Ancaman "Ranjau" Semen dan Aspal Gelombang di Gunung Panjang, Nyawa Pemotor di Samarinda Seberang Te

Indra Zakaria • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 09:45 WIB
 Tanjakan berbahaya di kawasan Jalan Cipto Mangunkusumo perlu perhatian khusus agar tidak memakan korban jiwa.
Tanjakan berbahaya di kawasan Jalan Cipto Mangunkusumo perlu perhatian khusus agar tidak memakan korban jiwa.

PROKAL.CO- Keselamatan pengendara roda dua kembali dipertaruhkan saat melintasi jalur utama Samarinda Seberang. Medan jalan di tanjakan Jalan Cipto Mangun Kusumo, kawasan Gunung Panjang, Kelurahan Gunung Panjang, kini berubah menjadi jalur tengkorak akibat kombinasi aspal bergelombang dan kerak tumpahan semen yang mengering.

Pantauan media ini di lapangan menunjukkan kondisi fisik jalan yang amat memprihatinkan. Selain tonjolan aspal tidak rata, ceceran semen keras yang menempel membuat permukaan jalan licin dan kasar secara tidak beraturan. Kondisi ini menjadi ancaman fatal bagi pemotor yang melintas, terutama saat hujan turun.

Keluhan tajam terlontar dari para pengguna jalan yang sehari-hari melintasi jalur tersebut. Lukman, salah seorang mahasiswa Politani Samarinda, mengecam pembiaran material semen di jalan raya yang membahayakan nyawa warga.

“Bahaya betul jalannya, kondisinya bergelombang dan licin karena banyak bekas tumpahan semen yang mengering menempel di aspal. Harus ekstra hati-hati kalau lewat sini, apalagi kalau naik motor,” cetus Lukman saat ditemui di lokasi.

Tak berhenti di masalah permukaan jalan, ancaman keselamatan semakin berlipat ganda saat malam tiba. Minimnya Penerangan Jalan Umum (PJU) membuat area tanjakan tajam dan tikungan tersebut mendadak gelap gulita, menyembunyikan kerak semen dari pandangan pengendara.

“Kalau malam lebih ngeri lagi. Lampu jalan minim dan kurang terang, jadi bekas tumpahan semen itu sama sekali tidak kelihatan. Kalau pengendara tidak waspada, pasti langsung slip roda dan jatuh,” ungkapnya. Kondisi rawan ini bukan sekadar kekhawatiran tanpa bukti. Qadir, warga Kelurahan Harapan Baru yang rutin melintasi jalur tersebut, mengungkapkan bahwa buruknya infrastruktur di lokasi tersebut sudah berulang kali menelan korban.

“Sudah sering kecelakaan di sini, terutama pengendara motor yang jatuh. Kalau tidak terkecoh gelombang jalan, ya pasti terpeleset karena licinnya bekas semen itu,” tegas Qadir.

Kondisi ini memicu desakan keras dari masyarakat agar instansi terkait, baik Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) maupun Dinas Perhubungan (Dishub), tidak tutup mata. Warga menuntut aksi nyata berupa pengerokan bekas tumpahan semen, pembenahan aspal bergelombang, hingga penambahan unit LPJU yang memadai sebelum memakan korban jiwa. (*)

Editor : Indra Zakaria
samarinda