Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kisah Pembantaian Burung Emprit yang Berujung Kiamat Kelaparan di Tiongkok

Indra Zakaria • Kamis, 18 Juni 2026 | 11:00 WIB
Pemuda China dengan burung emprit. (ilustrasi)
Pemuda China dengan burung emprit. (ilustrasi)

PROKAL.CO- Di dalam ilmu ekologi, ada satu hukum tidak tertulis yang sangat ditakuti: jangan pernah mengusik rantai makanan yang sudah mapan. Tiongkok pada tahun 1958 hingga 1962 menjadi saksi bisu bagaimana sebuah kebijakan politik yang mengabaikan sains mampu meruntuhkan tatanan alam, mengundang wabah hama terbesar dalam sejarah modern, dan berujung pada kematian puluhan juta nyawa manusia. Semua malapetaka global ini secara ironis bermula dari kejengkelan seorang pemimpin terhadap seekor makhluk kecil, yaitu burung gereja atau yang akrab kita kenal sebagai burung emprit (Passer montanus).

Kisah kelam ini diawali oleh kegelisahan Mao Zedong yang menganggap Tiongkok harus melakukan gerakan "Lompatan Jauh ke Depan" (Great Leap Forward) untuk mengejar ketertinggalan ekonomi nasional. Salah satu strategi radikal yang diluncurkan adalah Kampanye Empat Hama, sebuah gerakan yang menyasar tikus, lalat, nyamuk, dan burung emprit. Khusus untuk emprit, pemerintah Tiongkok menuduh satwa kecil ini sebagai pencuri gabah yang merugikan negara, dengan estimasi konsumsi mencapai 4,5 kilogram padi per ekor setiap tahunnya. Logika politik yang berkembang saat itu sangat sederhana: jika emprit dimusnahkan, maka jutaan ton padi akan terselamatkan untuk memberi makan rakyat.

Berangkat dari logika tersebut, Mao kemudian memerintahkan perang total melawan burung emprit. Seluruh lapisan masyarakat—mulai dari pegawai negeri, buruh pabrik, hingga anak-anak sekolah—dikerahkan ke jalanan dan ladang pertanian. Mereka diminta untuk membunyikan kentongan, memukul-mukul panci, dan menggedor drum tanpa henti. Tujuannya sangat kejam, yaitu menakut-nakuti burung emprit agar terus terbang dan tidak diberi kesempatan sedikit pun untuk hinggap, hingga akhirnya kawanan burung tersebut jatuh ke tanah dan mati karena kelelahan.

Strategi massal ini membuahkan hasil yang sangat spektakuler sekaligus mengerikan. Data dari Chinese Academy of Sciences mencatat sekitar 1,96 miliar burung emprit berhasil dibantai hanya pada tahun 1958. Poster-poster propaganda pun dipajang di seantero negeri, menampilkan anak-anak sekolah yang tersenyum bangga sambil menyerahkan karung-karung penuh bangkai burung. Untuk sementara waktu, hasil panen tahun 1958 memang sempat meroket karena didukung oleh cuaca yang bersahabat dan mobilisasi tenaga kerja yang masif. Namun, kenyamanan itu tidak bertahan lama karena alam memiliki caranya sendiri untuk membalas dendam.

Para perancang kebijakan saat itu rupanya lupa menanyakan satu hal krusial kepada para ilmuwan: apa yang sebenarnya dimakan burung emprit selain padi? Kenyataannya, burung emprit bukanlah sekadar pemakan biji-bijian. Seekor emprit dewasa membutuhkan sekitar 1.200 hingga 2.500 ekor serangga per musim hanya untuk memberi makan anak-anaknya. Ketika populasi emprit di Tiongkok nyaris punah dalam semalam, posisi mereka sebagai predator alami bagi serangga pelahap tanaman pun ikut runtuh. Tanpa adanya predator yang memburu, populasi serangga meledak hebat tanpa kendali.

Pada tahun 1959 hingga 1961, malapetaka sesungguhnya benar-benar tiba di tanah Tiongkok. Wabah belalang (Locusta migratoria manilensis) menghantam negara tersebut dalam skala raksasa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern. Tak hanya belalang, pasukan ulat grayak, walang sangit, dan wereng ikut berpesta di atas ladang-ladang pertanian yang tak lagi memiliki sistem pelindung alami.

Kengerian ini tercermin jelas dalam rilis angka resmi. Menurut data Kementerian Pertanian Tiongkok, luas serangan hama pada tahun 1960 melonjak hingga 54 juta hektar—sebuah kenaikan fantastis sebesar 300% jika dibandingkan dengan tahun 1957. Dampak langsungnya, produksi padi nasional yang sempat menyentuh angka 200 juta ton pada tahun 1958, langsung anjlok drastis menjadi hanya 143,5 juta ton pada tahun 1960. Penurunan produksi sebesar 28% dalam waktu dua tahun ini memicu kehancuran total pada sistem pangan negara.

Di provinsi-provinsi lumbung pangan utama seperti Henan, Shandong, dan Anhui, persentase gagal panen menembus angka 40 hingga 60%. Statistik ini menjelma menjadi horor yang nyata di lapangan; ladang-ladang menjadi gersang, lumbung desa kosong melompong, dan rakyat yang didera kelaparan ekstrem terpaksa mengunyah kulit pohon hingga tanah liat demi bertahan hidup. Dalam laporan internal Partai yang dideklasifikasi di kemudian hari, kasus-kasus kanibalisme bahkan sempat tercatat terjadi di wilayah-wilayah yang paling parah terdampak bencana.

Periode kelam ini memuncak menjadi apa yang dunia kenal sebagai Bencana Kelaparan Besar Tiongkok (The Great Chinese Famine). Kombinasi fatal antara hilangnya predator hama, manipulasi laporan hasil panen oleh pejabat daerah yang takut dihukum, serta cuaca buruk akhirnya merenggut nyawa manusia dalam skala yang sulit dibayangkan.

Para demografer dan sejarawan dunia mencatat angka kematian yang mengerikan dari tragedi ini. Publikasi ilmiah dari Ashton dkk (1984) menghitung ada sekitar 30 juta kematian berlebih, sementara sejarawan Frank Dikötter dalam bukunya Mao’s Great Famine menyebut angka korban jiwa menembus 45 juta orang. Mayoritas dari mereka tewas perlahan akibat busung lapar, edema, dan berbagai komplikasi penyakit yang dipicu oleh malnutrisi akut. Di wilayah pedesaan, angka kematian meroket dari yang semestinya 11 orang per 1.000 penduduk menjadi 25 hingga 60 kematian per 1.000 penduduk. Di sisi lain, jumlah bayi yang lahir menyusut tajam dari 34 juta pada tahun 1957 menjadi hanya 13,8 juta pada tahun 1961. Tiongkok harus merelakan satu generasi hilang dalam kurun waktu tiga tahun saja.

Menyadari situasi yang kian hari kian tak terkendali, pada tahun 1960 seorang ilmuwan zoologi pemberani bernama Tso-hsin Cheng mengajukan bukti ilmiah di hadapan Mao Zedong. Ia memaparkan bahwa porsi makanan harian burung emprit sebenarnya didominasi oleh serangga, bukan gabah seperti yang dituduhkan selama ini. Sadar telah melakukan kekeliruan ekologis yang fatal, Mao akhirnya mengeluarkan perintah resmi untuk menghentikan perburuan burung emprit dan mengalihkan sasaran kampanye kepada kepinding.

Namun, nasi telah menjadi bubur karena jaring-jaring makanan di alam telah terlanjur robek. Dalam langkah diplomasi yang ironis, pemerintah Tiongkok akhirnya terpaksa mengimpor 250.000 ekor burung emprit dari Uni Soviet pada tahun 1960 demi merestorasi ekosistem mereka yang telah rusak. Pemulihan ini memakan waktu yang lama; butuh waktu sekitar 5 hingga 7 tahun bagi populasi burung dan keseimbangan jumlah predator-hama untuk kembali ke tingkat normal. Produksi pangan Tiongkok pun baru bisa merangkak naik dan menyamai level tahun 1957 pada tahun 1965.

Tragedi pembantaian burung emprit di Tiongkok kini abadi sebagai salah satu pelajaran paling mahal dalam sejarah peradaban manusia mengenai pentingnya menjaga keanekaragaman hayati. Peristiwa ini membuktikan bahwa pertanian dan ketahanan pangan bukanlah sebuah medan perang total untuk memusnahkan apa pun yang dianggap merugikan secara kasat mata.

Satu ekor emprit mungkin memakan 4,5 kilogram gabah setahun dan mendatangkan kerugian kecil bagi petani. Namun, ketika mereka dimusnahkan dari ekosistem, pasukan belalang yang menggantikan posisi mereka justru mampu melahap habis 20 hingga 40 kilogram biomassa tanaman per hektar setiap harinya. Teknologi dan kebijakan seketat apa pun, jika dijalankan tanpa didasari oleh pemahaman ekologi yang matang, pada akhirnya hanya akan menjadi bumerang bagi manusia itu sendiri. Niat awal Mao Zedong adalah membawa rakyatnya melompat jauh ke depan, namun ketidaktahuannya terhadap hukum alam justru membuat puluhan juta rakyatnya melompat ke liang kubur. (*)

Editor : Indra Zakaria
#mao zedong #burung #china