Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Bukan Orang Romawi! Inilah Sosok Pangeran Persia yang Hampir Merebut Takhta Bizantium

Indra Zakaria • 2026-03-14 13:15:00

Ilustrasi pemberontakan Theophobos.
Ilustrasi pemberontakan Theophobos.

KONSTANTINOPEL – Sejarah mencatat tahun 842 Masehi sebagai masa transisi yang penuh gejolak bagi Kekaisaran Bizantium dan Kekhalifahan Abbasiyah. Di tengah transisi kekuasaan dari Khalifah Al-Mu'tasim ke Al-Wathiq Billah di

Baghdad, sebuah drama pembangkangan besar pecah di daratan Anatolia. Adalah Theophobos (atau Theophas), seorang pangeran Bizantium berdarah Persia, yang mencoba menggoyang takhta Konstantinopel melalui sebuah pemberontakan yang menggetarkan perbatasan dua imperium besar tersebut.

Theophobos bukanlah sosok sembarangan. Ia merupakan pemimpin dari kelompok militer yang dikenal dalam sumber-sumber Bizantium sebagai "Persia Khorasania". Mereka adalah keturunan tawanan perang Persia yang kemudian memeluk Kristen dan mengabdikan diri pada panji Romawi. Meski telah berseragam Bizantium, loyalitas pasukan ini kerap dianggap rapuh karena akar budaya mereka yang berbeda, menjadikan mereka instrumen konflik internal yang sangat berbahaya di masa krisis.

Akar ketegangan ini bermula dari kekalahan memalukan Kaisar Bizantium Theophilus di Pertempuran Amorium pada 838 M melawan tentara al-Mu'tasim. Berusaha memperkuat posisi politiknya pasca kekalahan, Sang Kaisar merangkul Theophobos dan bahkan menikahkannya dengan saudara perempuannya. Hubungan kekerabatan ini melambungkan pengaruh faksi Persia di istana, sebuah langkah yang secara perlahan memicu kecemburuan dan kekhawatiran di kalangan elit aristokrat Bizantium.

Peluang emas bagi Theophobos muncul ketika Kaisar Theophilus wafat pada Januari 842 M. Kekosongan kekuasaan yang ditinggalkan, ditambah dengan naiknya putra mahkota Michael III yang masih bayi di bawah perwalian Permaisuri Theodora, menjadi pemantik api pemberontakan. Didorong oleh rasa tidak puas para pengikutnya terhadap kebijakan istana, Theophobos memproklamirkan diri sebagai kaisar tandingan di wilayah Asia Kecil, mengibarkan panji kemerdekaan dari otoritas sentral di Konstantinopel.

Melihat kekacauan di rumah tangga musuh bebuyutannya, Kekhalifahan Abbasiyah di bawah Al-Wathiq Billah mengambil posisi strategis. Meski tidak memberikan dukungan militer langsung kepada Theophobos, para komandan perbatasan Abbasiyah memanfaatkan keresahan di Anatolia untuk melancarkan serangan-serangan berkala. Bagi Baghdad, pemberontakan ini adalah peluang emas untuk melemahkan struktur internal Bizantium tanpa harus mengerahkan kekuatan penuh dari pusat kekhalifahan.

Namun, ambisi pangeran keturunan Persia ini nyatanya berumur pendek. Permaisuri Theodora bersama faksi elit di Konstantinopel bergerak cepat melakukan manuver politik dan militer. Melalui negosiasi rahasia, pihak istana berhasil memecah belah loyalitas pasukan Persia dan mengisolasi Theophobos di benteng pertahanannya. Riwayat sang pemberontak berakhir tragis pada penghujung tahun 842 atau awal 843 M, di mana ia dieksekusi, sekaligus memadamkan ambisi besar pangeran "Khorasania" tersebut untuk selamanya.(*)

Editor : Indra Zakaria