Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Menjaga Konsistensi

amir-Amir KP • 2019-01-19 06:55:27

LONDON  —  Jika kans menjuarai Premier League masih menjadi milik Liverpool dan Manchester City, maka tidak demikian dengan perebutan empat besar. Masih ada dua slot yang dikejar Tottenham Hotspur, Chelsea, Arsenal dan Manchester United.

Baik Spurs dan The Blues memang saat ini berada di posisi ketiga dan keempat klasemen. Namun, keduanya tetap rawan dikudeta. Apalagi Tottenham yang kehilangan striker andalan mereka, Harry Kane karena cedera, hingga Maret mendatang jelas akan memengaruhi performa tim. Sementara Chelsea dengan gaya permainan Sarri-Ball tidak seefektif awal musim.

Nah, pada pekan ke-23 Premier League ini, Arsenal akan menghadapi ujian berat dengan melakoni derbi London melawan Chelsea di Emirates Stadium dini hari nanti (siaran langsung beinSport 1 pukul 01:30 Wita). Jika kalah, maka The Gunners akan sangat mungkin disalip oleh Manchester United yang akan menjamu Brighton & Hove Albion (19/1). Seperti diketahui, Setan Merah saat ini kembali ke jalur positif sejak ditangani Ole Gunnar Solskjaer.

Pelatih Arsenal Unai Emery mengakui bahwa laga nanti tidak akan berjalan mudah. Sebab, Chelsea memiliki organisasi pemain yang sangat baik dengan sejumlah pemain bintang. Namun, ia tetap percaya dengan kualitas anak-anak asuhnya sehingga bisa mengakhiri laga dengan kemenangan.

“Bagi kami setiap pertandingan di Emirates sangat penting untuk kami menangi. Jika kami bermain dalam performa terbaik kami, kami bisa menang dan lebih dekat ke zona empat besar,” ungkap eks pelatih Paris Saint-Germain tersebut.

Meski optimistis, namun gaya permainan Arsenal sebenarnya terus mendapat sorotan. Telegraph menganalisis, sebelum ditangani Emery, Meriam London selama bertahun-tahun dikenal sebagai tim yang mengendalikan kepemilikan bola dengan mendominasi lini tengah. Namun, kehadiran Emery dengan formasi 3-4-3 membuat gaya itu tergerus. Dalam sistem ini, bek tengah harus beroperasi lebih keras untuk melemparkan bola dari posisi yang paling dalam ke lapangan ke tengah.

Nah, ketika dalam posisi diserang, tiga bek akan sangat kewalahan ketika meladeni lawan yang melakukan serangan melalui umpan crossing yang cepat. Kemudian dalam formasi 3-4-3, Emery hanya menempati satu orang striker sehingga lambat meraih meraih klimaks. Emery pun disarankan untuk kembali pada formasi 4-2-3-1 yang efektif di awal musim, atau 4-4-2 yang digemari tim-tim Premier League.

Di sisi lain, Chelsea juga menghadapi problem inkonsistensi. Sejak Desember lalu, pasukan Maurizo Sarri amat kesulitan menghasilkan gol. Sejak kemenangan atas Crystal Palace di Stamford Bridge (5/11/18), Chelsea tidak pernah menang di atas dua gol. Sementara dari 11 pertandingan terakhir, Chelsea hanya mencetak 13 gol.  Karena itu, Alvaro Morata tidak cukup membawa peran yang dibutuhkan Sarri ketika Oliver Giroud masih menjalani pemulihan dari cedera.

Akhirnya, Eden Hazard adalah solusi bagi Sarri dengan memainkannya sebagai false nine. Sebenarnya, ini adalah posisi yang tidak disukai Eden Hazard sejak lama. Bahkan, ketika masih Chelsea masih ditangani Antonio Conte, ia sempat mengungkapkan frustrasi bermain di posisi tersebut. Meski akhirnya format ini berhasil, namun Sarri harus lebih sabar agar para penyerangnya sampai ke sepertiga akhir lapangan.

Kepada ESPN, Sarri justru membantah jika Hazard tidak suka posisinya yang kerap diturunkan sebagai false nine. Menurutnya, kapten Timnas Belgia itu menyukainya ketika berhasil memenangi laga menghadapi Manchester City (9/12/2018). "Saya pikir pada saat ini, itu solusi yang sangat bagus karena kita tidak kalah berbahaya dalam fase ofensif dan pada fase defensif kita lebih seimbang," kata Sarri.(tom2/k15)

 

Editor : amir-Amir KP