Chelsea beruntung memiliki gelandang serang seperti Cole Palmer. Tak sekadar bertalenta brilian. Dia memiliki senjata mematikan ketika dipercaya jadi eksekutor hadiah penalti. Dari 4 hadiah penalti yang didapatnya, semua sukses dikonversi menjadi gol.
Nah, performa mantap jebolan akademi Manchester City itu di titik putih itu ternyata berbanding lurus dengan tren eksekutor penalti kidal di Premier League musim ini. Dari 48 penalti yang terjadi, 23 di antaranya atau hampir separonya merupakan hasil sepakan pemain kidal.
Sejak musim 2019–2020 pemain kidal berhasil menyelesaikan 84,7 persen penalti di Premier League. Nominal tersebut 5 persen lebih tinggi ketimbang pemain berkaki kanan (79,4 persen) dalam periode yang sama.
Meski begitu, sebenarnya persentase kegagalan dari dua kaki nyaris sama besar. Yakni, 6,1 persen untuk kaki kanan dan 6,5 di kidal. Perbedaannya terletak pada tingkat penyelamatan oleh kiper lawan yang mencatatkan 14,4 persen untuk penalti kaki kanan. Namun, hanya 8,7 persen penalti kidal.
’’Pemain kidal memiliki gaya tersendiri ketika mengendalikan bola. Bukan sekadar striker atau gelandang. Bek juga memiliki keistimewaan yang sama. Mereka sangat tricky,’’ tulis kolumnis The Athletic Matt Pyzdrowski.
The Athletic melansir bahwa arah eksekutor kidal lebih sulit ditebak daripada eksekutor kaki kanan. ’’Gestur penendang kidal sulit diterka,” lanjut Pyzdrowski. Sejak dua musim lalu, hal itu dibuktikan dengan fakta ada 41 persen eksekutor kaki kanan yang bisa ditebak oleh kiper. Sedangkan kaki kidal hanya 30 persen. (io/c18/dra)
Editor : izak-Indra Zakaria