PROKAL.CO- Selama ini, dunia mengenal Conor McGregor sebagai sosok petarung UFC yang lekat dengan kemewahan, kesombongan, dan tumpukan uang. Gaya hidupnya yang glamor, setelan jas mahal, hingga jet pribadi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari persona “The Notorious”. Namun, di balik topeng kemegahan yang biasa ia pamerkan ke publik, petarung asal Irlandia tersebut baru-baru ini membuka sisi paling rapuh dari kehidupan pribadinya.
Dalam sebuah pengakuan yang emosional dalam podcast Ariel Helwani, McGregor mengungkapkan bahwa kekayaan melimpah yang diraihnya dengan darah dan keringat sama sekali tidak membawa kepuasan batin. Sebaliknya, saat ini ia justru sedang terjebak dalam pertarungan batin yang sengit melawan versi dirinya yang lama. Bagi McGregor, oktagon kini telah berpindah ke dalam kepalanya sendiri. Ia mengaku harus berjuang keras setiap hari untuk lepas dari kebiasaan-kebiasaan buruk masa lalu demi bisa merangkul sosok manusia yang lebih baik.
"Manusia, aku berbeda, saudara," ujar McGregor secara terbuka saat merefleksikan kondisi jiwanya hari ini. "Aku mendapati diriku masih dalam pertarungan — antara cara-cara lama yang tidak lagi bermanfaat bagiku dan cara-cara baru, versi baru diriku, pria baru yang sekarang aku jadi. Aku mendapati diriku dalam kompetisi, dalam pertempuran dengan itu."
Pernyataan jujur ini mengindikasikan adanya gejolak psikologis yang luar biasa besar dalam diri sang mantan juara dua divisi UFC tersebut. Di satu sisi, ia ingin mempertahankan kedewasaan dan ketenangan hidup yang baru ia temukan. Namun di sisi lain, bayang-bayang ego, keliaran, dan liarnya gaya hidup masa lalu terus mengintai, mencoba menariknya kembali ke jurang yang sama.
Sebagai salah satu atlet terkaya di dunia versi Forbes—yang mengumpulkan pundi-pundi uangnya dari bayaran tanding raksasa serta kesuksesan gurita bisnis wiskinya—pandangan McGregor tentang materi ini tentu mengejutkan banyak pihak. Ketika banyak orang mengira uang bisa menyelesaikan segala masalah, McGregor justru melihatnya dari sudut pandang sebaliknya. Ia menegaskan bahwa lembaran dolar tidak akan pernah bisa membeli kedamaian hidup.
"Uang bukanlah segalanya. Itu bukan kehidupan... Lihat apa yang dibawanya padaku," kata McGregor retoris. Kalimat itu diucapkan bukan tanpa alasan; ia merujuk langsung pada rentetan kontroversi, kasus hukum, dan sorotan negatif media yang terus mengintai hidupnya sejak ia menyandang status sebagai seorang miliarder. Meskipun logika sehatnya telah memahami esensi tersebut, McGregor tidak menampik bahwa tarikan magnet dari masa lalunya masih terasa sangat kuat. "Meski begitu, bahkan sekarang, aku masih bisa merasakannya di suatu tempat."
Sebagai penutup dari pengakuan spiritualnya, petarung yang kini berusia 37 tahun tersebut menyatakan komitmen bulatnya untuk tidak lagi menyerah pada pengaruh buruk di sekelilingnya. Ia sadar betul bahwa status super-bintang yang disandangnya membuat banyak jerat tak terlihat yang siap mencengkeram dan menjatuhkannya kapan saja jika ia lengah sedikit saja.
"Ada kekuatan-kekuatan yang mencoba mencengkeramkan kukunya ke dalam dirimu dalam kehidupan ini, dan aku tidak ingin memberinya energi. Aku tidak ingin memberinya kehidupan," tegasnya dengan penuh keyakinan.
Pada akhirnya, pengakuan mengejutkan dari Conor McGregor ini memperlihatkan realitas yang jujur kepada dunia. Bahwa di balik otot yang kekar, rajatan tato, dan harta yang melimpah, seorang megabintang olahraga global sekalipun tetaplah manusia biasa. Seseorang yang di penghujung hari, harus terus berjuang sendirian demi menjinakkan egonya sendiri. (*)
Editor : Indra Zakaria