Menggantung Harapan di Pasar Pagi Samarinda: Pedagang Tagih Event Penarik Pembeli

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 07:15 WIB
Suasana lantai 3 Pasar Pagi Samarinda yang masih tampak sepi, sejumlah kios tutup.
Suasana lantai 3 Pasar Pagi Samarinda yang masih tampak sepi, sejumlah kios tutup.

PROKAL.CO- Denyut nadi perdagangan di Pasar Pagi Samarinda pascarevitalisasi belum sepenuhnya pulih. Meski megah dengan struktur tujuh lantai, lorong-lorong di tingkat atas bangunan masih nampak lengang dan puluhan kios memandangkan pintunya yang terkunci rapat. Pemerintah Kota Samarinda telah memberikan patok batas waktu hingga 31 Agustus 2026 agar seluruh pedagang segera menempati dan membuka lapaknya. Namun, para pedagang menegaskan bahwa membuka kunci pintu toko saja tidak cukup tanpa ada kepastian arus pengunjung dari pemerintah.

"Kalau ada event kan orang tertarik. Walaupun awalnya tidak niat belanja, setelah datang dan lihat-lihat bisa muncul keinginan membeli," ujar Ayu, pedagang sandal dan sepatu yang mengelola empat kios di lantai 3.

Ia menilai penyelenggaraan acara berkala, setidaknya sebulan sekali, sangat krusial untuk memicu daya tarik masyarakat. Terlebih lagi, tata letak kios baru yang terpencar memaksa para pedagang mengeluarkan biaya operasional ekstra untuk menyewa karyawan tambahan.

Jeritan senada diungkapkan oleh Hadi Bahtiar, pedagang senior yang sudah berjualan sejak 1996. Memiliki 13 petak kios yang tersebar hingga lantai 7, Hadi mengaku enggan membuka seluruh lapaknya karena sepinya pengunjung di lantai atas yang membuat usaha mereka merugi.

"Saya pernah coba buka di lantai 6. Sampai zuhur tidak ada orang masuk sama sekali. Anak saya sempat buka di lantai 7 selama sepekan, hasilnya nol transaksi. Kalau buka kan harus bayar retribusi, parkir, dan tenaga kerja. Kalau tidak ada hasil, dari mana mau bayar?" tutur Hadi.

Selain menuntut promosi kreatif dan kemudahan akses fisik bangunan, masalah biaya operasional harian seperti tarif parkir turut dikeluhkan. Koordinator pedagang Pasar Pagi, Thoriq Hakim, meminta Pemkot Samarinda tidak terburu-buru mengambil tindakan sepihak terkait batas waktu akhir Agustus.

"Harus ada pemikiran bagaimana mengundang orang datang. Soal tenggat 31 Agustus, Pemkot jangan langsung menarik kios yang belum dibuka. Berikan SP1 dulu dan buka ruang dialog. Biarkan pedagang ikut memikirkan cara menghidupkan kembali pasar ini," pungkas Thoriq. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Pasar Pagi Samarinda