Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Jejak Kelam Perang Urban: Pasukan Elite SNLF Jepang dan Bayang-Bayang Senjata Kimia di Shanghai 1937

Redaksi Prokal • Sabtu, 25 April 2026 | 12:26 WIB
Tentara Jepang saat invasi ke Shanghai, China.
Tentara Jepang saat invasi ke Shanghai, China.

 
SHANGHAI – Sejarah mencatat Agustus 1937 sebagai awal dari salah satu pertempuran paling berdarah dalam Perang Tiongkok-Jepang Kedua. Di tengah puing-puing kota Shanghai, unit elite Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, Special Naval Landing Forces (SNLF), muncul sebagai aktor kunci dalam pertempuran urban yang brutal, sering kali terlihat mengenakan masker gas yang memberikan kesan mencekam sekaligus ikonik dari era tersebut.

Pertempuran yang berlangsung hingga November 1937 ini melibatkan skala kekuatan yang masif, dengan lebih dari 200.000 tentara Jepang berhadapan dengan hampir 700.000 tentara Tiongkok. SNLF, yang merupakan infanteri angkatan laut terlatih untuk pendaratan amfibi dan pertempuran kota, memegang peran vital dalam pendaratan awal dan pembersihan sektor-sektor strategis di jalanan Shanghai yang sempit.

Penggunaan masker gas oleh unit SNLF pada akhir 1930-an telah menjadi standar kelengkapan tempur. Meski dokumentasi mengenai penggunaan senjata kimia di dalam kota Shanghai sendiri masih terbatas, diketahui secara luas bahwa Jepang memiliki kapabilitas senjata kimia dan telah menggunakan agen seperti gas mustar serta gas air mata di berbagai wilayah lain di Tiongkok selama perang.

Kehadiran masker gas tersebut mencerminkan doktrin militer yang sangat dipengaruhi oleh trauma Perang Dunia I, di mana serangan kimia dianggap sebagai ancaman nyata yang bisa terjadi kapan saja dalam pertempuran posisi atau urban.

Pertempuran selama tiga bulan ini meninggalkan luka yang mendalam bagi kedua belah pihak. Estimasi total korban jiwa berkisar antara 200.000 hingga lebih dari 300.000 orang. Sebagian besar wilayah kota Shanghai hancur total akibat pemboman udara dan baku tembak artileri yang terus-menerus. Jepang akhirnya berhasil menguasai kota tersebut setelah perlawanan sengit dari pasukan Tiongkok yang menolak menyerah hingga titik darah penghabisan.

Satu hal yang membedakan Pertempuran Shanghai dengan konflik sebelumnya adalah kehadiran jurnalis asing dan kru film berita (newsreel) dalam jumlah besar. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, kekejaman perang urban didokumentasikan dan disiarkan hampir secara waktu nyata (near real-time) ke audiens internasional.

Melalui lensa kamera mereka, dunia menyaksikan bagaimana kota metropolitan yang megah berubah menjadi medan pembantaian, membawa realitas perang langsung ke hadapan publik global dan membentuk opini dunia terhadap agresi militer di Asia pada masa itu. (*)

Editor : Indra Zakaria
#shanghai #jepang