PROKAL.CO, SAMARINDA – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Samarinda memastikan sistem Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 tidak ditemukan indikasi peretasan maupun anomali data selama proses penerimaan siswa berlangsung.
Sekretaris Diskominfo Samarinda, Suparmin menjelaskan sebelum aplikasi SPMB digunakan, seluruh sistem telah melalui serangkaian pengujian, mulai dari kesesuaian dengan petunjuk teknis (juknis), uji beban (load test), hingga penetration test untuk menguji keamanan aplikasi dari berbagai potensi serangan siber.
"Sebelum sistem dirilis, semuanya sudah melalui tahapan testing. Mulai dari kesesuaian dengan juknis, uji beban agar sistem tetap andal saat diakses bersamaan, hingga penetration test terhadap berbagai metode yang biasa digunakan peretas. Semua itu sudah kami lakukan," ujarnya.
Menurut Suparmin, selama pelaksanaan SPMB, server tidak pernah mengalami gangguan maupun down. Selain itu, Diskominfo juga telah melakukan audit forensik terhadap server untuk memastikan seluruh aktivitas dalam sistem berjalan normal.
Hasil audit menunjukkan tidak ditemukan log atau catatan aktivitas yang mencurigakan maupun akses ilegal dari pihak luar.
"Server kami sudah dilakukan audit forensik dan seluruh log telah kami serahkan. Tidak ada anomali, tidak ada akses mencurigakan, termasuk tidak ada IP dari luar atau proxy yang masuk setelah masa verifikasi ditutup," jelasnya.
Ia menegaskan tidak ditemukan indikasi adanya pihak ketiga yang mengubah data, termasuk dugaan manipulasi jarak domisili peserta.
Meski demikian, Suparmin mengakui setiap sistem digital tetap memiliki potensi kerentanan. Namun menurutnya, kerentanan tersebut lebih banyak berasal dari faktor social engineering atau kesalahan yang timbul akibat interaksi pengguna, bukan kelemahan teknis sistem.
"Kami tidak menyangkal setiap sistem memiliki kerentanan. Tetapi kerentanannya bukan bersifat teknis, melainkan social engineering. Masih banyak orang tua yang belum terbiasa menggunakan teknologi sehingga proses pendaftaran dibantu orang lain, dan itu berpotensi menimbulkan ketidaksesuaian data," katanya.
Untuk meminimalkan risiko tersebut, proses verifikasi data dilakukan secara berlapis mulai dari operator sekolah hingga operator Dinas Pendidikan, sehingga setiap perubahan data dapat ditelusuri melalui sistem.
Sebagai bahan evaluasi, Diskominfo mengusulkan agar pelaksanaan SPMB tahun depan menggunakan aplikasi berbasis Android dan iOS. Langkah tersebut dinilai dapat memperkuat keamanan sistem, termasuk mencegah penggunaan aplikasi fake GPS yang berpotensi memanipulasi titik koordinat domisili.
Selain peningkatan sistem, Diskominfo juga mendorong adanya sosialisasi lebih awal dan pendampingan bagi masyarakat yang masih mengalami kesulitan menggunakan layanan digital.
"Arahan Bapak Wali Kota jelas, selain memperkuat sistem, kami juga harus memastikan sosialisasi dilakukan jauh sebelum SPMB dimulai dan memberikan pendampingan kepada masyarakat yang belum memiliki kemampuan mengakses teknologi," pungkasnya.(*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co