Kios Sepi Bikin "Nombok" Tiap Hari, Pedagang Pasar Pagi Mengadu ke DPRD Samarinda

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 09:16 WIB
Suasana lantai 3 Pasar Pagi Samarinda yang masih tampak sepi, sejumlah kios tutup.
Suasana lantai 3 Pasar Pagi Samarinda yang masih tampak sepi, sejumlah kios tutup.

 
SAMARINDA — Jeritan pedagang Pasar Pagi Samarinda dari lantai 1 hingga lantai 7 akhirnya mengudara. Kunjungan pembeli yang makin sepi membuat para pedagang mengaku harus memutar otak dan menguras kantong pribadi demi bisa sekadar membuka kios setiap harinya.

Minimnya ruang dialog langsung dengan instansi terkait membuat Forum Pedagang Pasar Pagi (FP3) memilih memboyong sederet masalah ini ke lantai dua Gedung DPRD Samarinda.

"Kami beberapa kali mengirim surat untuk audiensi dengan Dinas Perdagangan, tetapi belum pernah ditanggapi," kata Ketua FP3, Thoriq Hakim.

Thoriq mendesak Komisi II DPRD Samarinda untuk memanggil Dinas Perdagangan (Disdag) agar persoalan ini segera mendapatkan titik terang. "Kami datang ke sini agar dinas bisa dipanggil. Seandainya komunikasi lancar, mungkin kami tidak perlu melakukan RDP di komisi ini," ujarnya.

Akses bangunan yang membingungkan serta tangga yang terlalu tinggi menjadi biang kerok utama enggan bertandangnya pembeli. Thoriq menilai akses pintu masuk saat ini sangat terbatas.

"Harapan saya, pintu masuk bisa tersedia dari dua sisi, yakni dari Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Gajah Mada. Namun ternyata hal itu tidak bisa dilakukan tanpa kebijakan dari Kementerian Perhubungan," kata Thoriq.

Keluhan makin membuncah dari pedagang yang menempati lantai atas. Penataan denah kios yang buruk dinilai membunuh rezeki pedagang karena berada di luar jalur pergerakan pengunjung.

"Pedagang yang tidak mendapatkan lokasi strategis atau yang tidak dilewati pengunjung sebenarnya seperti membakar uang setiap hari. Pendapatan mereka tidak ada sama sekali, bahkan bisa nol. Istilahnya bukan lagi berjualan, melainkan hanya menjaga toko atau menjaga kios," tutur Solikin, pedagang di lantai 7.

Solikin menceritakan betapa rapuhnya kondisi ekonomi pedagang saat ini, di mana sebagian besar dari mereka sama sekali tak menyentuh lembaran uang hasil penjualan dari pagi hingga sore hari.

"Sehebat apa pun kemampuan berdagang seseorang, kalau tidak ada pengunjung maka pendapatannya pasti berkurang. Itulah yang terjadi di Pasar Pagi saat ini," tegas Solikin.

Bagi para pedagang, uang retribusi atau parkir bukanlah beban besar jika pasar ramai. Namun, situasi berubah menjadi momok ketika pengeluaran operasional terus membengkak tanpa adanya pemasukan.

"Sekarang masalah utamanya justru akses yang sulit. Itu sumber persoalan terbesar," kata Solikin sembari menambahkan bahwa pedagang harus membayar bensin, parkir, retribusi, makan, hingga gaji karyawan. "Akibatnya mereka harus nombok setiap hari."

Imbas sepinya pembeli ini paling memukul pedagang sembako dan pasar basah di lantai dua. Kehadiran toko modern dan penjual eceran di permukiman warga, ditambah beban biaya parkir pasar, membuat warga enggan datang.

"Kami kasihan kepada pedagang pasar basah, terutama yang menjual ikan, sayur, dan daging. Mata pencaharian mereka hilang karena tidak ada pembeli. Mereka hanya mengeluarkan biaya setiap hari tanpa mendapatkan pemasukan yang cukup," pungkas Solikin. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
pasar pagi