PROKAL.CO — Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Timur, Irhan Hukmaidy, meluapkan kemarahan dan keprihatinan mendalam atas tragedi pembunuhan satwa dilindungi di Pantai Balikukup, Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau, pada Minggu (2/8/2026). Seekor penyu betina ditemukan mati mengenaskan—diduga dibantai tepat setelah bertelur—dengan seluruh isi sarangnya habis dijarah.
Peristiwa ini dinilai sebagai pukulan telak bagi upaya konservasi biota laut di Kalimantan Timur. “Kami mengecam keras tindakan ini. Balikukup adalah satu di antara wilayah habitat peneluran penyu paling penting di Kalimantan Timur, bagian dari Kepulauan Derawan yang menjadi rumah bagi populasi penyu hijau terbesar di Indonesia. Setiap ekor penyu yang mati akibat perburuan adalah kerugian besar bagi keanekaragaman hayati laut kita,” tegas Irhan Hukmaidy.
Irhan menegaskan bahwa seluruh jenis penyu—termasuk penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) yang menghuni perairan Berau—berstatus Perhitungan Penuh berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 66 Tahun 2025. Ia memperingatkan bahwa tindakan melukai, membunuh, maupun memperniagakan penyu dan telurnya adalah kejahatan serius yang berhadapan langsung dengan hukum.
Instruksi Pengusutan Tuntas dan Koordinasi Aparat
Menanggapi insiden tersebut, Irhan memastikan DKP Kaltim langsung berkoordinasi erat dengan Stasiun PSDKP Tarakan, BKSDA Kaltim, dan Polres Berau untuk mengusut tuntas para pelaku secara hukum. Pengawasan lapangan juga diperketat dengan melibatkan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Lestari Balikukup.
Langkah ini krusial mengingat hasil survei DKP Kaltim bersama YKAN pada Mei 2026 menunjukkan bahwa 26 dari 27 titik pemantauan di Kepulauan Derawan (termasuk Balikukup) berkategori sangat sesuai sebagai tempat peneluran penyu. Di akhir pernyataannya, Kadis DKP Kaltim mengajak seluruh lapisan masyarakat pesisir untuk ikut pasang badan menjaga kelestarian satwa langka ini dari tangan-tangan jahat.
“Konservasi penyu bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat pesisir. Kami mengapresiasi kelompok-kelompok masyarakat seperti Pokmaswas Lestari Balikukup dan Forlika Teluk Sulaiman yang telah beralih dari pemburu menjadi pelindung penyu, dan berkomitmen untuk terus memperkuat dukungan bagi mereka,” pungkas Irhan. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co