Walikota Resmikan Rumah Sakit Primecare Samarinda, Bidik Pasien yang Berobat ke Luar Daerah

Muhamad Yamin • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 16:08 WIB
Direktur RS Primecare Samarinda, dr. Boy E.R. Wajong (kanan) dan Direktur Utama sekaligus Founder Primecare John Kwari (kiri) saat gelar jumpa pers dengan wartawan ketika peresmian Rumah Sakit Primecare Samarinda
Direktur RS Primecare Samarinda, dr. Boy E.R. Wajong (kanan) dan Direktur Utama sekaligus Founder Primecare John Kwari (kiri) saat gelar jumpa pers dengan wartawan ketika peresmian Rumah Sakit Primecare Samarinda

PROKAL.CO, SAMARINDA - Rumah Sakit (RS) Primecare Samarinda hadir dengan ambisi memperkuat layanan kesehatan di Kalimantan Timur sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap rumah sakit di Jakarta, Surabaya, hingga luar negeri.

Rumah sakit yang berdiri di atas lahan 8.000 meter persegi dengan luas bangunan sekitar 11.000 meter persegi itu resmi beroperasi setelah memperoleh Izin Operasional (SIO) pada 13 Februari 2026. Direktur RS Primecare Samarinda, dr. Boy E.R. Wajong, mengatakan keberadaan rumah sakit tersebut tidak semata-mata diarahkan untuk menambah jumlah fasilitas kesehatan di Samarinda. Primecare ingin membangun model pelayanan yang menempatkan pasien sebagai pusat perhatian.

Menurut dia, selama ini sebagian masyarakat Kaltim yang memiliki kemampuan ekonomi justru memilih menjalani pengobatan di luar daerah, bahkan ke negara lain seperti Malaysia, Singapura, dan Australia. Kondisi tersebut menjadi salah satu ceruk layanan yang ingin dijawab Primecare.

"Yang pergi ke Surabaya, Jakarta, bahkan ke luar negeri seperti Penang itu sebenarnya kelompok yang mampu membayar. Mereka mencari pelayanan tertentu yang mungkin belum tersedia di sini," kata dr Boy dalam peresmian RS Primecare Samarinda, Sabtu 8 Agustus 2026.  Karena itu, Primecare berupaya menghadirkan layanan dan teknologi yang memungkinkan pasien memperoleh pelayanan dengan standar tinggi tanpa harus meninggalkan Samarinda.

Ia mengatakan, kualitas pelayanan dan kepuasan pasien nantinya diharapkan menjadi bagian penting dari strategi rumah sakit dalam membangun kepercayaan masyarakat. "Ini memang tidak bisa langsung terlihat sekarang. Tetapi nanti akan dilihat ketika rumah sakit ini beroperasi. Kami berharap kepuasan pasien menjadi bagian dari marketing kami," ujarnya.

Berawal dari Klinik

Direktur Utama sekaligus Founder Primecare John Kwari, mengatakan pembangunan rumah sakit tersebut merupakan kelanjutan dari pengalaman Primecare Clinic yang telah beroperasi sejak 2021. Selama lima tahun beroperasi sebagai klinik, pihaknya menerima berbagai masukan dari pasien, dokter, keluarga, dan masyarakat. Salah satu masukan yang paling sering diterima adalah perlunya rumah sakit dengan konsep pelayanan yang berbeda.

Dari pengalaman tersebut, Primecare kemudian mengembangkan konsep patient-centered care atau pelayanan yang menempatkan kebutuhan pasien sebagai pusat layanan. "Kami tidak langsung membuka rumah sakit. Kami mulai dari Primecare Clinic pada 2021. Dari pengalaman itu kami mendengar banyak masukan. Salah satunya, kalau bisa mengapa tidak dibangun rumah sakit yang berbeda dari yang sudah ada," kata John.

Menurut dia, teknologi hanyalah salah satu instrumen untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih baik. Hal yang lebih penting adalah bagaimana teknologi, dokter, tenaga kesehatan, dan sistem pelayanan bekerja secara terpadu untuk memberikan pengalaman terbaik bagi pasien.

John mengatakan sejumlah dokter spesialis yang telah menggunakan fasilitas Primecare juga memberikan respons positif terhadap teknologi yang tersedia, terutama untuk mendukung tindakan operasi minimal invasif.

Dengan teknologi tersebut, menurut dia, sejumlah tindakan medis dapat dilakukan dengan lebih presisi sehingga berpotensi memperpendek masa pemulihan pasien. "Siapa saja bisa membangun rumah sakit dan menyediakan CT scan. Tetapi yang kami kerjakan bersama dr Boy adalah bagaimana patient-centered care dan holistic care benar-benar berjalan," katanya.

Primecare juga menargetkan pasien yang selama ini harus bepergian ke Jakarta, Surabaya, Malaysia, Singapura, atau negara lain untuk memperoleh layanan tertentu. John menilai perjalanan tersebut tidak hanya membutuhkan biaya pengobatan, tetapi juga ongkos transportasi, akomodasi, serta biaya bagi keluarga yang mendampingi. Karena itu, Primecare berupaya menetapkan tarif yang kompetitif dengan rumah sakit lain di Samarinda.

"Kami berharap pasien yang biasanya pergi ke Malaysia atau Singapura bisa merasa nyaman dan percaya kepada pelayanan kami sehingga tidak perlu lagi pergi ke negara lain," ujarnya.

