Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Pro dan Kontra Pemain Naturalisasi di Timnas U-19, Tak Ada Jaminan Lolos Grup

izak-Indra Zakaria • Senin, 24 Agustus 2020 - 10:13 WIB
Jacksen F Tiago
Jacksen F Tiago

JAKARTA–Upaya PSSI melakukan naturalisasi sejumlah pemain muda asal Brasil menuai pro dan kontra. Rencana itu disebut bakal memunculkan kesenjangan bagi pemain lokal. Pelatih asal Brasil Jacksen F Tiago sudah 26 tahun berada di Indonesia. Dia pun paham akan kualitas para pesepakbolanya, terutama pemain muda. Bagi Jacksen, bakat-bakat yang dimiliki Indonesia luar biasa.

Namun, ketika mendengar ada beberapa pemain muda Brasil datang, dia mengaku tidak tahu-menahu. “Jadi, kalau ditanya soal pemain muda itu, saya tidak tahu. Saya tidak pernah lihat sama sekali, sehingga tidak bisa memberikan informasi tentang kemampuan mereka atau apa pun soal itu,” tuturnya.

Jacksen juga enggan berkomentar tentang rencana PSSI melakukan naturalisasi pemain Brasil. Bagi dia, hal itu bukan tanggung jawabnya. Bukan sesuatu yang pantas ditanyakan kepadanya. “Saya rasa banyak pakar di Indonesia yang lebih kompeten menjawab itu. Itu juga bukan tugas saya, saya adalah pelatih Persipura,” paparnya.

Namun, meski tidak menjawab secara tegas, Jacksen menyatakan bahwa masyarakat Indonesia bisa menilai bagaimana pendapatnya dari sikap-sikapnya dalam melatih selama ini. Bagaimana dirinya selalu mencoba membantu Timnas Indonesia mengorbitkan pemain muda di setiap tim yang dilatih.

“Ya, supaya mereka bisa berkembang agar berguna bagi bangsa dan negara. Semua orang pasti sudah tahu prinsip dan kepribadian saya soal pemain-pemain muda. Pasti tahu kok pendapat saya walaupun tidak dijelaskan,” terangnya.

Soal banyaknya pemain berusia muda Brasil yang keluar dari negaranya, Jacksen menyebut, hal itu biasa. Seperti dirinya dulu ketika kali pertama keluar dari Negeri Samba untuk berkarier di sepak bola. Saat itu di usia menginjak 25 tahun, dia memilih berkarier di luar negeri untuk kehidupan yang lebih baik.

Pelatih yang pernah membawa Persebaya Surabaya juara Liga Indonesia pada 2004 itu mengungkapkan, dulu dirinya dan enam pemain Brasil diajak agen bermain di Asia Tenggara. Awalnya, tawaran yang datang adalah bermain di Malaysia.

“Tapi, ketika sampai di Singapura, ternyata tidak ada tawaran itu. Akhirnya ada satu orang teman saya pulang dan beberapa teman lainnya berdiskusi dan memilih bertahan di sini (Indonesia). Jadi, 26 tahun sudah saya di sini,” paparnya.

Jacksen menjelaskan, sepak bola Indonesia saat ini sudah lebih maju. Terutama perhatian kepada pemain muda. “Sejak ada Elite Pro Academy itu sangat bagus. Saya bisa mencari pemain muda dari sana. Harusnya itu diteruskan agar muncul pemain-pemain bagus,” tuturnya.

Sementara itu, pengamat sepak bola Tommy Welly mengkritik keras keputusan PSSI soal rencana naturalisasi pemain muda Brasil untuk Timnas U-19. Menurut dia, keputusan itu merampas hak pemain muda Indonesia. Membunuh mimpi besar mereka.

“Saya tidak mengerti apa yang mau diraih dengan naturalisasi pemain Brasil itu. Apa ada jaminan lolos grup (Piala Dunia U-20)? Menurut saya, publik itu hanya minta keseriusan PSSI mempersiapkan timnas. Karena itulah, dikontrak seorang Shin Tae-yong agar bisa mengembangkan sepak bola,” ucap pria yang kerap disapa Towel tersebut.

