyah.

Meski demikian, jumlahnya masih sangat kecil secara persentase. Sehingga tidak bisa dijadikan variabel utama untuk menilai apakah tingkat elektabilitas Rita masih tinggi atau tidak. Tetapi secara personal, Jumansyah yakin dari fenomena ini dapat dilihat bahwa masih ada kelompok masyarakat tertentu yang menerima Rita atas ketokohannya.

“Politik kita masih memiliki kecenderungan bertumpu pada ketokohan dan basis kemasyarakatan," jelasnya.

Ketokohan, sebut Jumansyah, menjadi jembatan krusial untuk sosial-politik. Karena pada akhirnya, masyarakat yang memegang mandat tertinggi melalui pilihan mereka. Dan Rita Widyasari kembali di media sosial, menunjukkan bahwa sosok tokoh itu telah kembali di ruang publik. Menunjukkan eksistensi dirinya kepada masyarakat, terlepas dari apa pun tujuannya membuat akun.

Dari 10 video yang telah Rita unggah di medsos pribadinya, mayoritas berisi klarifikasi terhadap beberapa kasus yang menimpanya. Mulai dari persoalan harta Rp237 Miliar yang disebutnya hasil kira-kira. Tuduhan atas 110 mobil mewah yang bukan miliknya hingga polemik suap, jual beli emas dan status kebebasannya.

Rita mengaku bahwa ia telah dinyatakan Bebas Murni setelah menjalani masa hukumannya per tanggal 17 Agustus 2025 lalu. Namun, minimnya pemberitaan media membuatnya sempat bingung dan ketakutan saat beraktivitas di ruang publik.

Jumansyah menilai, rasionalisasi atau pembelaan terhadap kasus hukum yang sudah diputuskan tidak lagi relevan. Ketika seseorang sudah divonis, maka proses hukumnya sudah selesai.

Mungkin saja, ujar Jumansyah, ada upaya membangun narasi tertentu terhadap lembaga atau proses hukum. Tetapi secara rasional saat seluruh unsur hukum terpenuhi dan seseorang telah menjadi terpidana, maka perkara itu selesai.

“Dalam konteks politik, statusnya tetap sebagai mantan terpidana. Karena itu tidak perlu lagi mencari apology atau pembenaran yang justru berpotensi menimbulkan persoalan baru," tegasnya.

Kembalinya Rita juga tidak lepas dari potensi ia memanaskan mesin politik. Sekalipun Rita tidak bisa mencalonkan diri di Kukar. Rita masih bisa berdinamika dalam percaturan politik Kalimantan Timur. Dan jejaring politik Rita adalah rahasia umum, semua mengetahui tingkatannya di lokal maupun nasional.

“Loyalis beliau juga tidak serta-merta hilang. Banyak orang yang pernah dibesarkan dalam agenda politik beliau dan saat ini memegang posisi strategis di tingkat lokal," sambungnya.

Dan dalam politik, kecenderungan balas budi pasti ada. Karena itu, pengaruh politik seseorang tidak selalu hilang meskipun yang bersangkutan sudah tidak lagi menjabat. Meski kendaraan politik serta timnya belum jelas, agenda politik itu sudah pasti ada dengan berbagai pernyataan Rita.

“Yang terlihat dari narasi yang dibangun saat ini adalah upaya meyakinkan publik bahwa dirinya masih memiliki keterikatan dengan masyarakat Kutai Kartanegara. Secara simbolik, beliau ingin menunjukkan bahwa dirinya masih memiliki hubungan emosional dan kedekatan dengan warga Kukar," tutup Jumansyah. (moe)

Editor : Indra Zakaria
#rita widyasari