SAMARINDA – Teka-teki siapa yang bakal mengisi kursi panas Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda kini memasuki babak penentuan. Dari lima nama yang sebelumnya bersaing, proses seleksi melalui sistem manajemen talenta telah mengerucutkan pilihan menjadi tiga figur kuat: Neneng Chamelia Shanti, Ananta Fathurrozi, dan Marnabas Patiroy.
Menariknya, meski jabatan Sekda adalah posisi puncak bagi seorang ASN di tingkat daerah, ketiga kandidat ini justru menunjukkan sikap yang serupa: tenang dan sama-sama merendah.
Neneng Chamelia Shanti, yang saat ini menjabat sebagai Inspektur Kota Samarinda, mengaku baru menerima kepastian langkahnya ke tahap akhir pada Kamis (26/3) siang. Tak berselang lama, ia langsung dihadapkan pada jadwal wawancara eksklusif bersama Wali Kota Samarinda, Andi Harun.
Meski segalanya terasa berjalan cepat, Neneng memilih untuk tidak jemawa. Baginya, proses ini adalah bagian dari tugas kedinasan yang harus dijalani secara profesional.
“Ya, jalani saja. Masalah jadi atau tidak itu kepercayaan. Kami sebagai ASN memang bertugas mengikuti tahapan ini,” ujar Neneng dengan nada santai. Ia pun menegaskan kesiapannya menerima apa pun keputusan pimpinan nantinya. “Kalau tidak terpilih, ya diterima saja,” tambahnya.
Senada dengan Neneng, Ananta Fathurrozi yang kini menjabat Kepala BPKAD Samarinda, memandang seleksi ini dari sudut pandang tanggung jawab. Dengan masa pengabdian sebagai ASN sejak tahun 1988, Ananta menyerahkan penilaian sepenuhnya kepada Wali Kota sebagai pengguna (user).
Menurutnya, kriteria utama bukan sekadar kecakapan administratif, melainkan kemampuan untuk menyelaraskan visi pimpinan di internal maupun eksternal birokrasi.
“Ini kan penilaian dari user. Wali Kota akan melihat apakah calon ini mampu membantu beliau, baik di dalam maupun di luar,” kata Ananta. Di usianya yang menyisakan sekitar dua setengah tahun menuju masa pensiun, ia mengaku tanpa beban. “Pokoknya siap. Diturunkan pun saya siap, karena itu tanggung jawab yang harus kami terima,” tegasnya.
Di sisi lain, kandidat ketiga, Marnabas Patiroy, menunjukkan sikap yang lebih irit bicara. Alih-alih berkomentar panjang lebar mengenai peluangnya meraih kursi Sekda, ia justru terlihat sibuk di garis depan pelayanan publik.
Saat dikonfirmasi, Marnabas mengaku sedang fokus memimpin pembersihan puing-puing sisa kebakaran di Pasar Pagi yang terjadi Kamis lalu. Baginya, kerja nyata di lapangan saat ini jauh lebih penting daripada berpolemik soal jabatan.
Tahapan wawancara dengan Wali Kota Andi Harun pada Jumat (27/3) menjadi saringan terakhir yang sangat menentukan. Siapa pun yang terpilih nantinya akan mengemban tugas berat sebagai jembatan utama antara kebijakan kepala daerah dengan seluruh perangkat birokrasi di lingkungan Pemkot Samarinda.
Kini, publik tinggal menunggu siapa di antara "tiga pendekar birokrasi" ini yang akan dipercaya untuk menakhodai administrasi Kota Tepian ke depan. (*)
Editor : Indra Zakaria