PROKAL.CO- Ian Machado Garry telah menyuarakan ambisinya untuk menjadi juara kelas welter UFC sejak hari pertama ia melangkah ke dalam promosi tersebut. Kini, setelah mengantongi rekor 10-1 di dalam octagon, petarung asal Irlandia itu akhirnya mendapatkan kesempatan emasnya saat berhadapan dengan Islam Makhachev dalam duel utama UFC 330.
Menjelang pertarungan akbar tersebut, kedua petarung memang saling melontarkan prediksi berani tentang bagaimana laga akan berakhir. Namun, tidak ada trash talk berlebihan yang melampaui batas atau bersifat personal. Garry bahkan mengaku secara sengaja memberikan rasa hormat yang lebih besar kepada Makhachev dibandingkan lawan-lawan sebelumnya.
Bagi Garry, tidak ada alasan untuk menjatuhkan sosok yang hampir secara universal diakui sebagai petarung pound-for-pound terbaik di dunia saat ini—karena itulah sosok yang ingin ia kalahkan untuk meraih sabuk juara. "Secara sengaja, saya menempatkannya di atas pedestal (tempat yang dihormati)," ujar Garry kepada MMA Fighting melalui Betvictor Casino.
"Saya memberinya rasa hormat lebih dari yang lain karena itu memang pantas dan layak ia dapatkan. Saya menempatkannya sebagai petarung terbaik di planet ini sampai terbukti sebaliknya. Karena dialah orang yang ingin saya kalahkan untuk menjadi juara dunia."
Di sisi lain, Makhachev tidak banyak melontarkan kata-kata tidak sopan kepada Garry, meski ia memprediksi pertarungan ini tidak akan bertahan melewati ronde ketiga. Walau laga terakhirnya berlanjut hingga keputusan juri saat merebut sabuk kelas welter, Makhachev dikenal sebagai finisher mematikan dengan teknik ground fight paling berbahaya di MMA.
Garry mengaku sama sekali tidak tersinggung dengan rasa percaya diri Makhachev. Sebagai salah satu petarung paling dominan dalam sejarah UFC, Makhachev dianggap telah membuktikan haknya untuk merasa yakin.
"Saya pikir Islam lebih dari siap untuk 25 menit kekerasan. Dia adalah pria yang berbahaya di setiap ronde," tutur Garry. "Namun, pertarungan tidak sesederhana itu. Ketika dia melangkah ke octagon menghadapi saya pada 16 Agustus, saya punya rencana dan ide sendiri tentang siapa yang akan keluar sebagai pemenang." Jalan Garry menuju sabuk juara tidak sepenuhnya mulus. Setelah meniti tangga peringkat secara konsisten, ia sempat menelan kekalahan perdana dalam kariernya lewat keputusan juri yang ketat dari Shavkat Rakhmonov pada tahun 2024.
Meski menyakitkan, kekalahan tersebut tak menggoyahkan keyakinannya. Garry bangkit dan kembali bekerja keras dengan menumbangkan striker berbahaya asal Brasil, Carlos Prates, diikuti kemenangan impresif atas mantan juara kelas welter, Belal Muhammad, di Doha. Rentetan hasil positif ini mengunci posisinya sebagai penantang utama Makhachev pada pertarungan Sabtu mendatang.
Bagi Garry, laga di UFC 330 bukan sekadar pertarungan perebutan gelar, melainkan pemenuhan atas impian terbesarnya. "Ini adalah takdir yang terpenuhi," pangkas Garry. "Tidak ada fokus lain, tidak ada dorongan lain, tidak ada tujuan lain. Saya ingin menjadi juara dunia. Ketika Anda menjadi juara UFC, Anda dianggap sebagai salah satu petarung terhebat di planet ini. Itulah yang saya inginkan." (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co