SAMARINDA – Ketersediaan bahan pangan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Di Kota Samarinda, stok pangan hingga saat ini dipastikan masih aman. Meski demikian, masyarakat masih dihadapkan pada kenaikan harga sejumlah komoditas, terutama cabai, yang dipengaruhi gangguan produksi di berbagai daerah.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Kota Samarinda, Nadya Turisna, mengatakan pihaknya terus melakukan pantauan terkait kondisi ketersediaan pangan melalui sejumlah sumber data, mulai dari neraca pangan hingga laporan stok bahan pokok yang dimiliki distributor.
Menurutnya, berdasarkan data yang tersedia, persediaan pangan di Samarinda masih dalam kondisi terkendali. Karena itu, kenaikan harga komoditas tertentu tidak serta-merta menunjukkan adanya kekurangan stok secara keseluruhan.
“Kalau pangan, stoknya kita aman. Sebenarnya kalau stok aman, kita punya neraca dari Dinas Ketahanan Pangan. Kemudian, di Disdag juga ada data stok di distributor. Sampai hari ini sebenarnya aman,” Ungkap Nadya melalui sambungan seluler. Minggu (25/10/2026).
Lebih lanjut, Nadya menjelaskan pemerintah perlu membedakan persoalan ketersediaan barang dengan dinamika harga di pasaran. Pasokan yang mencukupi belum tentu membuat harga seluruh komoditas stabil, sebab pergerakannya juga dipengaruhi kondisi produksi, distribusi, serta aktivitas perdagangan.
Salah satu komoditas yang mengalami gejolak harga adalah cabai. Kenaikan harga komoditas tersebut, menurut Nadya, tidak hanya terjadi di Samarinda, tetapi juga dirasakan di berbagai wilayah Indonesia. “Kalau kenaikan kan wajar, kalau kayak cabai ya, itu naik, naik semua tuh, se-Indonesia Raya lagi naik,” Jelas Nadya.
Ia menerangkan, gangguan produksi berupa gagal panen di sejumlah daerah menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga cabai. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi pasokan yang masuk ke pasar dan memengaruhi harga jual kepada konsumen.
Selain itu, tanaman cabai juga relatif rentan terhadap perubahan cuaca. Pada musim kering, tanaman ini lebih mudah terserang hama ulat dan mengalami layu. Gangguan tersebut dapat menurunkan produktivitas tanaman dan berdampak pada hasil panen. “Karena ada beberapa wilayah yang gagal panen cabai. Jadi kalau cabai ini rata-rata agak susah-susah gampang. Apalagi kalau musim kering begini, gampang ulat, gampang layu,” Ujar Nadya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa stabilitas pangan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan stok di daerah, tetapi juga oleh keberlangsungan produksi di wilayah pemasok. Ketika hasil panen terganggu, tekanan harga dapat terjadi meskipun persediaan bahan pangan secara umum masih mencukupi. Pemerintah kota (Pemkot) Samarinda pun memiliki data pemantauan dari instansi terkait untuk melihat perkembangan stok pangan.
Dengan pemantauan tersebut, kondisi pasokan dan pergerakan harga dapat menjadi perhatian dalam menjaga ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat.
Di tengah kenaikan harga cabai, kepastian stok pangan yang masih aman menjadi gambaran bahwa persoalan utama saat ini terletak pada dinamika harga komoditas tertentu, bukan pada kekurangan pasokan pangan secara menyeluruh. (adv/diskominfo/smd)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co