OLAHRAGA berkuda belum setenar cabang olahraga (cabor) prestasi lainnya di Balikpapan. Padahal, induk olahraga berkuda sudah berdiri dan terdaftar di KONI Balikpapan. Yakni, Pengurus Kota (Pengkot) Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Balikpapan. Namun, eksistensinya pun kian sulit tersorot lantaran sederet rintangan mengadang.
Selain terkendala fasilitas, olahraga berkuda cukup lama tak memiliki kuda sebagai sarana latihan utama. Namun, kabar baiknya, belakangan mulai muncul sejumlah klub berkuda di Kota Beriman. Kemunculan klub-klub ini kemudian diharapkan mampu menjadi titik balik kebangkitan olahraga berkuda di Balikpapan.
Salah satu klub berkuda yang mulai eksis satu tahun belakangan adalah Back Wood Horse Riding Balikpapan milik Jose Junior Hormigas. Soal kemungkinan membangkitkan cabor berkuda dan kepengurusan Pengkot Pordasi Balikpapan, Jose enggan berandai-andai. Bagi dia saat ini yang paling utama adalah sosialisasi olahraga berkuda ke masyarakat. “Yang pertama kami ingin olahraga berkuda ini digemari masyarakat dulu,” ujar dia.
Saat ini, Backwood Horse Riding punya sembilan kuda yang dirawat di daerah Balikpapan Selatan. Selain di Balikpapan, Jose mengaku punya pembiakan kuda di Kebumen, Jawa Tengah. Bahkan, Oktober nanti rencananya kuda pacu dari klubnya bakal mewakili Kaltim pada kejuaraan kuda pacu di Jogjakarta.
“Kami akan siapkan lima kuda pacu, semoga saja kita dapat hasil maksimal. Tapi untuk saat ini kami masih gunakan joki dari Jawa,” kata laki-laki yang juga ketua Pengurus Kota (Pengkot) Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Balikpapan itu.
Sejauh ini, Jose mengaku belum ada joki kuda pacuan, sehingga terpaksa menggunakan joki luar daerah. Minimnya fasilitas, diakui dia jadi sebab utama olahraga ini kurang berkembang, begitu juga dengan atlet. “Sebagian masih pegiat saja, belum dikatakan atlet. Tapi ke depan kami juga akan berusaha untuk menuju ke sana, apalagi kami sudah punya pelatih berkuda bersertifikat,” tuntas dia. (hul/ndy/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria