Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Ogah Disebut Cuma Jago Gulat, Kamaru Usman Siap Beri Pelajaran Spiritual ke Du Plessis

Redaksi Prokal • Jumat, 17 Juli 2026 | 09:45 WIB
Dricus du Plessis dan Kamaru Usman.
Dricus du Plessis dan Kamaru Usman.

OKLAHOMA CITY — Mantan raja kelas welter UFC, Kamaru Usman, siap menandai era baru dalam kariernya saat naik ke kelas menengah (middleweight) untuk menghadapi Dricus Du Plessis di UFC Fight Night 281 akhir pekan ini, Minggu pagi (18/7). Menjelang bentrokan sengit di Oklahoma City tersebut, petarung berjuluk "The Nigerian Nightmare" ini menegaskan bahwa dirinya kini tidak lagi terpaku pada satu divisi demi mengejar warisan sejarah yang lebih besar.

Dalam sesi konferensi pers menjelang laga, Usman menjelaskan keputusannya untuk naik ke kelas 185 pon setelah sebelumnya meraih kemenangan dominan atas Joaquin Buckley. Ia mengaku sangat terbuka untuk bertarung di kelas mana pun selama tantangan dan bayarannya sepadan.

"Saya suka bercanda dan mengatakan bahwa saya sekarang adalah petarung kelas uang (money weight fighter). Jadi, jika ada peluang di kelas welter, saya akan mengambilnya. Jika di kelas menengah, saya juga akan melakukannya. Sial, bahkan jika ada tawaran di kelas berat ringan, saya mungkin akan menerimanya," ujar Usman dengan nada santai namun penuh percaya diri.

Bukan Jalur Mudah Menuju Sabuk Juara

Meski kepindahannya ke kelas menengah membuka peluang untuk perebutan takhta baru, Usman menolak anggapan bahwa divisi ini akan lebih mudah ditaklukkan dibanding kelas welter yang pernah ia kuasai selama bertahun-tahun. Baginya, jajaran petarung papan atas di kelas menengah seperti Jared Cannonier, Nassourdine Imavov, hingga Caio Borralho adalah ujian yang sangat berat.

Awalnya, Usman sempat mengincar pertarungan melawan Islam Makhachev, namun pihak promotor memiliki rencana lain yang akhirnya mempertemukannya dengan Du Plessis. Motivasi terbesarnya saat ini adalah mengamankan sabuk juara di divisi kedua demi masuk ke jajaran petarung terhebat sepanjang sejarah.

"Tentu saja di dalam kepala saya, saya sudah merasa sebagai salah satu petarung lima besar terbaik sepanjang masa. Namun, bergabung dengan klub double champ (juara di dua divisi berbeda) adalah satu-satunya pencapaian yang belum saya miliki saat ini, dan saya sangat ingin masuk ke dalam klub elit tersebut," tegas Usman mengenai ambisi besarnya.

Menolak Taktik Monoton dan Soroti Aspek "Spiritual" Pertarungan

Banyak analis menilai Usman akan dengan mudah mendominasi Du Plessis di lantai oktagon, berkaca pada bagaimana Khamzat Chimaev menjinakkan petarung asal Afrika Selatan itu lewat kemampuan gulatnya. Namun, Usman menilai pertarungan sesungguhnya jauh lebih kompleks daripada sekadar adu teknik gulat di atas kertas.

"Banyak orang melihat laga ini dan berpikir bahwa karena saya seorang pegulat, maka saya hanya akan bergulat. Berbeda petarung, maka berbeda pula jalannya laga. Hal terbesar yang tidak dipahami orang-orang adalah adanya aspek spiritual dalam pertarungan. Anda harus menghadapi mental dan semangat bertarungnya. Saya mungkin saja akan merubuhkannya lewat adu pukulan, atau menjatuhkannya lewat bantingan. Apapun yang ia berikan di dalam oktagon, saya akan mengeksploitasinya," jelas Usman.

Ia juga menutup telinga rapat-rapat dari psywar kubu lawan, terutama pernyataan pelatih Du Plessis yang menyebut akan sangat bodoh jika Usman memilih beradu pukulan dalam posisi berdiri (striking). "Saya mencoba untuk tidak memedulikan hal-hal seperti itu. Saya sangat memercayai tim saya, dan kami telah bersama selama bertahun-tahun. Saya hanya sangat bersemangat untuk masuk ke sana, membiarkan semua hasil latihan keras saya mengambil alih pertarungan, dan melukis satu lagi mahakarya di dalam oktagon," pungkas Usman dengan optimistis. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Dricus Du Plessis kamaru usman