Muhammadiyah Kaltim Serukan Gerakan Air Bersih Hadapi Kekeringan dan Karhutla

Muhamad Yamin • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 11:07 WIB
Sekretaris PWM Kaltim H Amir Hady
Sekretaris PWM Kaltim H Amir Hady

PROKAL.CO, SAMARINDA — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Timur menyerukan gerakan kemanusiaan untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta krisis air bersih yang terjadi di sejumlah wilayah di provinsi tersebut.

Seruan itu disampaikan PWM Kaltim menyusul kemarau panjang yang dalam beberapa bulan terakhir menyebabkan curah hujan di sejumlah wilayah Kaltim berada pada tingkat rendah hingga sangat rendah. Kondisi tersebut turut meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan serta mengancam ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

Ketua PWM Kaltim KH Muhammad Jafron dan Sekretaris PWM Kaltim H Amir Hady melalui pernyataan tertanggal 2 September 2026 meminta seluruh unsur Muhammadiyah mengambil bagian dalam penanganan dampak kekeringan dan karhutla.

“Seluruh unsur Muhammadiyah diminta mendistribusikan air bersih ke wilayah terdampak, membantu upaya pencegahan dan pemadaman karhutla bersama masyarakat dan pihak terkait, serta menyiapkan posko kesehatan dan logistik bagi warga yang terdampak asap dan kekurangan pangan,” jelas H Amir Hady. 

Unsur Muhammadiyah yang diminta terlibat antara lain Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Aisyiyah, serta pimpinan Muhammadiyah di tingkat cabang dan ranting. 

Gerakan Sedekah Air

PWM Kaltim juga menyerukan Gerakan Shodaqoh Air untuk membantu masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih. Gerakan tersebut diarahkan untuk menggalang dan menyalurkan air secara sukarela kepada warga yang membutuhkan.

Masyarakat maupun pihak lain yang memiliki sumber daya, seperti sumur bor, tangki air, persediaan air, ataupun dana, diajak berpartisipasi. Bantuan tersebut diminta dikoordinasikan melalui MDMC atau Lazismu PWM Kaltim agar penyalurannya tepat sasaran.

“Muhammadiyah menempatkan air sebagai kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Pandangan tersebut merujuk pada Fikih Air hasil Munas Tarjih ke-28,” jelas H Amir Hady.

Selain bantuan jangka pendek, Muhammadiyah juga mengingatkan pentingnya konservasi dan pengelolaan lingkungan untuk menghadapi risiko kekeringan dan bencana ekologis.

Serukan shalat istisqa

Selain langkah kemanusiaan dan mitigasi, PWM Kaltim menyerukan umat Islam memperbanyak ikhtiar spiritual selama kemarau panjang.

Warga Muhammadiyah dan masyarakat Muslim pada umumnya diimbau memperbanyak istigfar dan tobat serta melaksanakan shalat istisqa atau shalat untuk memohon hujan. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara berjamaah di masjid maupun lapangan terbuka dengan dipandu imam atau pimpinan daerah setempat.

Seruan tersebut merujuk pada Fatwa Tarjih Nomor 9 Tahun 1999 tentang Shalat dan Khutbah Istisqa’.

Namun, Muhammadiyah menekankan bahwa bencana tidak semata-mata dipandang sebagai hukuman atau murka Tuhan. Dalam Fikih Kebencanaan Muhammadiyah, bencana juga dipandang sebagai ujian sekaligus momentum untuk melakukan introspeksi terhadap perilaku manusia dan kondisi lingkungan.

Karena itu, ikhtiar spiritual dinilai perlu berjalan bersama tindakan nyata berupa mitigasi bencana berbasis ilmu pengetahuan, perlindungan lingkungan, serta pencegahan aktivitas yang dapat memperparah kerusakan alam.

PWM Kaltim juga mengajak pemerintah daerah, TNI dan Polri, perusahaan, organisasi kemasyarakatan, serta berbagai elemen masyarakat untuk bersinergi menangani dampak kekeringan dan karhutla.

Muhammadiyah menilai penanganan krisis air bersih dan bencana akibat kemarau membutuhkan respons yang cepat, terpadu, dan berkelanjutan. Bantuan kepada masyarakat terdampak, menurut organisasi tersebut, harus diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti air bersih, pangan, dan layanan kesehatan. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
muhammadiyah