Mereka tidak lebih dikenal ketimbang pemain dan pelatih. Tapi, peran pelatih fisik tak kalah krusial dalam kesuksesan sebuah tim sepak bola.
APABILA ditotal, Antonio Pintus adalah sosok yang paling banyak berpengaruh di balik trofi bergengsi klub elite Eropa. Pintus mampu menyamai Carlo Ancelotti sebagai pelatih dengan koleksi juara Liga Champions terbanyak (4 kali). Bedanya, Pintus tidak banyak tersorot dalam pertandingan karena dia adalah pelatih fisik.
Pintus ada di belakang sukses Real Madrid tiga kali memenangi Si Kuping Lebar –sebutan trofi Liga Champions. Dua kali di era Zinedine Zidane dan pada musim lalu (2021—2022) bersama Ancelotti. Satu lainnya dia rasakan saat masih menggembleng fisik Juventus pada musim 1995—1996. Ketika Antonio Conte masih jadi kapten Juve.
Tapi, Conte tahu benar kemampuan Pintus. Ketika Conte melatih Inter Milan, Pintus-lah yang membantunya memenangi scudetto Serie A 2019—2020. Seiring The Godfather –julukan Conte –meninggalkan Inter pada musim panas 2021, Pintus balik ke Real dan meraih kesuksesan dengan trofi Liga Champions maupun La Liga.
Pintus menikmati pekerjaannya karena bisa berkolaborasi dengan pelatih top seperti Carletto –sapaan akrab Ancelotti, Conte, Zidane, Marcelo Lippi, Didier Deschamps, hingga Claudio Ranieri. ”Sangat beruntung bisa bekerja sama dengan pelatih-pelatih hebat itu. Mereka semuanya pemenang,’’ ucap Pintus kepada Sky Sport Italia jelang final Liga Champions musim lalu.
Tanpa bermaksud sombong, Pintus menyebut bahwa pelatih fisik merupakan pekerjaan yang sesungguhnya di balik hadirnya trofi juara. Sebab, pelatih fisik paham dengan kondisi pemain ketimbang pelatih. ”(Romelu) Lukaku di Inter adalah sprinter. Dia memiliki tubuh pemain American football. (Luka) Modric itu tipikal pelari marathon dengan kecepatan yang menakjubkan,’’ beber Pintus.
Pernyataan Pintus didukung oleh fakta tentang Javier Minano. Saat ini, Minano bekerja sebagai pelatih fisik timnas Armenia. Timnas ketiganya setelah Spanyol dan Korea Selatan (Korsel). Di La Furia Roja –sebutan timnas Spanyol, Minano menjadi kepercayaan entrenador Vicente del Bosque ketika merengkuh dua kali juara Euro (2008 dan 2012) dan berjaya di Piala Dunia 2010. Del Bosque pun mengakui peran vital Minano. ”Dia (Minano) mengerti tipikal pemain seperti apa yang dibutuhkan seorang pelatih. Dia pemenang yang sesungguhnya,’’ kata Del Bosque kepada El Pais.
Masih ingat kejutan Korsel yang diasuh pelatih timnas Indonesia saat ini, Shin Tae-yong (STY) di Piala Dunia Rusia 2018? Berkat Minano, Son Heung-min dkk memiliki kekuatah fisik mengagumkan. Itu jadi kunci utama Korsel mengalahkan Jerman dalam matchday akhir fase grup. Padahal, Minano baru kali pertama menangani fisik pemain-pemain Asia.
”Aku tahu tujuan federasi (sepak bola, Red) Korsel adalah memperkuat sosok pelatih. Mereka pun butuh bantuan eksternal, seseorang yang memiliki pengalaman di Piala Dunia. Di situlah peranku,’’ tutur Minano seperti dikutip Estadio Deportivo. Diakui Minano, kondisi fisik pemain Korsel yang bermain di liga domestik kurang dibandingkan mereka yang berkiprah di liga Eropa.
Di sisi lain, Liverpool FC (LFC) menghadapi musim ini (2022—2023) dengan menambah komposisi staf pelatih mereka. Meski sudah memiliki Andreas Kornmayer yang bekerja sangat bagus sebagai kepala kebugaran dan kondisi pemain, LFC merasa butuh jasa Frigyes Vanden Auweele sebagai kepala osteopati.
Tugas utama Auweele adalah mendeteksi, mencegah, dan mengobati masalah kesehatan melalui gerakan, peregangan, dan pemijatan otot dan persendian pemain.
Jadi, pelatih asal Belgia itu menyiapkan kondisi pemain LFC sebelum maupun sesudah latihan dan pertandingan. Jika ada keluhan, maka itu menjadi tugas Kornmayer.
Auweele telah memiliki jam terbang tinggi di bidangnya seiring pernah bekerja sama dengan atlet dari berbagai cabor. Sebut saja Jasper Stuyven (pembalap sepeda), Denis Odoi (pesepak bola kala membela Fulham FC), Anak Verhoeven (panjat tebing), dan Ben Broeders (lompat galah). (ren/io/dns)
Editor : izak-Indra Zakaria