PROKAL.CO, SAMARINDA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menutup sementara alur pelayaran di kawasan Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) menyusul insiden tabrakan tongkang M80-1302 dengan pilar keenam (P6) jembatan, Selasa (23/12). Penutupan dilakukan hingga pemeriksaan struktur jembatan rampung demi menjamin keselamatan publik.
Kabid Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat Satpol PP Kaltim, Edwin Noviansyah Rachim, menegaskan langkah tersebut merupakan hasil keputusan rapat lintas instansi dan instruksi langsung Gubernur Kaltim.
“Alur ditutup sementara sampai pemeriksaan uji struktur selesai. Ini keputusan bersama karena keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama,” kata Edwin di Samarinda.
Edwin menjelaskan, Satpol PP Kaltim mengerahkan personel untuk mengamankan proses pemeriksaan teknis yang dilakukan Dinas PUPR-Pera Kaltim, baik di sisi darat maupun bawah jembatan.
“Hari ini kita sama sama lakukan pengamanan bersama KSOP dan dari tim teknis PUPR. Tim teknis memastikan apakah ada pergeseran atau dampak terhadap struktur utama jembatan. Kami mengawal penuh agar proses pemeriksaan berjalan aman dan lancar,” ujarnya, Rabu 24 Desember 2025.
Sejalan dengan penutupan tersebut, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Samarinda telah menerbitkan Notice to Marine (NtM) kepada seluruh nakhoda, operator kapal, dan perusahaan pelayaran.
Dalam pemberitahuan tertanggal 23 Desember 2025, KSOP menyampaikan bahwa akan dilakukan pengecekan struktur Jembatan Mahakam Ulu pascainsiden tubrukan antara tongkang M80-1302 yang ditarik Tugboat KD 2018 dengan tiang jembatan. Pemeriksaan fisik oleh tim PUPR dijadwalkan pada 24 Desember 2025 mulai pukul 07.30 Wita hingga selesai.
“Sehubungan dengan kegiatan tersebut, seluruh kapal diminta tidak melintas di area Sungai Mahakam Ulu, tidak melakukan aktivitas pengolongan, serta meningkatkan kewaspadaan,” demikian bunyi Notice to Marine KSOP Samarinda.
Edwin menyebut hasil pemeriksaan awal diperkirakan dapat diketahui dalam waktu dua hari. Ia berharap tidak ditemukan kerusakan signifikan pada struktur jembatan.
“Pak Gubernur sangat peduli soal keselamatan. Harapannya hasil pemeriksaan cepat keluar dan tidak ada masalah serius, sehingga aktivitas bisa kembali normal,” ujarnya.
Namun demikian, Edwin menegaskan pemerintah telah menyiapkan skenario antisipasi apabila ditemukan gangguan pada struktur jembatan.
“Kalau memang ada persoalan, bisa saja dilakukan pengaturan lalu lintas. Kendaraan berat dialihkan ke Jembatan Mahakam I, sementara kendaraan kecil lewat Mahulu. Tapi itu masih wacana, semoga tidak perlu dilakukan,” jelasnya.
Sebelumnya, insiden tabrakan menyebabkan fender besi pelindung pilar utama Jembatan Mahulu hilang. Dari hasil penelusuran awal, pengolongan tongkang diduga dilakukan di luar jadwal operasional dan tanpa pendampingan petugas pandu.
Informasi dihimpun media ini, di luar jadwal pengolongan di Jembatan Mahulu seharusnya dimulai pukul 07.00 Wita, sementara tongkang M80-1302 diduga melintas sekitar pukul 05.00 Wita.
Hingga kini, insiden tersebut masih dalam proses investigasi oleh tim gabungan. (*)
Editor : Indra Zakaria