PROKAL.CO- Mantan juara dua divisi UFC, Henry Cejudo, melayangkan kritik tajam terhadap penampilan dan mentalitas Ian Machado Garry usai kekalahan mutlak sang petarung dari Islam Makhachev dalam perebutan gelar juara kelas welter di UFC 330. Cejudo menilai Garry menyia-nyiakan kesempatan emas dan bertindak terlalu ramah, baik di luar maupun di dalam oktagon.
Kritik Cejudo berfokus pada sikap Garry yang dinilai tidak mampu menjual pertarungan dan terlampau santai merespons kegagalan meraih sabuk juara. "Setelah penampilan seperti itu, apakah Anda pikir UFC akan memberinya kesempatan bertarung memperebutkan gelar lagi? Terutama karena dia tidak benar-benar menjual pertarungan dan itu terlalu 'kumbaya'. Sungguh konyol. Dana White tidak menyukai hal-hal seperti itu, Anda mendengarnya sendiri langsung darinya," cetus Cejudo.
Ia mengingatkan bahwa di panggung sebesar UFC, petarung tidak hanya dituntut bertanding, tetapi juga harus mampu membangun daya tarik dan tensi pertarungan untuk memikat penonton serta promotor.
"Ian Garry benar-benar melewatkan semua poin penting. Semuanya hanya tentang anak dan istrinya, kesejahteraannya, serta bagaimana dia baru berusia 28 tahun dan masih punya waktu untuk menjadi juara. Pertarungan tidak berjalan seperti itu, Ian. Jika saya harus memberimu nasihat, itu adalah: 'Waktunya adalah sekarang.' Orang-orang terus berkembang dan bertambah kuat, jadi hal-hal tidak selalu berjalan sesuai dugaan," tambah Cejudo.
Di sisi lain, Cejudo memuji dominasi Islam Makhachev yang mengukir sejarah sebagai petarung pertama di UFC dengan 17 kemenangan beruntun. Meski begitu, Cejudo belum menempatkan Makhachev sebagai petarung terbaik sepanjang masa (GOAT), melainkan menggesernya naik menempel posisi atas. Menurut Cejudo, predikat GOAT mutlak masih dipegang oleh Jon Jones, walau ia mengakui pencapaian Makhachev kini mulai melampaui rekor Georges St-Pierre. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co