Apa yang dikatakan Tommy dibenarkan anggota Exco PSSI Hasani Abdulghani. Menurut dia, ada sesuatu yang lain yang harus menjadi fokus terkait terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. “Terpilihnya Indonesia jadi tuan rumah Piala Dunia U-20 itu mengangkat nilai negara ini. Menjadi bukti bahwa Indonesia mampu menggelar event serupa yang lebih besar nantinya,” katanya.

Dirinya tidak setuju jika para pemain Brasil itu dinaturalisasi. Selain akan menyalahi regulasi, para pemain tersebut tidak lebih baik daripada pemain lokal karena tak pernah ada kejelasan asal-usulnya.

“Tapi, kalau memang mereka adalah rencana investasi klub, saya setuju. Agar, tradisi mengontrak pemain asing tiap musim bisa berubah. Pemain-pemain ini nanti bisa memberikan keuntungan bagi klub kalau dia benar-benar berkembang pada masa depan. Itu cara yang sudah diterapkan klub-klub Eropa, investasi pemain muda asing. Ketika nanti matang, harga jualnya lebih mahal,” paparnya.

 

 

BUKAN DIMAUI PELATIH

Upaya naturalisasi itu tak cuma memperlihatkan acakadutnya roda organisasi PSSI, tapi, juga bakal sia-sia belaka. Pelatih Tim Nasional (Timnas) Indonesia Shin Tae-yong memang memerlukan tambahan tenaga “impor” di skuat didikannya yang disiapkan untuk Piala Dunia U-20 tahun depan.

Namun, yang dimaui pelatih asal Korea Selatan (Korsel) tersebut, hanya mereka yang punya darah atau keturunan Indonesia. “Saya hanya mau mencari pemain berdarah Indonesia saja. Itu untuk meng-upgrade lagi satu tingkat kemampuan pemain lokal di sini,” katanya.

Itu juga dipertegas Nova Arianto, asisten pelatih Timnas U-19. Nova mengatakan, dirinya dan staf pelatih lain diminta mengumpulkan berbagai data dan video mengenai permainan pesepak bola berdarah Indonesia di luar negeri.

Data-data itu ujungnya diberikan kepada Shin Tae-yong untuk dianalisis ulang. “Coach Shin yang akan melihat apakah pemain itu sesuai dengan karakter yang diperlukan tim atau tidak,” ucapnya.

Hal tersebut dibuktikan dengan hadirnya dua pemain yang bermain di Inggris dan beribu perempuan Indonesia: Elkan Baggot dari klub Ipswich Town U-18 dan Jack Brown dari Lincoln City U-18.

Nama kedua malah sampai saat ini masih ikut training camp bersama Timnas U-19. Sedangkan Elkan justru diberi free pass oleh Shin Tae-yong, yakni boleh langsung ikut ke Piala AFC U-19 meski harus kembali berlatih bersama klubnya di Inggris.

Sementara kelima pemain Brasil yang kini berlatih bersama Persija Jakarta (Thiago Apolina Pereira dan Maike Henrique Irine De Lima), Arema FC (Pedro Henrique Bartoli Jardim dan Hugo Guilherme Correa Grillo), serta Madura United (Robert Junior Rodrigo Santos) sama sekali tak ada hubungan apapun dengan Indonesia. Mereka tak pernah main di negeri ini dan bisa jadi baru kali ini menginjakkan kaki di sini.

Padahal, dalam satu dekade terakhir, yang mendapat kesempatan naturalisasi adalah mereka yang punya darah Indonesia. Atau sudah cukup lama bermain di sini atau mempersunting perempuan Indonesia.

