Resensi Novel Kiri Sampai Sini, Kisah Asmara Mahasiswa di Samarinda dengan Bumbu-Bumbu Politiknya

Redaksi • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:12 WIB
Maharani Widya Sari
Maharani Widya Sari

Judul : Kiri Sampai Sini
Penulis : Faroq Zamzami
Penerbit : Bukunesia
Tahun terbit : 2025
Jumlah halaman : 164 halaman
Genre : Fiksi

Sinopsis buku
Menceritakan tentang Wais yang menarik dirinya ke dalam portal masa lalu saat hari wisudanya tiba. 

Ia mengingat kembali tentang apa yang telah ia lakukan selama berkuliah sebelumnya. 

Bagaimana ia melewati hari-hari di kampus dengan label aktivis kiri, perjuangan yang dilandaskan refleksi ekonomi yang dialami keluarganya, termasuk mengingat semua kenangan pahit yang ia dapatkan dari mencintai seorang gadis di kampusnya.

Baca Juga: Sejarah Makan Siang  

Isi resensi
Kiri Sampai Sini adalah sebuah karya fiksi yang secara mendalam menyajikan prosa dan refleksi personal mengenai perjalanan seorang individu bernama Wais. 

Narasi utamanya berpusat pada pencarian makna cinta selama masa perkuliahan, yang berlatar belakang gejolak ekonomi dan politik di Kota Samarinda pada periode awal tahun 2000-an.

Berbeda dari format novel umumnya yang menyajikan alur cerita linier dan runtut, buku ini mengadopsi struktur naratif yang unik. Pembaca akan menemukan banyak fragmen emosional dan sisipan renungan yang kaya akan nuansa puitis, seringkali beraroma syair. 

Hal ini menjadikan Kiri Sampai Sini menyerupai sebuah peta bagi saya, di mana setiap fragmen yang disajikan memiliki keunikan dan daya tariknya tersendiri. 

Membuat mata yang membaca merasa rugi walau sekadar berkedip. Gaya penulisan yang puitis dan lirih membuat pengalaman membaca buku ini jadi lebih emosional. 

Alih-alih penyajian kalimat panjang dan langsung, Faroq Zamzami lebih memilih untuk menggunakan kalimat padat makna sehingga satu kalimat dapat mengandung rasa sakit yang besar serta kenangan yang kuat. 

Selain fokus ceritanya pada percintaan, buku ini juga menjadi lembar nostalgia menarik kita ke lorong waktu dengan penjelasan bagaimana Kota Samarinda pada tahun 2000 awal itu. 

Seperti diajak kembali mengenal kota tersebut dari mata orang terdahulu. 

Buku ini juga mengandung jokes percintaan atau kasmaran yang tak lekang waktu, membuat saya yang membaca rasanya harus beberapa kali menutup buku di tengah membaca dan berteriak salah tingkah karena pernah relate dengan jokes yang ada. 

Selain itu, buku ini juga memberikan paradigma baru mengenai bagaimana cara kita selama ini memandang mahasiswa aktivis kiri yang ada di kampus yang biasanya berkonotasi negatif, seperti sok hebat, kurang kerjaan dan lain sebagainya. 

Padahal hal ini juga menjadi cara belajar mahasiswa serta bagian dari keutuhan sistem yang ada di negeri ini. 

Baca Juga: Menunya Berharap Gizi, Santri Tak Pernah Keracunan  

Kelebihan buku
Keunggulan buku ini terletak pada latar waktu awal tahun 2000-an, yang membuat humor di dalamnya terasa familier dan tidak asing bagi pembaca. 

Selain itu, penggunaan bahasa yang puitis dalam mendeskripsikan berbagai hal sangat membantu pembaca untuk memvisualisasikan adegan atau gagasan dengan lebih mudah dan jelas. 

Pemilihan kata yang cermat juga menciptakan kesan estetis saat membaca, diperkaya dengan adanya puisi-puisi yang tersebar di beberapa halaman. 

Tak ketinggalan, buku ini menyajikan banyak kutipan inspiratif dan reflektif yang tetap relevan dengan kondisi zaman sekarang. Aspek lain yang patut disoroti adalah penggambaran alur percintaan, khususnya dalam konteks karakter Rena. 

Struktur narasi yang terbagi menjadi lima bagian secara konsisten menyajikan detail tentang Rena, memungkinkan pembaca untuk mengenal lebih dekat dan mengembangkan kedekatan emosional dengan karakter ini. 

Kedekatan ini terbangun secara bertahap, menyiapkan pembaca untuk sebuah kejutan ekspektasi yang terjadi di bagian akhir buku. 

Kekurangan buku
Meskipun memiliki banyak kelebihan, buku ini memiliki beberapa kekurangan yang patut dicermati.

Salah satunya adalah adanya fragmen-fragmen tertentu yang terasa terlalu mendominasi atau diceritakan secara berlebihan dari alur utama. 

Contohnya, bagian yang melibatkan tokoh Mulyani Sodiq atau Oscar Tato terasa sangat detail, sehingga ketika narasi kembali ke alur utama, pembaca mungkin perlu berhenti sejenak untuk mengingat kembali konteks cerita sebelumnya. 

Baca Juga: Debu Tak Bikin Rindu

Gaya penulisan yang mengandalkan penggabungan fragmen-fragmen emosional juga menuntut pembaca untuk membiasakan diri dengan plot yang seringkali "berjarak" atau tidak linier. Hal ini bisa menjadi tantangan tersendiri. 

Selain itu, bagi sebagian pembaca yang kurang familier atau tidak terlalu mendalami seni sastra, bahasa yang digunakan dalam buku ini mungkin terasa cukup berat atau kompleks untuk dicerna. 

Kesimpulan
Buku Kiri Sampai Sini bagi saya berada di persimpangan antara bacaan berat dan ringan, menempati posisi moderat. 

Karya ini sangat pas untuk menemani kita di malam hari, terutama saat pertanyaan tentang jati diri tiba-tiba muncul tanpa asal-usul yang jelas. 

Atau, ia bisa menjadi pengisi siang hari ketika rutinitas terasa terlalu datar dan butuh percikan emosional untuk memberi warna pada harimu. 

Lebih dari itu, buku ini mampu membuatmu menyadari bahwa kebahagiaan dan luka yang mungkin sedang kamu rasakan bukanlah milikmu seorang. 

Dengan demikian, Kiri Sampai Sini terasa seperti tangan terbuka yang tidak menjanjikan penyelesaian atau solusi instan, tapi setidaknya dapat memvalidasi perasaanmu. 

Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, saya memberikan rating keseluruhan 4,5 dari 5. (*)

Resensi ini ditulis oleh Maharani Widya Sari, yang lebih dikenal sebagai Idy atau Mahar. Seorang mahasiswi Hubungan Internasional di Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda. 

Besar di Balikpapan, dan saat ini sedang menempuh pendidikan serta aktif dalam berbagai organisasi di bangku perkuliahan di Samarinda. 

Minatnya terhadap dunia literasi telah tumbuh sejak SMP, terutama pada buku-buku fiksi dan aksi yang kerap mengangkat isu-isu sosial atau membuka ruang imajinasi yang luas. 

Idy meyakini bahwa melalui membaca, seseorang tidak hanya mendapatkan wawasan tentang dunia luar, tetapi juga dapat mengembangkan imajinasi dan belajar untuk menetapkan batasnya sendiri.  Baginya, hal ini adalah bentuk kebebasan yang tetap memiliki pijakan. (*)

Editor : Rahman Hakim
novel Kiri Sampai Sini samarinda