Dejan Antonic sebetulnya sudah merasa nyaman tinggal di Indonesia. Namun, krisis moneter yang membuat kompetisi musim 1997-1998 terhenti, memaksa Dejan untuk meninggalkan negeri yang dia cintai.
Bagus Putra Pamungkas, Surabaya, Jawa Pos
"KALAU akibat gejolak politik seperti musim 1997-1998, saya bisa memprediksi kapan kompetisi dimulai lagi. Karena kami tahu politik itu seperti apa,’’ kata Dejan. ‘’Tapi kalau virus? Saya tidak tahu kapan semua akan berakhir,’’ lanjut Dejan saat membandingkan penghentian Liga Indonesia musim 1997-1998 dengan musim ini.
Pria yang kini menangani PSS Sleman itu adalah saksi penghentian Liga Indonesia musim 1997-1998. Saat itu, dia berkostum Persema Malang. Itu adalah musim ketiganya di Indonesia. Setelah memperkuat Persebaya 1996-1997, dia pindah ke Persita Tangerang pada musim berikutnya. Saat berkostum Persema, Dejan sudah sudah sangat betah di Indonesia. Dia mulai mencintai Indonesia.
Rasa nyaman dan kecintaannya kepada Indonesia semakin dalam, setelah dia menjalin hubungan dengan Venna Tikoalu. Gadis asal Surabaya itu akhirnya disunting pada 3 Juli 1999. Saat betah-betahnya di Indonesia, kompetisi malah dihentikan. Dejan ingat betul momen tersebut. "Dolar naik terus. Gaji saya jadi terasa kecil sekali," kata pelatih asal Serbia itu. "Setelah itu demo di mana-mana. Kemudian kompetisi dihentikan," tambahnya.
Saat kompetisi dihentikan, Dejan sempat limbung. Dia panik. Meski dia masih menerima gaji terakhir dari manajemen Persema. "Tidak ada masalah kalau gaji. Manajemen (Persema) baik sekali," jelasnya. Tapi Dejan merasa hampa tanpa bermain bola. Lagi pula, dia perlu pemasukan agar bisa survive di negeri orang. "Saya cari kira-kira setelah ini saya harus main di mana?," kenang mantan pelatih Madura United itu. Saat bingung mencari klub baru, tawaran datang dari Hongkong. Tepat tiga pekan setelah kompetisi berhenti, dia ditawari untuk bermain dengan Instant-Dict. Tanpa pikir panjang, Dejan langsung menyambar tawaran tersebut. Ternyata, bermain di Hongkong membuat Dejan senang. "Fasilitas di Hongkong lengkap. Kami disediakan rumah dan fasilitas lainnya," kata Dejan.
Dia kemudian memboyong sang istri untuk tinggal di Hongkong pada tahun 1999. "Dua pekan setelah menikah istri langsung saya ajak ke Hongkong," jelas jebolan akademi Red Star Belgrade itu. Tercatat, Dejan merumput di Hongkong hingga musim 2003. Kitchee FC jadi klub terakhirnya sebelum dia kembali ke Persebaya pada musim 2003. Dia turut membawa Persebaya juara Divisi I pada musim tersebut. Setelah itu, dia memutuskan pensiun.
Meski pensiun di Surabaya, Dejan bersama keluarga ternyata tetap memilih tinggal di Hongkong sampai saat ini. Padahal, dia lebih banyak mendapat pekerjaan di Indonesia. Lalu, apa alasan Dejan untuk tetap tinggal di Hongkong? "Karena saya merasa nyaman di Hongkong. Lagipula, anak saya Stefan (Antonic) mulai sekolah di Hongkong. Jadi kasihan dia kalau saya pindah-pindah," jelasnya.
Stefan juga lahir di Hongkong pada 2001 silam. Saat ini, dia juga tercatat sebagai pemain junior Kitchee FC. Dejan memgaku senang sang anak bisa mengikuti jejaknya sebagai pesepakbola. Dia tak masalah Stefan memulai karir di Hongkong. "Lagi pula Kitchee ini tim besar di Hongkong," tuturnya.
Berkaca dari kisahnya, Dejan tak menyesali penghentian kompetisi 1997-1998. Dia malah bersyukur. Sebab, dia mendapat kehidupan yang lebih bagus di Hongkong. "Kami semua merasa aman di sini (Hongkong)," katanya. Meski tengah berada di Hongkong, Dejan tetap memantau kondisi Indonesia. "Saya harap penyebaran virus cepat berakhir. Kemudian Liga Indonesia bisa segera dimulai lagi," harapnya. (gus/bas)
Editor : izak-Indra Zakaria