SAMARINDA – Di tengah perkembangan transportasi darat dan kemajuan teknologi kota, satu warisan budaya masih bertahan di tepi Sungai Mahakam yaitu perahu tambangan. Perahu tradisional ini bukan hanya alat transportasi, tetapi juga bagian penting dari identitas budaya masyarakat Samarinda dan sekitarnya.
Apa sih itu Perahu Tambangan?
Perahu Tambangan berupa perahu kayu kecil yang dilengkapi mesin, digunakan untuk menyeberangi Sungai Mahakam, sungai utama yang memisahkan Kota Samarinda. Sebelum adanya jembatan Mahakam, masyarakat sangat bergantung pada transportasi air ini.
Meskipun sekarang banyak jalan dan jembatan, perahu tambangan masih berfungsi di beberapa lokasi, seperti di wilayah Pasar Pagi, Loa Bakung, dan Kampung Baqa.
Perahu Tambangan ini memiliki fungsi dan sosial budaya yang masih ada,selain digunakan untuk transportasi sehari-hari, tambangan juga memiliki arti historis dan sosial. Ia menghubungkan kampung-kampung tua di Samarinda, menjadi lambang kearifan lokal dalam pemanfaatan sungai yang berkelanjutan, serta tempat berkumpulnya warga yang hidup berdampingan dengan alam.
Di beberapa area, perahu tambangan bahkan menjadi bagian dalam upacara adat atau kegiatan tradisional, seperti penyeberangan saat acara selamatan atau festival budaya.
Namun, keberadaan tambangan menghadapi berbagai tantangan.
Beberapa penyebabnya termasuk pembangunan jembatan dan jalan tol yang mengurangi kebutuhan untuk menyeberang sungai, semakin sedikitnya anak muda yang tertarik menjadi pengemudi tambangan, serta polusi dan pendangkalan sungai yang menyulitkan navigasi.
Berbagai langkah sudah mulai diambil untuk menjaga budaya tambangan agar tidak hilang:
Terbentuknya Komunitas budaya di Samarinda yang mulai mendokumentasikan kisah dan sejarah tambangan,Dinas pariwisata yang mulai memperkenalkan tambangan sebagai bagian dari wisata di Sungai Mahakam.
Sekolah-sekolah mulai mengajarkan cerita tentang perahu tambangan dalam kurikulum lokal dan pendidikan sejarah daerah,serta ada juga rencana untuk mengadakan "Festival Perahu Tambangan" sebagai acara tahunan untuk merayakan budaya sungai di Samarinda.
Perahu tambangan lebih dari sekadar alat untuk menyeberang.
Ia melambangkan hubungan masyarakat Samarinda dengan sungai, budaya, dan lingkungan. Di era yang terus berubah ini, tambangan mengingatkan kita bahwa kemajuan tidak seharusnya melupakan akar.
"Selama Sungai Mahakam mengalir, perahu tambangan akan tetap ada, setidaknya dalam ingatan dan budaya masyarakat Samarinda. (Fitri Novita Sari)