Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Yanto Jenuh karena Hanya Mengisi Waktu dengan Makan, Tidur, dan Jogging

izak-Indra Zakaria • Jumat, 20 Maret 2020 | 13:46 WIB
Yanto Basna (kanan)
Yanto Basna (kanan)

Dampak pandemi korona juga dirasakan pesepak bola tanah air di manca negara. Selain harus ''menganggur'' lantaran kompetisi dihentikan, mereka juga mencemaskan kondisi keluarga di kampung halaman.

 

Faris S. Maulana, Jakarta, Jawa Pos

 

TAK ada yang bisa dilakukan Yanto Basna selain pasrah. Bermain di Thai League 1 bersama PT Prachuap musim ini, dia harus menerima kenyataan kalau kompetisi di negeri Gajah Putih itu dihentikan. Penyebabnya, makin meluasnya penyebaran virus Korona (Covid-19). Keinginan untuk pulang pun diurungkan. Sebab, dia melihat kondisi di Thailand dan Indonesia sama saja.

Mantan pemain Sriwijaya FC ini sempat berniat untuk pulang ke Indonesia. Sebab, dia merasa jenuh melewati hari-harinya di Thailand tanpa aktivitas sepak bola. Pria asal Sorong ini merasa hari-harinya berjalan sangat lambat. ''Membosankan, kadang-kadang mengerikan,'' ucapnya.

Memang, di kota tempat tinggalnya Prachuap, virus Korona belum begitu mewabah. Namun, perasaan cemas tetap menyelimuti dirinya. Apalagi, jika dia memikirkan keluarganya di Jayapura. Walau tidak pernah update soal korona di Indonesia, dia tahu virus tersebut juga mewabah. ’’Saya sering telpon keluarga, tapi tidak pernah update soal virus. Yang penting keluarga sehat,’’ ujar bek timnas Indonesia ini. .

Rasa bosan, ketakutan, serta rindu kelurga itulah, yang sempat memunculkan niat untuk tiket pulang ke Indonesia. Namun, hal tersebut langsung diurungkan ketika mendengar rekan setim, Baihaki Khaizan yang dikarantina oleh pemerintah Thailand. Baihaki dikarantina sesaat sebelum terbang pulang ke negaranya Singapura. Dia dikarantina di sekitaran bandara selama 14 hari.

Selain itu, dia juga mendengar kabar ada pemain asal Tiongkok yang baru saja pulang dari Thailand. Di Tiongkok, pemain tersebut ternyata positif korona setelah dari Thailand. Yanto akhirnya memutuskan stay di apartemennya. Entah sampai kapan.

’’Mau ke luar liburan di kota lain, tapi situasi belum membaik. Lebih baik waspada,’’ terangnya. Yanto makin jenuh. Pasalnya, klub meliburkan aktifitas latihan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. ’’Sebelumnya pernah latihan, kami disuruh pakai masker. Susah sih,’’ lanjutnya lantas tersenyum.

Beruntung, Prachuap dekat dengan pantai. Rasa bosan yang menderanya bisa hilang dengan main ke pantai. Dia sekaligus bisa bernostalgia ketika masih sering bermain di pantai saat masih kecil di Jayapura.

Untungnya pula, pantai di Prachuap sepi. karena itu, ketakutan akan virus korona sedikit hilang. ’’Biasanya jogging ke pantai. Karena tidak latihan, saya tetap harus jaga kondisi badan sebagai pemain sepak bola,’’ ujarnya.

Jika tidak ada pantai, Yanto tidak tahu apa lagi yang bisa mengusir rasa bosannya. Rutinitasnya sama setiap hari. Bangun di pagi hari, sarapan, menunggu waktu siang, makan lagi, menunggu datangnya malam, makan lantas tidur. Sesekali jogging di sela-sela waktu tersebut. ’’Makan tidur jogging, gitu-gitu saja sih,’’ ucapnya.

Selain rutinitas itu, ada kegiatan tambahan yang dilakukannya. Yakni menjaga kebersihan. Yanto sudah diberi pemahaman soal virus korona oleh timnya. ’’Ya saya sering cuci tangan sekarang. Kalau keluar pakai masker. Yang jelas, saya berusaha tidak ke luar kota dan berkerumun dengan orang banyak dulu,’’ terangnya.

Yanto berharap situasi seperti saat ini cepat berakhir. Sebab, virus korona membuat banyak orang merasa khawatir dan ketakutan. Dia sangat tidak nyaman akan kondisi seperti itu. ’’Semoga cepat berjalan normal lagi seperti biasa. sepak bola bisa jalan lagi, semua sehat selalu,’’ harapnya. (rid/bas)

Editor : izak-Indra Zakaria