Teknologi dan Genomik

RS Primecare Samarinda memiliki 16 ruang poliklinik dan 96 tempat tidur rawat inap. Fasilitas tersebut terdiri dari 23 tempat tidur standar, 22 kamar deluxe, 25 kamar VIP/Junior Suite, satu Suite, satu President Suite, serta fasilitas perawatan intensif. Untuk layanan intensif tersedia HCU, ICU dewasa, PICU, NICU, ruang isolasi intensif, dan perinatologi. Rumah sakit itu juga diperkuat sekitar 130 karyawan. Sekitar 95 persen di antaranya merupakan warga Samarinda dan daerah sekitarnya.

Dari sisi tenaga medis, terdapat sekitar 52 dokter spesialis dan dokter umum, termasuk 11 dokter tetap dengan sejumlah keahlian khusus, antara lain bedah tulang belakang, bedah pencernaan laparoskopi, urologi, dan ginekologi. Sejumlah teknologi medis yang disiapkan antara lain Laser Holmium untuk penanganan batu ginjal dan pembesaran prostat, C-Arm, CT Scan 126 irisan, laboratorium lengkap, serta bank darah.

Salah satu fasilitas yang menjadi pembeda adalah Laboratorium Genomik yang dikembangkan melalui kerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman. Laboratorium tersebut dilengkapi perangkat pembaca DNA atau sequencer.

Teknologi genomik memungkinkan pemeriksaan berbagai aspek kesehatan berbasis informasi genetik, mulai dari penyakit turunan dan langka, mutasi gen yang berkaitan dengan sejumlah jenis kanker, respons tubuh terhadap obat, hingga potensi risiko penyakit tertentu.

John mengatakan pengembangan teknologi tersebut merupakan bagian dari komitmen Primecare untuk membawa inovasi kesehatan ke Samarinda dan Kalimantan Timur. "Kami selalu melihat apa yang terjadi di dunia kesehatan dan apa yang bisa dibawa ke sini. Kalau masuk akal dan terbaik untuk masyarakat Samarinda dan Kaltim, kami berani berinvestasi untuk membawanya ke rumah sakit ini," katanya.

Seluruh layanan RS Primecare juga dikembangkan dalam sistem digital melalui rekam medis elektronik yang terintegrasi dengan aplikasi Satu Sehat Kementerian Kesehatan, sistem informasi laboratorium, dan sistem radiologi.

Samarinda Perlu Tambahan Fasilitas Kesehatan

Wali Kota Samarinda Andi Harun mengapresiasi investasi RS Primecare. Menurut dia, keberadaan rumah sakit baru tersebut memberikan manfaat tidak hanya dari sisi pelayanan kesehatan, tetapi juga terhadap daya saing dan perekonomian kota.

"Terima kasih kepada Bapak beserta Ibu dan seluruh keluarga yang telah melakukan investasi di Kota Samarinda. Pengaruhnya sangat besar, pertama pada pemenuhan pelayanan kesehatan. Bertambah lagi sarana pelayanan kesehatan kita," kata Andi Harun memberikan sambutan peresmian Rumah Sakit Primecare Samarinda. 

Ia mengatakan kehadiran rumah sakit juga menciptakan lapangan pekerjaan. Dari sekitar 130 tenaga kerja Primecare, sekitar 95 persen merupakan warga lokal. Dampak ekonomi tidak berhenti pada tenaga kerja. Aktivitas rumah sakit, menurut Andi Harun, berpotensi memberikan efek berganda bagi sektor lain seperti usaha makanan, perhotelan, transportasi, dan usaha mikro, kecil, dan menengah.

Pemerintah Kota Samarinda, kata dia, akan terus mendukung investasi dan kegiatan usaha yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Namun, ia meminta pengelola rumah sakit tidak hanya mengejar tingkat keterisian tempat tidur (occupancy rate). Kualitas pelayanan kesehatan harus menjadi prioritas.
Andi Harun juga mengingatkan pentingnya pengelolaan lingkungan, termasuk limbah medis dan nonmedis, serta penguatan aspek pencegahan penyakit.

Menurut dia, paradigma pelayanan kesehatan modern mulai bergeser dari sekadar mengobati orang sakit menuju upaya menjaga kesehatan masyarakat. "The future of health care is not treating disease. It's handling health," kata Andi Harun.Ia berh arap masyarakat nantinya tidak hanya datang ke rumah sakit ketika sakit, tetapi juga memanfaatkan fasilitas kesehatan untuk mendeteksi dan mencegah penyakit sejak dini. Andi Harun juga meminta seluruh jajaran Pemerintah Kota Samarinda memberikan dukungan terhadap kegiatan usaha yang berjalan sesuai aturan. Ia menilai iklim usaha yang aman dan tertib menjadi salah satu faktor penting bagi pertumbuhan kota.

"Kalau kota ini mau bagus ke depan, kita harus memperbaiki tata kelola. Kita tidak akan pernah bisa maju kalau kota ini masih ada premanisme dan gangguan," ujarnya. Dengan tambahan fasilitas dan teknologi tersebut, RS Primecare diharapkan memperluas akses pelayanan kesehatan masyarakat Samarinda dan Kaltim.

Bagi pengelola, tantangan berikutnya adalah memastikan investasi teknologi berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Kerja sama dengan institusi pendidikan dan pengembangan kapasitas tenaga kesehatan pun disiapkan sebagai bagian dari strategi pengembangan rumah sakit.

"Rumah sakit ini dibangun bukan hanya untuk memiliki alat canggih, tetapi untuk melayani hati dan kesehatan masyarakat Kalimantan Timur dengan sepenuh hati," kata dr Boy. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
samarinda