Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Luigi Meroni, Sosok yang Selalu Dikenang Setiap Derbi Turin

izak-Indra Zakaria • 2022-10-16 13:33:01
Luigi Meroni
Luigi Meroni

Derbi Turin, Torino vs Juventus tersaji pada pekan ke-10 Serie A 2022/23 di Stadio Olimpico (Turin), Sabtu (15/10/2022) malam WIB, tepat 55 tahun meninggalnya Luigi ‘Gigi’ Meroni. Luigi Meroni selalu dikenang setiap Derbi Turin. 

Gigi Meroni lahir di Como pada 24 Februari 1943. Ia mengawali karir professionalnya sebagai pesepakbola di klub kota kelahirannya tersebut.

Setelah dua tahun bermain bersama Como, ia hijrah ke Genoa. Tepatnya pada 1 Desember 1962. 

Seperti ketika di Como, Meroni hanya bertahan dua tahun di Genoa. Pada 1 Desember 1964, saat usianya menginjak 21 tahun ia hijrah ke kota Turin. Torino membayar 300 juta lira untuk mendatangkan penyerang sayap kanan itu.

Saat itu, Torino yang sedang membangun lagi kegemilangan mereka setelah tragedi pesawat Super Ega begitu mengharapkan petuah pemain yang gemar memakai nomor 7 ini. 

Peran Luigi Meroni sangat diharapkan untuk dapat membawa Torino kembali berjaya di Italia. Sedikit demi sedikit, kebersamaan Meroni dan Torino pun berbuah hasil.

Pada musim 1964/1965, Torino berhasil finis di posisi ketiga klasemen akhir Liga Italia di bawah Inter Milan dan AC Milan.

Mereka pun berhasil mencapai babak semifinal Piala Winners, sayang langkah Torino untuk mencapai partai puncak dihentikan oleh TSV 1860 Munchen.

Total Luigi Meroni bermain 102 pertandingan bagi Torino dan menciptakan 22 gol di berbagai kompetisi.

Kegemilangannya di sisi penyerangan Torino pun berbuah panggilan Timnas Italia. Ia menjalani debutnya di tahun 1965 dan menjadi bagian skuat timnas Italia di Piala Dunia 1966, di bawah asuhan Edmondo Fabbri.

Namun sayang, keikutsertaannya tidak dibarengi dengan kesuksesan Italia. 

Timnas Azzuri gagal total di Inggris, mereka hanya mampu menduduki peringkat ketiga di babak grup, dengan hasil 1 kemenangan dan 2 kekalahan.

Kemenangan 2-0 atas Chile di pertandingan pertama, diikuti kekalahan 0-1 dari Uni Soviet dan Korea Utara di pertandingan kedua dan ketiga. Membuat Italia harus tersingkir sejak awal.

Sejak saat itu, Meroni semakin menggeliat. Perannya di Torino semakin begitu vital. Bahkan di dua musim awal berbaju merah marun, ia tidak pernah absen membela Torino.

Bermain sebanyak 78 pertandingan dengan menorehkan 12 gol.

Bahkan ada sebuah peristiwa terkenal yang berhasil ditorehkan oleh seorang Meroni, saat Torino bertandang ke kandang Inter Milan, Maret 1967.

Meroni berhasil membawa Torino memenangkan pertandingan dengan skor 2-1, saat itu Inter yang diasuh oleh Hellenio Herrera tidak pernah kalah di kandang selama 3 tahun, namun Meroni berhasil membawa Torino menghancurkan rekor itu. 

Dan yang menjadi pelengkap kemenangan Torino tersebut adalah keindahan gol yang diciptakan oleh Meroni.

Ia yang dijaga ketat Giacinto Faccheti berhasil men-chip bola dengan begitu indahnya melewati Faccheti dan penjaga gawang Inter saat itu.

Dengan satu sentuhan kala menerima sodoran di kotak penalti, Meroni berhasil membidik dengan tepat ke kiri atas gawang Inter.

Gol ini pun disebut-sebut sebagai salah satu gol terbaik di Liga Italia hingga saat ini.

Kontroversi La Granata Butterfly

Luigi Meroni berwajah tampan nan rupawan untuk ukuran pemain sepakbola.

Dengan kulit putih menawan, kumis tebal yang menghiasi bawah hidung dan potongan rambut lebat ala Beatles saat itu, menjadikan ia pemain yang begitu berbeda.

Karena saat itu, sepakbola Italia terkenal disiplin, termasuk terhadap penampilan pemain. Namun Meroni melawan budaya itu, ia seperti tak peduli.

Soal rambutnya yang lebat itu, ia pernah dengan tegas menolak permintaan staf pelatih Italia untuk memotong rambutnya saat ia menjadi bagian tim Azzuri di Piala Dunia 1966.