Proyek naturalisasi itu juga memperlihatkan karut-marutnya PSSI. Direktur Teknik PSSI Indra Sjafri mengaku tak ada program itu. Namun, pelatih Persija Sergio Farias menyebut, Thiago serta Maike adalah bagian dari proyek naturalisasi PSSI. General Manager Arema Ruddy Widodo juga menyebut, Arema berniat menaturalisasi Pedro dan Hugo.

Maike dan Pedro juga termasuk dua di antara tiga pemain yang fotonya ditampilkan dalam slide Iwan Bule, ketua PSSI, dalam webinar beberapa pekan lalu. “Kami akan melakukan ‘cara-cara luar biasa’ untuk meraih sukses prestasi pada Piala Dunia U-20 2021. Termasuk dimungkinkan melakukan nasionalisasi/naturalisasi pemain di usia emas sebagai pesepak bola.” Demikian yang tertulis di slide Iwan Bule.

KURANG TRANSPARAN

Ada banyak pertanyaan dari niat PSSI yang terkesan “simsalabim” itu. Kalau memang berniat melakukan jalan pintas naturalisasi, mengapa tidak terbuka saja dan dijelaskan alasannya? Mengapa tak ada koordinasi dengan direktur teknik dan pelatih timnas yang notabene paling bertanggung jawab soal teknis? Mengapa memilih Brasil dan apa keistimewaan para pemain itu sehingga dipilih?

Sumber Jawa Pos di internal PSSI mengatakan, rencana awal bahkan bukan hanya lima, tapi delapan pemain asal Brasil yang datang. Selain Persija, Arema, dan Madura United, PSIS Semarang juga ditawari.

CEO PSIS Semarang Yoyok Sukawi tidak menampik hal tersebut. Menurut dia, memang ada yang menawarkan pemain kepadanya. “Tapi, PSIS ‘kan punya tim talent scouting sendiri untuk berburu pemain. Dan, bagi PSIS, pemain asing muda itu bukan hal baru. Pemain asing sering kami kontrak umur 18 sampai 26 tahun,” paparnya.

Pria yang juga anggota Executive Committee (Exco) PSSI itu menambahkan, isu naturalisasi tersebut tidak faktual. Dia mengira, ada pihak-pihak yang sengaja mengembuskan isu tersebut untuk mengganggu persiapan Timnas U-19. “Ini sengaja diembuskan, lalu digoreng sama media,” ucapnya.

Sementara itu, anggota Exco PSSI lainnya, Haruna Soemitro, menegaskan bahwa agen yang menawarkan pemain tersebut berasal dari Brasil. Para pemain yang datang, termasuk ke Madura United, tempat dirinya menjabat direktur tim, merupakan anak didik Marcos Cafu.

Siapa agen yang dimaksud? Dia adalah Anderson Guido de Medeiros. Haruna mengaku tidak kenal Medeiros. Tapi, begitu melihat pemain yang ditawarkan, Haruna langsung kepincut.

Pemain itu adalah Robert Junior Rodrigo Santos. Striker 19 tahun asal Brasil itulah yang kini masuk skuat Madura United. “Agen ini dari Brasil dan saya belum pernah melakukan negosiasi pemain dengan dia sebelumnya,” kata Haruna saat dihubungi Jawa Pos kemarin.

Haruna menegaskan bahwa Santos bukanlah pemain titipan. Ataupun pemain yang akan masuk proyek naturalisasi PSSI untuk persiapan Piala Dunia U-20 tahun depan. “Saya juga bingung kok ujuk-ujuk booming naturalisasi. Wong kualitasnya saja kami masih belum tahu,” kata mantan ketua Asprov PSSI Jatim itu.

Haruna boleh berkilah demikian. Namun, fakta menyebutkan, Santos ke Indonesia bareng empat pemain lain yang dua di antaranya diakui pelatih Persija asal Brasil sebagai bagian dari proyek naturalisasi PSSI. Dan, seperti disebutkan di atas, dua di antara lima pemain itu, Maike dan Pedro, ada dalam slide Iwan Bule. (rid/ali/JPG/rom/k16)

Editor : izak-Indra Zakaria
#bola nasional