Ia pun diancam tidak dimainkan, namun Meroni tetap menolak dan mengatakan, “Saya dapat bermain dengan sangat baik meskipun dengan rambut yang begitu panjang,” ujarnya kala itu.

Memang sejak kecil Gigi Meroni mahir melukis, maka tak heran jika ia memiliki imajinasi dan kreativitas yang tinggi.

Bukan hanya dalam melukis, namun imajinasi dan kreatifitasnya ia gunakan dalam caranya berpenampilan.

Imajinasi dan kreativitasnya itu pun ia bawa ke lapangan hijau, bagaimana kelincahan ia dalam menggiring bola selalu membuat pemain bertahan lawan kocar-kacir tak karuan.

Maka tak heran ia pun dijuluki La Granata Butterfly atau kupu-kupu merah marun, merujuk pada bagaimana kelincahan dan keindahan permainan yang ia tampilkan seperti seekor kupu-kupu yang sedang terbang kesana kemari.

Gigi Meroni memang seorang yang suka diperhatikan orang lain, selain soal penampilannya, perilakunya pun terkadang menjadi konsumsi publik.

Saat mendapat cemoohan dan kritikan dari publik Como akibat keputusannya untuk pindah, ia membalas hal tersebut dengan berjalan-jalan di sekitaran pusat kota Como sambil memakai pakaian renang dan membawa ayam peliharaanya.

Seperti seorang pelukis yang terkadang goresan tintanya tak dapat dimengerti oleh orang lain, tak ada yang tahu apa maksud Meroni saat itu.

Gigi Meroni Meninggal

Luigi Meroni begitu dielu-elukan suporter Torino. Maka tak heran, saat isu penjualannya ke klub rival Juventus kencang terdengar, para pendukung Torino berbondong-bondong memprotes niatan presiden klub saat itu, Orfeo Pianelli.

Transfer Meroni senilai 750 juta lira dari Torino ke Juventus pun akhirnya tidak terealisasi.

Di tengah karirnya bersama Torino yang moncer, takdir berkata lain. Luigi Meroni meninggal pada 15 Oktober 1967, pada usia 24 tahun.

Sebuah kecelakaan merenggut nyawa Meroni. Saat ia menyebrang dan tertabrak oleh seorang pengemudi mobil FIAT.

Saat itu Meroni bersama rekannya berniat untuk merayakan kemenangan atas Sampdoria di sebuah bar. Namun nahas, saat akan menyebrang ia tertabrak dan tubuhnya terpental.

Hampir 20.000 orang menghadiri proses pemakaman Luigi Meroni, Torino kembali berduka.

Setelah kehilangan seluruh pemain yang membawa kejayaan Torino dalam tragedy Superga, mereka pun kembali harus kehilangan seorang pemain yang sedang mencoba mengembalikan kejayaan Torino di Italia.

Seminggu setelah kematian Meroni, Torino harus bertanding menghadapi klub sekota mereka, Juventus.

Para pendukung Torino saat itu terus meneriakkan “Gigi, Gigi” sepanjang pertandingan.

Mereka seperti mengharapkan kehadiran Meroni di lapangan, mereka seperti ingin kembali melihat permainan apik nan indah yang sering diperlihatkan Meroni.

Torino pun berhasil memenangkan pertandingan dengan skor 4-0, berkat hattrick Nestor Combin. Ia mendedikasikan seluruh golnya untuk Meroni.

Satu gol lainnya -gol terakhir di laga itu- dicetak Alberto Cirelli. Pemain yang menggunakan nomor kebesaran Meroni yakni nomor tujuh.

Menjadi persembahan yang begitu indah bagi Meroni dari klub yang telah membesarkan namanya.

Dan hal yang sangat mengejutkan dari kematian Meroni adalah tentang orang yang menyebabkan kematiannya.

Orang yang saat itu menabrak Gigi Meroni bernama Attilio Romero, pemuda berusia 19 tahun yang merupakan pendukung setia Torino.

Dan setelah 33 tahun peristiwa itu berlalu, Attilio Romero pun didapuk menjadi presiden klub.

Ironis memang, orang yang membuat legenda Torino meregang nyawa, di kemudian hari menjadi presiden klub mereka.

Profil Luigi Meroni

  • Nama di negara asal: Luigi Meroni
  • Tempat Tanggal lahir: Como, 24 Feb 1943
  • Tanggal meninggal : 15.10.1967 (24)
  • Tinggi: 1,70 m
  • Kewarganegaraan: Italia
  • Posisi: Penyerang – Sayap Kanan
  • Posisi lain: Sayap kiri
  • Kaki andalan: keduanya
  • Klub:
    1 Desember 1962 : Genoa
    1 Desember 1964 : Torino
  • Caps (Timnas Italia) : 6 (2 gol)

(medil/pojoksatu)

 

 
Editor : izak-Indra Zakaria